Pidato Rektor ITB pada Wisuda Ketiga ITB Tahun Akademik 2020/2021 (Juli 2021)

Yang saya hormati, Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat, Pimpinan dan Anggota Senat Akademik, Pimpinan dan Anggota Forum Guru Besar, Segenap Dosen dan Tenaga Kependidikan, Para Wisudawan, Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua. Pertama-tama, dengan rasa syukur dan bangga, saya sampaikan selamat kepada seluruh wisudawan Program Doktor, Magister, Profesi Insinyur, dan Sarjana Periode Wisuda Ketiga Institut Teknologi Bandung Tahun Akademik 2020/2021. Pada hari ini, Saudara telah menyandang sebuah gelar baru, yang diberikan oleh ITB sebagai bentuk pengakuan terhadap kompetensi yang telah Saudara raih, dan sekaligus pengingat akan suatu tanggung jawab baru yang Saudara emban, yaitu memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Saya percaya, Saudara telah menjalani tahapan penyelesaian studi dalam situasi yang sangat tidak mudah, yakni situasi pandemi Covid-19. Capaian yang Saudara raih tersebut tentunya merupakan hasil dari jerih payah, kesabaran, dan ketabahan Saudara, serta dukungan moral dan doa dari segenap keluarga dan kerabat. Keberhasilan Saudara adalah keberhasilan kita semua. Untuk itu, mari kita sama-sama panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas Perlindungan, serta limpahan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua. Namun, tanpa mengurangi rasa syukur tersebut, kita semua sedang dalam kondisi yang sangat sulit dan prihatin. Terlebih beberapa hari terakhir ini, kita banyak kehilangan sanak saudara, handai taulan, bahkan anggota keluarga. Pada hari ini, pandemi masih melanda, dan kita semua sedang menjalani berbagai pembatasan kegiatan secara lebih ketat, demi menekan penyebarannya. Upaya ini membutuhkan kebersamaan dan solidaritas kita semua. Pada kesempatan ini, mari kita panjatkan doa ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, agar saudara-saudara kita yang telah berpulang mendapatkan curahan Rahmat dan Ampunan-Nya, mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya, dan mendoakan sebagian dari kita juga sedang berjuang agar pulih sehat kembali dapat berkarya kembali untuk bangsa ini. Karena kita percaya bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Kita bersama-sama akan terus saling membantu dan bersabar, dengan berharap pada kekuatan dari Yang Maha Kuasa. Para wisudawan yang saya banggakan, Pada kesempatan ini ijinkan saya berbagi pandangan tentang apa yang dikenal sebagai lifelong learning, atau pembelajaran sepanjang hayat. Lifelong learning pada dasarnya merupakan sebuah wisdom atau kearifan, bahwa belajar itu sebaiknya tidak berhenti dengan berakhirnya kita menempuh studi formal. Dengan perkataan lain, belajar merupakan hal yang baik untuk terus-menerus kita jalani dalam berbagai area kehidupan baik di tempat kerja, dalam interaksi sosial, maupun di lingkungan keluarga. Lifelong learning memiliki perbedaan dengan formal learning yang kita tempuh di sekolah ataupun di kampus. Ciri dari pembelajaran di sekolah/kampus adalah adanya kurikulum yang telah dirancang, tahapan pembelajaran yang terstruktur, serta tujuan dan target yang telah ditetapkan. Berbeda dengan ini semua, lifelong learning pada umumnya berbentuk infomal, relatif tidak berstruktur, dengan tahapan yang berpola zig-zag, dan tanpa tujuan/target yang tetap. Lifelong learning merupakan praktik pembelajaran yang seseorang lakukan secara sukarela (voluntary), karena adanya motivasi tertentu yang berkaitan dengan lingkungan atau keadaan kehidupan orang tersebut. Dengan didorong oleh motif tersebut, pembelajaran dilakukan dengan cara mengakses dan mengumpulkan sumber-sumber pembelajaran, yang kemudian dikuti dengan latihan-latihan, atau eksplorasi-eksplorasi kognitif, ataupun kontemplasi-kontemplasi. Bentuk dari lifelong learning, misalnya, adalah belajar tentang ketrampilan atau pengetahuan baru dengan menggunakan bahan yang tersedia di Internet, atau dengan bergabung ke forum-forum diskusi informal. Bentuk lainnya adalah dengan membuat catatan tentang hal-hal yang kita kerjakan atau pikirkan, yang kemudian diikuti dengan refleksi-refleksi dan perbaikan-perbaikan. Dengan melakukan ini semua, kita tidak selalu harus belajar hal-hal yang baru, tetapi bisa juga menengok hal-hal yang lama dengan cara berpikir yang baru, dalam situasi yang baru. Jadi pada intinya lifelong learning merupakan cara yang dapat kita tempuh untuk memperluas peluang untuk belajar, meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan dikarenakan kesibukan sehari-hari, baik di tempat kerja maupun di keluarga. Dan praktik pembelajaran tersebut pada prinsipnya dapat dijalankan di sepanjang hayat. Dengan mempraktikkan lifelong learning, manfaat utama yang dapat kita peroleh adalah pengembangan diri kita sendiri sebagai manusia. Menjalankan lifelong learning dapat membuka peluang kita untuk memperluas pergaulan sosial, melalui pertemuan dengan komunitas-komunitas yang memiliki minat yang sama. Selain ini, kalau kita melaksanakan atau on the job learning, atau learning-by-doing atas apa-apa yang rutin kita kerjakan, hal ini membantu kita untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi. Hal ini pada gilirannya dapat membantu dalam promosi karier. Dengan membiasakan diri untuk melakukan learning, maka learning tidak lagi menjadi kegiatan kognitif yang membebani mental, melainkan menjadi sesuatu yang bisa menyenangkan. Lifelong learning juga bisa mengurangi atau menghilangkan berbagai kesalahpahaman di benak kita, dan juga membantu meningkatkan kepercayaan diri. Yang tidak kalah pentingnya, menjalankan lifelong learning akan membuat daya kognitif kita bisa tetap bertahan, dan tidak cepat mengalami kemerosotan seiring dengan berjalannya kehidupan. Meski dapat menimbulkan manfaat yang relatif luas, pelaksanaan lifelong learning juga menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, kita perlu berupaya sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk bisa melakukan learning. Hal ini tidaklah mudah karena dalam kehidupan sehari-hari, kita disibukkan dengan berbagai urusan dan tanggung jawab. Dan selain waktu, learning juga membutuhkan biaya. Tantangan berikutnya, lifelong learning sangat bergantung pada self-motivation, sedangkan mood kita sering turun-naik. Selain ini semua, kita tidak bisa bersandar pada penilaian dan pengakuan publik atas capaian yang kita raih lewat informal learning. Tidak ada gelar baru dan ijazah. Di sini diperlukan cara-cara kreatif untuk mendemonstrasikan keterampilan atau pengetahuan yang kita raih, agar dapat diterima oleh orang-orang lain. Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut di atas, lifelong learning membutuhkan self-motivation dan self-commitment. Para wisudawan yang saya banggakan, Hadirin yang saya hormati, Dalam kurang lebih satu dekade belakangan, di bidang teori organisasi dikenal apa yang disebut dengan istilah VUCA, yaitu singkatan dari volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity. Konsep ini awalnya populer di bidang militer, namun kemudian diadopsi di bidang organisasi dan manajemen. Secara singkat, volatility berkaitan dengan perubahan-perubahan cepat yang terjadi tanpa terduga, atau diluar perkiraan; uncertainty berkenaan dengan keterbatasan kita dalam memprediksi dan mengantisipasi apa-apa yang akan terjadi di masa depan; complexity merujuk pada adanya kesalingterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain, sehingga perubahan pada yang satu menimbulkan perubahan pada hal-hal yang lain; dan ambiguity berkenaan dengan nilai-nilai, ukuran-ukuran, yang tidak lagi berpola ‘hitam-putih’, sehingga pendekatan ‘one size fits all’ dan ‘best practice’ tidak bisa sepenuhnya berlaku. Pandemi Covid-19 yang kini tengah melanda masyarakat dunia dapat kita ambil sebagai contoh dimana seluruh kondisi VUCA itu terpenuhi. Selain ini, perkembangan teknologi digital di abad ke-21 dan meluasnya penggunaan social media juga menimbulkan keadaan seperti yang dicirikan dengan VUCA. Dan sebelum ini semua, perubahan iklim global sebagai akibat emisi gas karbon juga telah menimbulkan kondisi VUCA hingga hari ini. Sebagai konsep, VUCA bukanlah tentang keadaan-keadaan yang buruk ataupun ancaman. Melainkan, VUCA berkaitan dengan paradigma tentang hubungan antara manusia, pengetahuan, dan tatanan kehidupan. Pengetahuan manusia adalah hal yang fundamental bagi perkembangan peradaban. Tanpa pengetahuan tidak akan terjadi perkembangan peradaban. Yang ingin disampaikan melalui konsep VUCA tersebut adalah bahwa kita tidak bisa terlalu dini menyimpulkan bahwa pengetahuan manusia telah mencapai kebenaran yang final, bahwa kriteria penilaian manusia telah mencapai kebaikan yang final. Berbagai peristiwa yang disebut di atas menunjukkan bahwa selalu saja ada hal-hal yang belum diketahui, selalu saja ada kejutan-kejutan, dan bahwa kita tidak selalu bisa melakukan penilaian dengan kriteria yang tunggal dan final. Menurut para pakar, kondisi VUCA itu adalah sebegitu rupa sehingga ‘we don’t know what we don’t know’. Kesadaran akan adanya peristiwa-peristiwa yang bercirikan VUCA tersebut telah mendorong dirumuskannya program-program riset baru yang semakin berpola multi- dan lintas-disiplin yang dilaksanakan secara kolaboratif secara multi-stakeholders, dan juga pengembangan program-program studi baru. Terlepas dari ini semua, berbagai kondisi yang digambarkan dalam VUCA menjadi alasan bagi semakin pentingnya lifelong learning. Para wisudawan yang saya banggakan, Bapak/Ibu yang saya hormati, Dokumen “Platform for Shaping the Future of the New Economy and Society” yang diterbitkan oleh World Economic Forum di akhir tahun 2020 telah memberikan gambaran tentang krisis ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, dan sejumlah catatan berkenaan dengan langkah-langkah pemulihan ekonomi. Di antaranya adalah bahwa pengalaman kita menjalani pandemi akan menjadi sumber inspirasi baru, yang pada gilirannya akan menimbulkan peluang-peluang ekonomi yang baru di masa pasca-pandemi. Selain ini, di masa pra-pandemi tidak semua kondisi telah ideal. Berbagai permasalahan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ada di masa pra-pandemi, akan tetap menjadi permasalahan di masa pasca-pandemi. Dengan perkataan lain, proses pemulihan ekonomi akan memerlukan pembelajaran terhadap peluang-peluang yang baru, serta perbaikan-perbaikan atas kondisi-kondisi di masa pra-pandemi. Saat ini Pemerintah Indonesia telah semakin menggencarkan pelaksanaan vaksinasi, dengan harapan agar bisa mempercepat terbentuknya herd immunity. Pemerintah juga telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara lebih ketat, demi menekan penyebaran Covid-19. Saya percaya bahwa partisipasi kita semua dalam mendukung program vaksinasi dan PPKM tersebut adalah hal yang sangat penting bagi kebaikan kita bersama. Partisipasi tersebut perlu kita lakukan dengan cara berkoordinasi dan berko-operasi dengan segenap lembaga/aparatur pemerintah yang berwenang. Selain ini, kita juga perlu untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak secara lebih dekat dan kontinu, sehingga bisa memberikan respons secara lebih cepat dan tepat terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi. Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada seluruh wisudawan yang telah menyelesaikan studi di Institut Teknologi Bandung, almamater tercinta. Izinkan saya untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada para orang tua, yang telah memercayakan putra-putrinya kepada kami, dan menempuh pendidikan di ITB. Saya berharap Saudara dapat terus berkarya dan berpikiran maju, serta senantiasa memiliki semangat leadership, solidaritas, dan menjalankan lifelong learning, demi memberikan sumbangsih yang nyata bagi bangsa dan negara Indonesia. Prestasi Saudara adalah prestasi ITB, begitu pula prestasi ITB adalah prestasi Saudara. Dalam keharmonian, kita bersama-sama menghadapi masa sulit Dalam keharmonian, kita maju bersama In harmonia progressio Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih melimpahkan Rahmat dan Karunia kepada kita dan seluruh bangsa Indonesia, sehingga kita dapat keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19, dan meraih kehidupan bersama yang lebih baik. Aamiin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bandung, 17 Juli 2021 Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D. Rektor Institut Teknologi Bandung