Ar-kick, Inovasi Dosen ITB untuk Latihan Sepak Bola Mandiri Berbasis Sport Science
Oleh Anggun Nindita -
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Berlatih passing, shooting, hingga mengontrol bola biasanya membutuhkan lapangan dan setidaknya satu rekan berlatih. Namun, bagaimana jika berbagai teknik dasar sepak bola dapat dilatih seorang diri, bahkan di ruang yang relatif terbatas? Gagasan tersebut diwujudkan oleh Dosen Kelompok Keahlian (KK) Fisika Nuklir dan Biofisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Asril Pramutadi Andi Mustari, S.Si., M.Eng., melalui alat latihan sepak bola mandiri bernama Ar-kick.
"Ar-kick dikenakan pada tubuh menggunakan pengikat (harness) di bagian dada dan menghubungkan pemain dengan bola. Dengan mekanisme tersebut, bola dapat kembali ke jangkauan pemain setelah ditendang sehingga latihan dapat dilakukan berulang kali tanpa harus terus-menerus mengambil bola," katanya.
Alat tersebut memungkinkan pemain melatih beragam teknik, mulai dari passing, shooting, kontrol menggunakan dada dan lutut, sundulan, hingga half-volley. Riset pengembangannya sejak awal diarahkan untuk menghadirkan alat yang memungkinkan latihan teknik dasar sepak bola dilakukan secara mandiri dan di ruang terbatas.
Berawal dari Cedera Bahu di Jepang
.jpg)
Gagasan Ar-kick tidak bermula di lapangan sepak bola, melainkan ketika Dr. Asril mengalami cedera bahu saat berada di Jepang pada 2014. Ketika itu, ia menggunakan alat medis penopang tulang selangka. Bentuk alat tersebut kemudian memantik ide: bagaimana jika prinsip serupa digunakan sebagai penyangga alat latihan sepak bola?
"Ide tersebut lalu dipadukan dengan tempat penyimpan bola dan dikembangkan menjadi perangkat yang dapat dikenakan pada tubuh. Setelah melalui proses pengembangan, alat tersebut mulai diproduksi dan diuji coba di Indonesia sekitar 2016," katanya.
Desain Ar-kick dibuat dengan mempertimbangkan fungsi sekaligus kenyamanan. Dalam publikasi ilmiah pengembangannya, perangkat tersebut terdiri atas penggantung di dada, tali penghubung, dan tempat bola.
"Bagian penggantung dibuat menyerupai tas punggung dan dilengkapi pelindung dada. Sementara itu, tali penghubung menggunakan tali karmantel agar kuat serta tidak memberikan efek perlambatan seperti material elastis," paparnya.
Mengejar Ribuan Sentuhan dengan Bola
Bagi Dr. Asril, salah satu kunci membangun kemampuan pemain sejak usia dini adalah repetisi. Teknik dasar tidak cukup hanya dipahami, tetapi perlu dilakukan berulang kali hingga gerakannya semakin terbiasa.
Dengan Ar-kick, seorang pemain dapat melakukan hingga sekitar 1.000 tendangan dalam 15 menit latihan, baik menggunakan kaki kanan maupun kiri. Intensitas tersebut menjadi salah satu alasan alat ini kemudian lebih difokuskan untuk pemain usia dini dan siswa sekolah sepak bola (SSB).
"Hal itu sejalan dengan kajian awal pengembangannya yang menekankan pentingnya pengulangan dalam membentuk penguasaan bola. Semakin sering pemain berinteraksi dengan bola, semakin besar kesempatan untuk membiasakan gerakan dasar agar dapat dilakukan secara lebih alami saat bermain," tuturnya.
Awalnya Ar-kick dipasarkan untuk pengguna secara umum. Namun, dalam perkembangannya, manfaat alat tersebut dinilai lebih relevan untuk pembinaan pemain muda. Latihan mandiri memungkinkan anak memperbanyak sentuhan dengan bola di luar sesi latihan bersama pelatih. Hingga kini, alat tersebut telah digunakan oleh lebih dari 2.000 pengguna.
"Keuntungan lainnya adalah pemain dapat membiasakan kaki non-dominan. Anak yang terbiasa menendang dengan kaki kanan, misalnya, dapat memberikan porsi latihan khusus pada kaki kiri tanpa harus menunggu sesi latihan bersama," lanjutnya.
Ketika Sepak Bola Bertemu Fisika
Latar belakang Dr. Asril sebagai akademisi fisika turut memberi perspektif berbeda dalam pengembangan Ar-kick. Gerakan menendang bola tidak semata dilihat sebagai keterampilan olahraga, tetapi juga sebagai fenomena fisika yang dapat diamati dan diukur.
Dalam penelitian pengembangannya, gerakan pengguna dianalisis secara kualitatif dengan membandingkan posisi tubuh pengguna alat dan pemain profesional. Analisis menunjukkan bahwa alat tersebut dapat digunakan untuk menyimulasikan sejumlah teknik, seperti passing, kontrol bola dengan dada, hingga side-volley.
Pendekatan kuantitatif juga dilakukan menggunakan perangkat lunak pelacak gerakan untuk membaca parameter biomekanika. Pada analisis teknik shooting, misalnya, energi kinetik bola tercatat sekitar 7 joule sesaat sebelum bola bertemu punggung kaki. Jika gerakan dilakukan hingga 1.000 kali, repetisi tersebut menggambarkan besarnya aktivitas fisik yang dilakukan pemain selama latihan.
"Pendekatan semacam ini menunjukkan peran sport science: latihan tidak hanya dinilai berdasarkan banyaknya tendangan, tetapi juga dapat dipelajari melalui mekanika gerak, kecepatan, gaya, energi, dan konsistensi teknik," ucapnya.
Memperkuat Fondasi Pemain Sejak Usia Dini
Ar-kick pada akhirnya bukan dimaksudkan untuk menggantikan pelatih ataupun latihan bersama tim. Alat ini menjadi pendamping untuk memperbanyak kesempatan pemain mengasah keterampilan dasar secara mandiri.
Hal tersebut menjadi penting karena kualitas permainan di level tinggi berangkat dari penguasaan fundamental, yakni akurasi passing, kualitas shooting, kontrol bola, serta kemampuan menggunakan kedua kaki. Ketika kemampuan tersebut dapat dilatih secara konsisten sejak usia dini, pemain memiliki fondasi teknik yang lebih kuat saat memasuki jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Dari sisi mekanis, pengembangan Ar-kick saat ini dinilai telah cukup matang. Pengembangannya pernah menjajaki penambahan komponen elektronik berupa penghitung tendangan otomatis ketika diuji di Jepang. Kini, perhatian Dr. Asril mulai bergeser pada pengembangan berbagai perangkat pendukung latihan olahraga lainnya.
Mendorong Kolaborasi Sport Science Indonesia
Bagi Dr. Asril, teknologi olahraga memiliki ruang pengembangan yang luas di Indonesia. Namun, kemajuannya membutuhkan pertemuan dua dunia, yaitu praktisi yang memahami persoalan nyata di lapangan dan akademisi yang memiliki kemampuan sains serta rekayasa untuk mencari solusinya. Ia mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pelatih, praktisi olahraga, federasi, dan perguruan tinggi. Kampus dengan kekuatan di bidang sains dan teknologi seperti ITB, misalnya, dapat berkontribusi melalui riset biomekanika, instrumentasi, analisis data, hingga pengembangan perangkat latihan.
"Dukungan lembaga olahraga, termasuk PSSI, juga dinilai penting agar penelitian dan inovasi sport science dapat berkembang secara berkelanjutan serta menjawab kebutuhan pembinaan sepak bola nasional," tuturnya.


