Harman Subakat: Budaya Organisasi Berperan Penting dalam Pertumbuhan Berkelanjutan
Oleh Giancarla Verlyn Ferdinan - Mahasiswa Manajemen, 2024
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id — Bagaimana sebuah organisasi dapat terus bertumbuh tanpa kehilangan nilai dan tujuan yang menjadi dasar keberadaannya? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Studium Generale Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Group CEO ParagonCorp, Harman Subakat, bertema “Ketika Nilai Menjadi Energi Pertumbuhan: Belajar dari Transformasi ParagonCorp dalam Membangun Bisnis yang Bertumbuh", pada Rabu (9/9/2026) di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha.
Melalui pengalaman transformasi organisasi, Harman mengajak mahasiswa memahami bagaimana nilai dapat diterjemahkan menjadi sistem manajemen, bagaimana budaya memengaruhi produktivitas, serta bagaimana inovasi dan teknologi mendukung organisasi menghadapi perubahan.
Budaya Organisasi sebagai Fondasi
Harman menjelaskan bahwa nilai organisasi perlu menjadi bagian dari cara bekerja dan pengambilan keputusan, bukan sekadar pernyataan tertulis. Ia mencontohkan bagaimana nilai-nilai di ParagonCorp diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, termasuk kepedulian, kerendahan hati, ketangguhan, dan kemauan untuk terus belajar.
Menurutnya, inovasi membutuhkan keterbukaan terhadap perspektif baru, kemampuan memahami kebutuhan orang lain, serta ketangguhan untuk mewujudkan gagasan. Dengan demikian, budaya organisasi memiliki hubungan erat dengan kemampuan organisasi untuk berkembang.
Ia juga memperkenalkan prinsip “Mari kembali menjadi manusia” sebagai pengingat bahwa sistem, proses, dan target perlu dirancang dengan memperhatikan manusia yang menjalankannya.
“Center of gravity dari semuanya itu seharusnya manusia,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Harman membahas Creating a Growth Reaction Chain, yakni bagaimana energi positif dalam organisasi dapat mendorong rangkaian perubahan dan pertumbuhan. Sebaliknya, cultural entropy, seperti ketidakpercayaan, konflik, dan perilaku disfungsional, dapat menghambat produktivitas.
Menghubungkan Gagasan dengan Pelaksanaan
.jpg)
Pembahasan kemudian berlanjut pada hubungan antara kewirausahaan dan manajemen. Harman menjelaskan bahwa kewirausahaan berperan dalam mengubah gagasan menjadi tujuan, sedangkan manajemen memastikan tujuan tersebut dapat diwujudkan melalui perencanaan dan pelaksanaan.
Ia mencontohkan pendekatan “Rasa–Cerita–Nyata” dalam Paragon Management System (PARMASYS), yang menggambarkan proses menerjemahkan aspirasi menjadi inisiatif dan tindakan nyata. Pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan nilai, strategi, dan aktivitas organisasi agar tujuan tidak berhenti pada tataran konsep.
"Hal ini memberikan gambaran mengenai penerapan konsep manajemen dalam menghadapi persoalan organisasi, mulai dari penyelarasan tujuan hingga pengembangan budaya kerja yang mendukung inovasi," tuturnya.
Inovasi dan Teknologi untuk Menghadapi Perubahan
Harman turut menyoroti pentingnya organisasi mengembangkan cara kerja yang adaptif. Ia membagikan contoh percepatan pengembangan produk baru atau New Product Development (NPD), yang menunjukkan bagaimana proses kerja dapat ditinjau kembali untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas inovasi.
Menurutnya, teknologi dan data dapat membantu organisasi mengambil keputusan, tetapi tetap perlu dilengkapi dengan kemampuan manusia untuk memahami konteks, membaca situasi, dan melihat peluang.
“AI tidak akan menggantikan manusia, tapi manusia yang tidak dapat menggunakan AI bisa tergantikan,” katanya.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya pembelajaran berkelanjutan dan kemampuan beradaptasi di tengah perkembangan teknologi.
Beliau pun mengajak mahasiswa memandang pertumbuhan sebagai sarana untuk memperluas manfaat.
“Bukan mengejar tumbuh dulu baru bermanfaat, tetapi karena kita ingin bermanfaat maka kita ingin tumbuh,” ujarnya.
Melalui Studium Generale ini, mahasiswa memperoleh perspektif mengenai keterkaitan antara nilai, budaya organisasi, manajemen, dan inovasi. Pembelajaran tersebut menjadi bekal untuk memahami bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan mengelola organisasi serta kepedulian terhadap manusia agar dapat menghasilkan kontribusi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

.jpg)

.png)