Tim Ekspedisi Patriot ITB Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Distrik Yapsi melalui Pelatihan dan Pendampingan

Oleh --- -

Editor Muhammad Efriza Pandia


KABUPATEN JAYAPURA, itb.ac.id - Penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung pelayanan kesehatan di Kawasan Transmigrasi (KT) Lereh, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Papua. Hasil asesmen Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Bandung (ITB) 2026 Kluster Kesehatan menunjukkan bahwa 82,4 persen responden belum pernah mengikuti pelatihan atau membutuhkan penyegaran kompetensi.

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar bagi TEP 2026 untuk mendorong peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader di wilayah Yapsi melalui pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Asesmen dilakukan melalui kuesioner, wawancara dengan tenaga kesehatan dan kader, observasi lapangan, serta pengolahan dan analisis data di UPTD Puskesmas Yapsi dan sejumlah Puskesmas Pembantu (Pustu). Pemetaan mencakup kapasitas tenaga kesehatan dan kader, kebutuhan pelatihan, ketersediaan obat dan alat kesehatan, kendala pelayanan, serta sistem rujukan.

Kebutuhan Pelatihan Berbasis Kondisi Lapangan
Hasil asesmen menunjukkan masih terdapat perbedaan kapasitas dan ketersediaan sarana antar-Pustu. Sejumlah fasilitas juga menghadapi keterbatasan obat dan alat kesehatan, antara lain oksigen, nebulizer, hecting set, dan partus set.

Selain peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, penguatan juga dibutuhkan bagi kader Posyandu dan kader malaria. Kompetensi yang diperlukan mencakup pemantauan tumbuh kembang dan stunting, deteksi dini penyakit, pengenalan tanda bahaya, pencegahan malaria, pengendalian vektor, sanitasi, hingga rujukan.


Ketua Tim Ekspedisi Patriot 2026 Kluster Kesehatan, apt. Yangie Dwi Marga Pinanga, Ph.D., menekankan bahwa peningkatan kompetensi perlu disesuaikan dengan tugas dan kebutuhan masing-masing tenaga kesehatan. "Pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS), misalnya, diarahkan bagi perawat, sedangkan Asuhan Persalinan Normal (APN) ditujukan bagi bidan. Sementara itu, pelatihan kegawatdaruratan dapat dikembangkan untuk lintas profesi," ujarnya.

Dari Temuan Menjadi Tindak Lanjut
Kebutuhan yang teridentifikasi tersebut tidak berhenti pada pemetaan. TEP 2026 merencanakan sejumlah pelatihan, antara lain Swamedikasi dan Dagusibu, BTCLS, APN, serta pengelolaan obat dan peralatan kesehatan.

Pelaksanaan pelatihan akan disesuaikan dengan kondisi dan jadwal pelayanan di masing-masing Pustu. Program juga direncanakan dilengkapi dengan pendampingan pascapelatihan sehingga peningkatan kapasitas dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pelayanan kesehatan.


Langkah tersebut menjadi penting mengingat tantangan pelayanan kesehatan di Yapsi tidak hanya berkaitan dengan kapasitas sumber daya manusia, tetapi juga keterbatasan sarana, obat-obatan, air bersih, akses internet, transportasi, serta kondisi geografis wilayah. Hasil survei dan observasi TEP 2026 juga menemukan malaria sebagai salah satu persoalan kesehatan yang menonjol, disertai penyakit kulit, flu dan batuk, ISPA, diare, nyeri sendi, serta kecelakaan kerja.

Dengan demikian, penguatan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dari upaya membangun pelayanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat setempat.

Menguatkan Layanan dari Tingkat Puskesmas dan Pustu
Upaya peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari pendekatan TEP 2026 yang berangkat dari kondisi nyata di lapangan. Kepala Puskesmas Yapsi, dr. Maryon, menyambut baik kolaborasi dengan Tim Ekspedisi Patriot dan berharap kerja sama tersebut dapat memberikan manfaat bagi peningkatan pelayanan di Puskesmas maupun Pustu di Distrik Yapsi.

Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Yeni Safitri, S.Si., Apt., juga mengapresiasi kontribusi ITB dalam mendukung penguatan pelayanan kesehatan di Yapsi. "Semoga kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut dan menghasilkan langkah-langkah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi pelayanan di lapangan," ungkapnya.


Selain penguatan kapasitas sumber daya manusia, TEP 2026 juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk mendukung layanan kesehatan. Salah satunya melalui pengembangan Lerehfarma.id yang diarahkan untuk membantu akses informasi fasilitas kesehatan, obat-obatan, edukasi kesehatan, data penyakit, serta penyampaian laporan atau pengaduan masyarakat.

Dalam pengembangannya, Lerehfarma.id juga mendapatkan masukan dari tenaga kesehatan mengenai kebutuhan integrasi dengan sistem yang telah digunakan Puskesmas dan Pustu, pengelolaan data, mekanisme pengaduan, serta keterbatasan akses internet di sejumlah wilayah. Masukan tersebut menjadi bahan untuk menyempurnakan sistem agar lebih sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di Yapsi.

Melalui penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pendampingan kader, serta pemanfaatan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, TEP 2026 diharapkan dapat turut memperkuat pelayanan kesehatan yang lebih responsif dan berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi Lereh, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura.

#tim patriot #ekspedisi patriot #pengabdian masyarakat #sdg3 #good health and well being #sdg4 #quality education #sdg17 #partnerships for the goals