Duta Besar Inggris Kunjungi Observatorium Bosscha, Melihat Jejak Sejarah dan Teknologi Astronomi ITB

Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


LEMBANG, itb.ac.id — Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO OBE, mengunjungi Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (29/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, delegasi mengenal perjalanan panjang Observatorium Bosscha, fasilitas astronomi modern yang dikembangkan melalui kolaborasi internasional, hingga upaya preservasi instrumen dan data astronomi bersejarah.

Dominic Jermey hadir bersama delegasi British Embassy Jakarta dan British Council Indonesia, termasuk Summer Xia, Country Director British Council Indonesia. Rombongan diterima oleh Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Aep Patah, Ph.D., Kepala Observatorium Bosscha Dr.rer.nat. Hesti Retno Tri Wulandari, S.Si., M.Si., beserta para astronom dari ITB, antara lain Prof. Dhani Herdiwijaya Prof. Taufiq Hidajat, dan Prof. Dra. Premana Wardayanti Premadi, Ph.D..

Kunjungan ke Observatorium Bosscha merupakan bagian dari rangkaian agenda Dominic Jermey di kawasan Bandung. Salah satu agenda yang berkaitan dengan kunjungannya adalah pameran “Setanah, Tak Diam: Merawat dan Membentuk Masa Depan di Tanah Bergerak” di Selasar Sunaryo Art Space, yang turut melibatkan peneliti ITB, BRIN, British Geological Survey (BGS), dan sejumlah mitra nasional maupun internasional.

Observatorium Bosscha dipilih sebagai salah satu lokasi kunjungan, selain merupakan bagian dari ITB dan memiliki nilai historis bagi kawasan Bandung, lokasinya juga memiliki relevansi dengan dinamika lingkungan dan sesar di kawasan Lembang.

Melihat Teknologi Astronomi Modern di VGOS

Rangkaian kunjungan dimulai di fasilitas Very Long Baseline Interferometry Global Observing System (VGOS). Fasilitas tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana Observatorium Bosscha terus mengikuti perkembangan teknologi astronomi sekaligus membangun jejaring internasional.

VGOS di Observatorium Bosscha dikembangkan melalui kolaborasi internasional antara ITB dan Shanghai Astronomical Observatory, yang merupakan bagian dari Chinese Academy of Sciences. Teknologi tersebut merupakan salah satu teknologi mutakhir dalam observasi radio, khususnya dengan teknik Very Long Baseline Interferometry (VLBI).

Dari fasilitas modern tersebut, rombongan melihat sisi historis Observatorium Bosscha melalui Ruang Pameran Sejarah. Ruangan itu menyimpan berbagai instrumen yang pernah digunakan untuk pengamatan astronomi. Instrumen tersebut memiliki nilai penting karena menjadi bagian dari perjalanan penelitian astronomi di Indonesia.

Dr. Hesti menjelaskan bahwa pada masa awal pendiriannya, Observatorium Bosscha merupakan salah satu dari sedikit observatorium yang berada di belahan bumi selatan. Karena banyak observatorium pada masa tersebut berlokasi di belahan bumi utara, data pengamatan yang dihasilkan dari Bosscha memiliki arti penting bagi komunitas astronomi internasional.

“Observatorium Bosscha pada saat didirikan adalah satu dari hanya tiga observatorium di belahan bumi selatan, sehingga data-datanya sangat ditunggu oleh masyarakat internasional,” ujarnya.

Merawat Teleskop Zeiss yang Mendekati Satu Abad

Delegasi kemudian mengunjungi Gedung Koepel, rumah bagi Teleskop Refraktor Ganda Zeiss yang menjadi salah satu ikon Observatorium Bosscha.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat teleskop Zeiss sekaligus koleksi plaat atau pelat fotografi astronomi yang menjadi bagian dari dokumentasi panjang aktivitas pengamatan di Bosscha.

Dr. Hesti mengatakan, keberadaan teleskop yang telah digunakan hampir satu abad tersebut bukan hanya menjadi penanda sejarah perkembangan astronomi Indonesia, tetapi juga menunjukkan kemampuan untuk menjaga instrumen sains agar tetap dapat berfungsi dalam kondisi baik.

“Teleskop sudah hampir 100 tahun dan kita masih menjaganya. Bangsa Indonesia bisa merawatnya dengan baik sehingga tetap berfungsi dan tetap bisa digunakan dalam kondisi yang baik,” katanya.

Sejumlah komponen telah mengalami modernisasi mengikuti perkembangan teknologi, tetapi fungsi utama serta karakter historis teleskop tetap dipertahankan.

“Bosscha ini semacam etalase tempat negara lain dapat melihat bahwa dalam sains dan teknologi, Indonesia terus berupaya berkontribusi dan terus mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Rekam Jejak Kolaborasi dengan Inggris

Kunjungan tersebut juga membuka percakapan mengenai hubungan internasional Observatorium Bosscha, khususnya dengan komunitas sains dan lembaga di Inggris.

Observatorium Bosscha memiliki rekam jejak hubungan dengan ilmuwan Inggris. Salah satunya melalui dukungan Newton Fund yang pernah diperoleh astronom Observatorium Bosscha untuk menjalankan kolaborasi dengan astronom di Inggris.

Selain itu, upaya Observatorium Bosscha dalam melakukan preservasi arsip serta koleksi pelat fotografi data astronomi juga pernah menarik perhatian British Library.

Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, Ph.D. mengatakan bahwa kunjungan tamu internasional menunjukkan posisi Observatorium Bosscha yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga memperoleh perhatian dari komunitas internasional.

“Kunjungan ini sangat strategis untuk kolaborasi ke depan dan pengembangan Bosscha FMIPA ITB. Ini membuktikan bahwa Bosscha tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga direkognisi di tingkat internasional,” ujarnya.


Menurutnya, perhatian internasional terhadap Bosscha juga tercermin dari berbagai kunjungan tokoh dunia ke observatorium tersebut. Salah satunya adalah peraih Nobel Fisika Brian Schmidt, yang pernah berkunjung ke Observatorium Bosscha.

#itb #observatorium bosscha #fmipa itb #duta besar inggris #astronomi #riset #vgos #vlbi #teleskop zeiss #kolaborasi internasional #sains dan teknologi #sdg 4 #quality education #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 11 #sustainable cities and communities #sdg 17 #partnerships for the goals