PMB ITB 2026: Perkuat Kolaborasi Beasiswa dan Sambut Mahasiswa dari 22 Negara

Oleh Aura Salsabila Alviona - Mahasiswa Bioteknologi, 2025

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menyambut 8.945 mahasiswa baru untuk Tahun Akademik 2026/2027 dalam Sidang Terbuka di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Rabu (5/8/2026). Jumlah tersebut terdiri atas 5.468 mahasiswa program sarjana dan 3.477 mahasiswa program pascasarjana.

Penerimaan tahun ini menunjukkan semangat inklusivitas dengan kehadiran mahasiswa sarjana dari 38 provinsi di Indonesia. Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan bahwa ITB berkomitmen menjadi institusi yang terbuka bagi talenta terbaik bangsa. Hal ini menjadi capaian penting mengingat ketatnya persaingan masuk tahun ini, dengan tingkat penerimaan ITB berada di bawah 4 persen.

“Masuk ke ITB hanyalah langkah awal. Kami berharap para mahasiswa dapat berproses dengan baik agar nantinya mampu membawa Indonesia naik kelas,” ujar Prof. Tata.


Peningkatan Penyaluran Keringanan UKT dan Beasiswa

Untuk menjamin akses pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi, ITB memperkuat skema bantuan finansial. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., mengatakan, ITB menerima hampir 100 mahasiswa dari daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T), serta mahasiswa internasional dari 22 negara. Hal ini didukung oleh dana beasiswa yang terus meningkat, dari Rp50 miliar pada 2020 menjadi Rp120 miliar pada 2025. Hingga Agustus 2026, dana yang terkumpul dari mitra dan CSR perusahaan telah mencapai Rp90 miliar.

Dampak Kolaborasi: Delapan Siswa CT Arsa Foundation Tembus ITB

Salah satu bukti nyata inklusivitas ITB terlihat dari diterimanya delapan mahasiswa binaan CT Arsa Foundation, sebuah angka yang meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Para mahasiswa ini membawa cerita perjuangan dari berbagai daerah, mulai dari Purworejo, Boyolali, dan Karanganyar di Jawa Tengah, hingga Medan dan Tebing Tinggi di Sumatera Utara. Kini, mereka tersebar di berbagai fakultas seperti FMIPA, SITH, STEI-R, dan FITB.

Keberhasilan menembus ketatnya seleksi ITB ini bukanlah proses instan. Sejak kelas 11, mereka telah menjalani program pemadatan kurikulum yang disiplin untuk menyelesaikan materi sekolah lebih awal, sehingga semester akhir dapat difokuskan sepenuhnya pada persiapan UTBK.

Strategi mereka cukup konsisten, yaitu rutin mengevaluasi hasil dari puluhan simulasi ujian (try out) dan memperkuat nilai pada subtes literasi yang sering kali terabaikan oleh peserta lain. Beberapa di antaranya bahkan mengaku awalnya tidak menyangka bisa lolos dan hanya mencoba karena dorongan kuat dari guru.

Kerja keras ini diapresiasi oleh Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Dr. N. Nurlaela Arief, yang menekankan pentingnya pendampingan intensif bagi siswa daerah agar mampu bersaing di tingkat nasional. Rektor ITB pun menilai mahasiswa binaan filantropi ini memiliki kualitas unggul karena telah melewati proses saringan internal yang sangat ketat di yayasan mereka.

Kini, setelah resmi menjadi mahasiswa, tanggung jawab baru telah menanti. Sebagai penerima beasiswa, target utama mereka adalah menjaga IPK tetap di atas 3,00 sekaligus beradaptasi dengan ritme belajar ITB yang kompetitif. Selain fokus akademik untuk mengejar jurusan impian, mereka juga bertekad aktif dalam organisasi dan perlombaan untuk memperkuat portofolio menuju masa depan.

Menutup rangkaian penyambutan, Prof. Tata berpesan agar seluruh mahasiswa baru tidak ragu untuk bereksplorasi. "Jangan takut gagal dan jangan hanya kuliah lalu pulang. Gunakan waktu yang singkat ini untuk tumbuh, membangun jejaring, dan bekerja sama demi prestasi terbaik," ujarnya.

#pmb itb 2026 #inklusivitas pendidikan