Betti Alisjahbana : Menjadi Intrapreneur Dan Entrepreneur

By habiburmuhaimin

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id -Sabtu (15/11), untuk kesekian kalinya, Betti Alisjahabana hadir sebagai narasumber. Selain menjadi narasumber dalam rangka "Dies Natalis ke-57 Ikatan Mahasiswa Arsitektur-Gunadharama ITB", Betti pun menjadi pemateri dalam acara bertajuk "On Being an Intrapreneur and Entrepreneur". Dalam acara terakhir ini, Betti mengangkat tiga topik utama yang akan menjadi bahan diskusi, yaitu Entrepreneurship, Intrapreneurship, dan Interpreneurship; Intrapreneur dan innovative; serta Talk Show on Creative Industry.
Acara interaktif antara Betti dan pengunjung yang umumnya mahasiswa S-1 dan MBA SBM ini dimulai pkl. 13.00 - 15.30 di ruang audiotorium lt. 2 gedung SBM ITB. Betti menjelaskan berbagai macam hal yang menyebabkan seseorang tidak memilih menjadi seorang entrepreneur. Masalah 'funding', 'man power', 'strong backing', 'branding/marketing', dan 'fear' merupakan penghalang yang calon Ketua IA-ITB 2007 ini paparkan. Intrapreneur merupakan seorang entrepreneur di dalam suatu perusahaan. Seorang Intrapreneur berusaha mengungkapkan idenya agar diterima oleh perusahaan tempat dia bekerja dengan cara meyakinkan orang tertentu dalam perusahaan tersebut. Hal tersebut berbeda dengan seorang entrepreneur yang tidak terikat dengan suatu perusahaan. Terdapat juga berbagai kelebihan dan kekurangan tersendiri dari seorang entrepreuner dan intrapreneur seperti yang Betti ungkapkan. Dari segi funding dan branding, seorang intrapreneur akan mendapatkan dana dari perusahaan tempat dia bekerja dan bisa menggunakan brand perusahaan. Selanjutnya, interpreneur, menurut Betti, adalah entrepreneur yang menggunakan internet sebagai tempat dan sarana melakukan perniagaan.

Untuk menjadi seorang entrepreneur, lulusan Arsitektur'84 ini menyarankan agar melakukan usaha yang sesuai dengan keahlian dan apa yang kita sukai.  Berbekal kemampuan tentang teknologi yang Betti dapatkan dari IBM selama lebih dari 23 tahun dipadu keahliannya sebagai seorang arsitek mendorong Betti memadukan antara kreatifitas dari seni, inovasi teknologi, dan entrepreneurship dengan membuat perusahaan creative industry. Dia mengungkapkan begitu banyak orang muda yang berkreasi. Indonesia, menurut Presiden Direktur PT. IBM hingga Januari 2008 ini, cocok berkecimpung dalam bisnis kreatif ini. Tak hanya sekadar berbisnis, Betti pun telah menetapkan diri sebagai seorang "angel investor". "Angel investor", menurutnya, merupakan investor yang melakukan investasi jangka panjang sehingga bisa dijadikan batu lompatan bagi entrepreneur muda dengan melakukan semacam mentoring dan sharing experiences. Hal tersebut terlihat dalam diri Betti dengan adanya perubahan prioritas dalam bekerja menjadi 50% komersil dan 50% sosial.

Ketika ditanya oleh pengunjung tentang tantangan beliau ketika beralih dari seorang intrapreneur menjadi entrepreneur, Betti kemudian memaparkan mengenai sulitnya perizinan mendirikan perusahaan. Salah satu prinsip ketika masih bekerja untuk IBM yang dia pegang betul adalah melakukan sesuai aturan. "IBM sudah lama dan akan lama di Indonesia, salah satu cara adalah jangan melanggar hukum", kenangnya sewaktu mengatasi permasalahan bersama IBM yang telah ia tinggalkan.

Nasehat Betti untuk para entrepreneur muda adalah selalu mengevaluasi kemampuan pribadi dan maksimalkan peluang yang ada. Betti juga menambahkan perihal pentingnya integritas dalam hidup. "Berusaha melakukan yang terbaik dari apa yang telah kita sanggupi untuk lakukan dan selalu memberikan nilai tambah yang lebih dibandingkan orang lain lakukan", ungkapnya.

Pengalamannya terlalu berharga untuk tidak diteruskan. Oleh karena itu, Betti Alisjahbana telah berkomitmen ke depan dengan menjadi dosen corporated interpreneurship untuk mahasiswa S-1 SBM.

scan for download