KEHIDUPAN KEMAHASISWAAN ITB
Mengenal Kehidupan Himpunan di ITB
Bagi mahasiswa, kehidupan kampus tidak hanya berlangsung melalui kegiatan perkuliahan. Di tengah proses memperoleh pengetahuan akademik, mahasiswa juga memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, berkarya, hingga berkontribusi kepada masyarakat. Di Institut Teknologi Bandung (ITB), ruang pengembangan tersebut hadir melalui berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) hingga Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS).
Kegiatan akademik dan organisasi dapat berjalan berdampingan. Perkuliahan memberikan landasan keilmuan sesuai bidang yang dipelajari, sedangkan organisasi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan yang mendukung kehidupan profesional maupun sosial. Karena itu, kehidupan kemahasiswaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman mahasiswa selama menempuh pendidikan di ITB.
Salah satu bentuk organisasi yang dekat dengan kehidupan mahasiswa adalah HMPS. Organisasi ini menjadi wadah bagi mahasiswa yang berasal dari program studi atau bidang keilmuan yang sama untuk berhimpun, bertukar gagasan, mengembangkan potensi, serta menjalankan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan keilmuan dan kehidupan kemahasiswaan.
Dalam praktiknya, setiap HMPS memiliki karakter dan tradisi yang berbeda. Sebagian mengembangkan kegiatan akademik dan keprofesian, sementara lainnya banyak bergerak dalam pengembangan anggota, pengabdian kepada masyarakat, media, kajian, seni, olahraga, maupun kegiatan yang mempererat kekeluargaan. Dengan demikian, HMPS tidak hanya menjadi tempat berkumpul berdasarkan kesamaan program studi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan berkarya bersama.
Dari Himpunan Tertua hingga Generasi Terbaru
Kehidupan berhimpun di ITB telah tumbuh selama puluhan tahun dan terus berkembang mengikuti perubahan bidang keilmuan serta perkembangan institusi. Salah satu tonggak awalnya adalah Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB yang memiliki akar sejarah sejak Desember 1946. Setelahnya, Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) ITB berdiri pada 5 Desember 1949, disusul Himpunan Mahasiswa Biologi “Nymphaea” ITB pada 1 Maret 1951. Ketiganya menjadi bagian dari generasi awal organisasi kemahasiswaan berbasis keilmuan di ITB.
Seiring berkembangnya pendidikan dan bidang keilmuan, semakin banyak himpunan mahasiswa lahir untuk menjadi wadah bagi mahasiswa dari disiplin yang semakin beragam. Perkembangan ini kemudian berjalan beriringan dengan transformasi ITB menjadi perguruan tinggi multikampus, yang memperluas ruang pendidikan dan kehidupan kemahasiswaan hingga di luar Kampus Ganesha, termasuk Jatinangor dan Cirebon.
Di antara generasi himpunan yang lebih baru terdapat Himpunan Mahasiswa Teknik Pangan (HMPG) ITB yang berdiri pada 12 Mei 2017, Himpunan Mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi “RINUVA” (HMTB “RINUVA”) ITB yang berdiri pada 14 Mei 2017, serta Himpunan Mahasiswa Teknologi Pascapanen ‘Vadra’ (HMPP ‘Vadra’) ITB yang berdiri pada 22 Mei 2017. Kehadiran himpunan-himpunan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan berhimpun di ITB terus berkembang mengikuti hadirnya bidang keilmuan baru dan kebutuhan mahasiswa.
Mengenal Beragam Himpunan Mahasiswa di ITB
Seiring berkembangnya bidang keilmuan, jumlah dan ragam organisasi mahasiswa di ITB juga semakin luas. Direktorat Kemahasiswaan ITB saat ini mencatat berbagai organisasi mahasiswa berbentuk himpunan yang berstatus aktif. Di dalamnya terdapat organisasi dari bidang informatika, teknik, sains, desain, bisnis, hingga bidang-bidang ilmu lainnya.
Beberapa himpunan yang tercatat dalam KM ITB antara lain:
FTMD
- Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB
- Keluarga Mahasiswa Penerbangan (KMPN)
- Himpunan Mahasiswa Teknik Material (MTM) ITB
FTI
- Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT) ITB
- Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB
MTI memiliki dua Region Eksekutif yaitu, Region Eksekutif MTI Ganesha dan Region Ekskutif MTI Cirebon
- Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEK) ITB
- Himpunan Mahasiswa Teknik Pangan (HMPG) ITB
- Himpunan Mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi “RINUVA” (HMTB “RINUVA”) ITB
STEI
- Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) ITB
- Ikatan Mahasiswa Telekomunikasi “Signum” (IMT “Signum”) ITB
- Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB
FMIPA
- Himpunan Mahasiswa Matematika dan Aktuaria (HIMATIKA) ITB
- Himpunan Mahasiswa Astronomi (Himastron) ITB
- Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) ITB
- Himpunan Mahasiswa Kimia “AMISCA” (HMK ‘AMISCA’) ITB
SITH-S
- Himpunan Mahasiswa Biologi “Nymphaea” (HIMABIO “Nymphaea”) ITB
- Himpunan Mahasiswa Mikrobiologi “Archaea” (HIMAMIKRO “Archaea”) ITB
FITB
- Himpunan Mahasiswa Meteorologi “Atmosphaira” (HMME “Atmosphaira”) ITB
- Himpunan Mahasiswa Oseanografi “TRITON” (HMO “TRITON”) ITB
TRITON memiliki Komisariat Himpunan Mahasiswa Oseanografi “TRITON” (HMO “TRITON”) ITB untuk mewadahi kemahasiswaan di Kampus Cirebon
- Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi “GEA” (HMTG “GEA”) ITB
- Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ITB
FTTM
- Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB
HMT memiliki Komisariat Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB untuk mewadahi kemahasiswaan di Kampus Cirebon
- Himpunan Mahasiswa Teknik Geofisika “TERRA” (HIMA TG “TERRA”) ITB
- Himpunan Mahasiswa Teknik Geofisika “TERRA” (HIMA TG “TERRA”) ITB Cirebon
- Ikatan Mahasiswa Metalurgi (IMMG) ITB
- Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan “PATRA” (HMTM “PATRA”) ITB
PATRA memiliki Komisariat Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan “PATRA” (HMTM “PATRA”) ITB untuk mewadahi kemahasiswaan di Kampus Cirebon
FTSL
- Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB
- Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB
- Keluarga Mahasiswa Infrastruktur Lingkungan (KMIL) ITB
- Himpunan Mahasiswa Sumber Daya Air (Himasda) ITB
- Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan (KMKL) ITB
SITH-R
- Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB
- Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian “Agrapana” (HIMAREKTA “Agrapana”) ITB
- Himpunan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan ‘Selva’ (HMH ‘Selva’) ITB
- Himpunan Mahasiswa Teknologi Pascapanen ‘Vadra’ (HMPP ‘Vadra’) ITB
SAPPK
- Ikatan Mahasiswa Arsitektur “Gunadharma” (IMA-G) ITB
- Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota “Pangripta Loka” (HMP PL) ITB
HMP memiliki Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota “Pangripta Loka” (HMP PL ITB Komisariat) ITB Komisariat untuk mewadahi kemahasiswaan di Kampus Cirebon
FSRD
- Industrial Design Student Society (INDDES) ITB
- Ikatan Mahasiswa Desain Interior (IMDI) ITB
- Ikatan Pemuda Pemudi Desain Grafis (IPPDIG) ITB
IPPDIG memiliki Badan Semi Otonom Ikatan Pemuda Pemudi Desain Grafis (BSO IPPDIG) ITB untuk mewadahi kemahasiswaan di Kampus Jatinangor
- Tembikar dan Ikat (TERIKAT) ITB
TERIKAT memiliki Komisariat Tembikar dan Ikat (Komisariat TERIKAT) ITB Cirebon untuk mewadahi kemahasiswaan di Kampus Cirebon
- Visual Art Student Aggregate (VASA) ITB
SF
- Himpunan Mahasiswa Farmasi ‘Ars Praeparandi’ (HMF ‘Ars Praeparandi’ ) ITB
SBM
- Keluarga Mahasiswa Manajemen (KMM) ITB
- Ikatan Mahasiswa Kewirausahaan “Artha” (IMK “Artha”) ITB
Setiap Himpunan Memiliki Cerita
Di balik puluhan himpunan yang hidup di ITB, ada banyak cerita kecil yang membuat masing-masing organisasi memiliki warna tersendiri. Ada yang ternyata pernah memiliki nama berbeda, ada yang namanya berasal dari bahasa Latin, hingga ada himpunan yang pada awalnya tidak hanya menaungi mahasiswa dari satu program studi.
HMM ITB, misalnya, ternyata tidak langsung lahir dengan nama yang sekarang. Organisasi yang berdiri pada Desember 1946 itu awalnya bernama Himpunan Mahasiswa Bangunan Mesin dan Listrik (HMBL). Baru pada 1956 nama tersebut berubah menjadi Himpunan Mahasiswa Mesin. Jadi, salah satu himpunan tertua di ITB ternyata pernah membawa nama yang mencerminkan cakupan bidang keilmuan yang berbeda dari sekarang.
Ada pula HMK “AMISCA” ITB yang memiliki cerita unik di balik namanya. AMISCA merupakan singkatan dari Amicorum Scientiae Chemicae Associatio, yang berarti perkumpulan pecinta ilmu kimia. Bahkan ketika pertama kali dibentuk pada 1956, keanggotaannya tidak terbatas pada mahasiswa Kimia saja. Siapa pun yang mencintai ilmu kimia dapat menjadi bagian dari organisasi tersebut. Baru kemudian cakupannya menyempit menjadi himpunan mahasiswa Kimia.
Nama Nymphaea juga bukan sekadar nama yang terdengar cantik. Nymphaea merupakan nama genus tumbuhan teratai dan telah menjadi identitas himpunan mahasiswa Biologi ITB sejak 1951. Menariknya, pada kegiatan pengenalan jurusan pada 2009, Nymphaea bahkan membawa awetan serangga, daun, dan reptil sebagai alat peraga untuk memperkenalkan dunia Biologi kepada siswa SMA.
Himastron ITB juga memiliki cerita awal yang tidak biasa. Himpunan ini berdiri pada 19 Oktober 1965 di Observatorium Bosscha dan diinisiasi oleh mahasiswa Astronomi yang saat itu jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Pada awalnya, organisasi tersebut menggunakan nama HIMASTRO sebelum kemudian menjadi Himastron. Menariknya, selama sekitar enam tahun pertama, Himastron belum memiliki bendera himpunan. Bendera pertama Himastron baru hadir pada 1971 sebagai salah satu penanda eksistensinya dalam kegiatan kemahasiswaan.
Cerita menarik juga datang dari HMTG “GEA” ITB. Sebelum dikenal dengan nama GEA, himpunan ini pernah bernama Perhimpunan Mahasiswa Geologi Bandung (PMGB) dan merupakan pecahan dari Persatuan Mahasiswa Geologi dan Pertambangan (PMGP). Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa identitas sebuah himpunan juga dapat terbentuk melalui perubahan dan pemekaran wadah kemahasiswaan pada masanya.
Sementara itu, HMT ITB punya julukan yang cukup mudah dikenali: “himpunan timur jauh”. Sebutan tersebut berkaitan dengan identitas yang pernah digunakan bersama sejumlah himpunan lain di rumpun kebumian, seperti PATRA, TERRA, GEA, IMMG, dan AMISCA, dalam kegiatan Far East Movement.
Cerita lain datang dari HMS ITB. Identitasnya tidak hanya hadir melalui nama, tetapi juga melalui visual yang lekat dengan dunia teknik sipil. Lambang HMS menggambarkan seorang ahli Teknik Sipil yang mengenakan helm pengaman proyek, dengan latar konstruksi yang telah selesai dibangun. Bahkan warna jaket himpunannya juga menjadi bagian dari identitas: hijau tua.
Cerita-cerita kecil seperti ini menunjukkan bahwa sebuah himpunan tidak hanya dapat dikenali dari nama program studi atau tahun berdirinya. Di balik setiap nama terdapat perubahan zaman, istilah yang diwariskan, simbol yang dipertahankan, hingga kebiasaan dan kegiatan yang membentuk identitasnya.
Ketika ITB Berkembang Menjadi Multikampus
Perjalanan organisasi mahasiswa ITB kemudian memasuki babak baru ketika ITB mulai mengembangkan sistem multikampus. Perubahan ini tidak hanya memperluas ruang akademik ITB ke lokasi lain, tetapi juga membawa tradisi kehidupan kemahasiswaan ke lingkungan yang berbeda.
Gagasan pengembangan ITB sebagai perguruan tinggi multikampus mulai memperoleh pijakan penting pada 31 Desember 2010 melalui kerjasama ITB dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait pengelolaan lahan pendidikan di Jatinangor dan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Dalam perkembangannya, sistem multikampus ITB kemudian mencakup Kampus Ganesha, Kampus Jatinangor, dan Kampus Cirebon.
Jatinangor dan Lahirnya Tradisi Berhimpun di Kampus Multikampus
Kampus ITB Jatinangor diresmikan pada 26 Juli 2013. Seiring berkembangnya kegiatan akademik di lokasi tersebut, kehidupan kemahasiswaan juga ikut tumbuh. Namun, perkembangan organisasi mahasiswa di Jatinangor telah memiliki tonggak yang tercatat sejak sebelum peresmian kampus tersebut.
Dalam catatan sejarah kemahasiswaan multikampus ITB, 27 Maret 2013 menjadi salah satu tonggak penting ketika mahasiswa Program Studi Rekayasa Hayati mendirikan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH). HMRH kemudian tercatat sebagai salah satu himpunan awal dalam perkembangan kehidupan kemahasiswaan di Kampus Jatinangor.
Perkembangan tersebut kemudian diikuti oleh lahirnya berbagai himpunan lainnya. Himpunan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan (HMH) berdiri pada 9 Desember 2014, Himpunan Mahasiswa Sumber Daya Air (Himasda) pada 23 Maret 2015, dan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian (HIMAREKTA “Agrapana”) pada 11 April 2015. Himpunan Mahasiswa Teknologi Pascapanen “Vadra” (HMPP ‘Vadra’) kemudian resmi dibentuk pada 22 Mei 2017.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Jatinangor bukan hanya menjadi lokasi baru bagi kegiatan akademik ITB. Sejak masa awal perkembangannya, Jatinangor juga menjadi salah satu ruang tumbuhnya tradisi berhimpun baru. Mahasiswa membangun organisasi untuk menjawab kebutuhan akademik, pengembangan anggota, keprofesian, maupun kehidupan sosial di lingkungan kampus.
Perkembangan kehidupan kemahasiswaan tersebut juga terlihat dalam berbagai kegiatan lintas himpunan. Pada 2019, misalnya, diselenggarakan Olimpiade Jatinangor yang mempertemukan berbagai himpunan di lingkungan multikampus dan turut melibatkan mahasiswa Kampus Cirebon yang pada saat itu masih menjalani aktivitas akademiknya di Jatinangor.
Dari Jatinangor Menuju Cirebon
Perkembangan kehidupan kemahasiswaan di Kampus Cirebon tidak dapat dilepaskan dari perjalanan ITB sebagai perguruan tinggi multikampus. Ketika ITB Kampus Cirebon mulai menerima mahasiswa pada 2016, mahasiswa dari sejumlah program studi yang ditempatkan di Cirebon belum langsung menjalani seluruh kegiatan akademiknya di Cirebon. Pada masa awal tersebut, mahasiswa masih menjalani perkuliahan di Kampus Jatinangor.
Fase ini menjadi bagian penting dalam pembentukan kehidupan kemahasiswaan generasi awal Cirebon. Mahasiswa dari program studi seperti Teknik Industri dan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) mulai membangun ruang interaksi dan organisasi untuk mengakomodasi kebutuhan mereka sebagai mahasiswa yang berada dalam lingkungan multikampus.
Salah satu perkembangan yang terdokumentasi terjadi pada mahasiswa PWK. Forum Mahasiswa PWK Cirebon kemudian menyusun AD/ART dan membahas bentuk organisasi yang sesuai dengan kondisi mahasiswa Cirebon. Proses tersebut melahirkan Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota “Pangripta Loka” (HMP PL) ITB Komisariat, yang kepengurusannya tercatat mulai dibentuk pada 26 April 2018.
Ketika aktivitas akademik di Cirebon semakin berkembang, kebutuhan untuk memiliki ruang kemahasiswaan di lokasi tersebut ikut meningkat. Salah satu bentuk yang digunakan adalah komisariat, yang memungkinkan mahasiswa tetap terhubung dengan himpunan induknya sekaligus menjalankan kegiatan kemahasiswaan di kampus yang berbeda.
Model tersebut terlihat pada sejumlah himpunan yang memiliki wadah kemahasiswaan di Cirebon, seperti HMO “TRITON”, HMT, HMTM “PATRA”, HMP Pangripta Loka, dan TERIKAT. Keberadaan wadah-wadah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kehidupan kemahasiswaan di Cirebon pada banyak kasus masih berlangsung dalam hubungan kelembagaan dengan himpunan induk yang telah berkembang di Kampus Ganesha.
Hal ini juga terlihat pada Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB yang dalam perkembangannya memiliki mahasiswa dan aktivitas baik di Ganesha maupun Cirebon, dengan adanya Region Eksekutif MTI Ganesha dan Region Eksekutif MTI Cirebon. Dengan demikian, hubungan antara himpunan dan mahasiswa di berbagai kampus tidak selalu berbentuk organisasi yang sepenuhnya berdiri sendiri. Dalam sejumlah kasus, hubungan tersebut masih berlangsung melalui himpunan induk dan bentuk organisasi turunannya.
Meskipun sejumlah pembentukan organisasi telah memiliki catatan historis, dokumentasi mengenai awal pembentukan dan perkembangan seluruh wadah kemahasiswaan di Cirebon belum tersedia secara komprehensif. Karena itu, perkembangan organisasi mahasiswa di Cirebon belum dapat ditempatkan secara menyeluruh dalam satu urutan sejarah berdasarkan tahun berdiri sebagaimana himpunan-himpunan yang telah lama berkembang di Ganesha.
Menjaga Tradisi sekaligus Membuka Ruang Baru
Perjalanan dari Ganesha, Jatinangor, hingga Cirebon memperlihatkan bagaimana kehidupan kemahasiswaan ITB beradaptasi dengan perubahan institusi. Himpunan-himpunan yang telah berdiri selama puluhan tahun tetap menjadi bagian penting dari identitas mahasiswa ITB, sementara perkembangan program studi dan sistem multikampus menghadirkan kebutuhan akan bentuk-bentuk organisasi baru.
Karena itu, perkembangan kehidupan kemahasiswaan ITB tidak hanya berbicara tentang bertambahnya jumlah himpunan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tradisi dapat berpindah tempat, beradaptasi, dan menemukan bentuk baru. Keberadaan himpunan di lebih dari satu kampus, komisariat, region, hingga kegiatan lintas program studi menjadi bagian dari proses tersebut.
Pada akhirnya, mengenal HMPS ITB adalah usaha untuk mengetahui cerita di balik setiap himpunan. Di dalamnya terdapat perjalanan mahasiswa yang belajar, berdiskusi, membangun tradisi, mengembangkan keilmuan, dan mencari cara untuk tetap terhubung di tengah perubahan.
Dari Ganesha, Jatinangor, hingga Cirebon, perjalanan tersebut menjadi bagian dari sejarah kehidupan kemahasiswaan ITB. Dan seiring ITB terus berkembang sebagai perguruan tinggi multikampus, kehidupan organisasi mahasiswa pun akan terus beradaptasi untuk menjaga tradisi yang telah diwariskan, sekaligus membuka ruang baru bagi generasi yang akan datang.
Referensi:
Tim Mamet Refleksi Akbar KM ITB 2021. (2021). Sebuah cerita organisasi mahasiswa [Dokumen internal].
Institut Teknologi Bandung. (n.d.). Sejarah Kampus ITB Jatinangor. https://jatinangor.itb.ac.id/sejarah-kampus-itb-jatinangor/
Institut Teknologi Bandung. (n.d). Tentang ITB Kampus Cirebon.https://cirebon.itb.ac.id/tentang-itb-kampus-cirebon/