ITB Gelar Temu Mitra Industri 2026, Penguatan Mutu Pendidikan dan Pengembangan Kompetensi Sesuai Kebutuhan Kerja di Masa Depan

Oleh Anggun Nindita

Editor Anggun Nindita

BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier menyelenggarakan Temu Mitra Industri 2026 di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Kamis (7/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara ITB dan pelaku industri untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan karier, peningkatan relevansi kurikulum, serta pemetaan kebutuhan kompetensi lulusan.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 75 mitra industri dengan lebih dari 120 peserta. Forum ini membahas berbagai peluang kerja sama antara ITB dan industri, mulai dari pengembangan kurikulum, magang, pelatihan, kolaborasi riset, hingga penguatan kompetensi mahasiswa dan alumni.

Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Pengembangan Karier ITB, Prof. Ir. Ardiyan Harimawan, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya ITB untuk mendengar langsung masukan industri mengenai keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja saat ini dan masa depan.

Menurutnya, kolaborasi dengan industri penting untuk memastikan proses pendidikan, pengembangan karier, dan kebutuhan dunia kerja dapat berjalan semakin selaras. Forum ini juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas, baik dalam pengembangan program, peningkatan kapasitas mahasiswa, maupun penguatan jejaring alumni.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menekankan pentingnya tracer study sebagai instrumen untuk mengukur relevansi pendidikan dengan dunia kerja. Berdasarkan data tersebut, 69 persen alumni merasa kurikulum yang mereka tempuh relevan dengan dunia kerja.


Namun, Prof. Irwan menyampaikan bahwa kebutuhan keterampilan berubah sangat cepat. Perkembangan kecerdasan artifisial, digitalisasi, dan ekonomi hijau mendorong ITB untuk terus meninjau kurikulum dan mengantisipasi kebutuhan kompetensi masa depan.

“Kebutuhan akan skill kini berubah lebih cepat. Mengubah mindset lebih sulit daripada mengubah kurikulum. Karena itu, fakultas dan sekolah perlu mengejar fase perubahan yang cepat sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Irwan mengajak mitra industri untuk bersama-sama membangun ekosistem pengembangan kurikulum. Menurutnya, lulusan saat ini tidak hanya membutuhkan penguasaan teori, tetapi juga pengalaman nyata, kemampuan menyelesaikan persoalan kompleks, problem solving, serta kecerdasan emosi.

“Dalam momen ini, saya mengajak Bapak dan Ibu untuk turut co-create kurikulum bersama ITB. Mari kita desain satu ekosistem yang memungkinkan perguruan tinggi dan industri bersama-sama merancang pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” katanya.

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., mengapresiasi inisiatif ITB dalam membuka ruang diskusi bersama industri. Menurutnya, langkah ini penting agar lulusan perguruan tinggi memiliki profil kompetensi yang semakin sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.


Dalam paparannya, Prof. Yassierli menyoroti tantangan strategis ketenagakerjaan, antara lain penguatan balai latihan kerja dan matching competency, peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja, penciptaan pekerjaan layak dan inklusif, serta pengembangan labor market information system. Ia menekankan bahwa transformasi ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan lapangan kerja, tetapi juga pengembangan manusia secara utuh.

Ketua Satuan Penjaminan Mutu ITB, Prof. Dr.Eng. Suprijadi, M.Eng., turut memaparkan sistem peningkatan mutu pendidikan berbasis masukan industri. Ia menyampaikan bahwa penjaminan mutu pendidikan di ITB diarahkan untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan mampu memberikan dampak nyata.

Dalam paparannya, Prof. Suprijadi menjelaskan bahwa masukan industri menjadi bagian penting dalam siklus perbaikan berkelanjutan. Industri tidak hanya berperan sebagai pengguna lulusan, tetapi juga sebagai mitra dalam merumuskan kebutuhan kompetensi, mengevaluasi kinerja lulusan, serta menyediakan ruang pembelajaran berbasis pengalaman, seperti magang, capstone project, dan kolaborasi riset.

Pendekatan tersebut juga selaras dengan outcomes based education (OBE), penyusunan capaian pembelajaran lulusan, pengembangan kurikulum, proses pembelajaran, asesmen, hingga evaluasi kinerja lulusan di dunia kerja. Melalui mekanisme seperti employer survey, tracer study, diskusi industri, dan advisory board, ITB berupaya mengintegrasikan masukan industri secara sistematis dalam peningkatan mutu pendidikan.

Temu Mitra Industri 2026 juga menghadirkan sejumlah sesi diskusi bersama mitra perusahaan. Pada sesi pertama, perwakilan dari Paragon, Boeing, dan Bank Mandiri membahas kompetensi teknis, termasuk penggunaan kecerdasan artifisial atau AI, yang dibutuhkan lulusan untuk berkembang di industri.

Sesi kedua menghadirkan mitra perusahaan dari Uniqlo, MIND ID, dan Danone yang membahas karakter dan soft skills di dunia kerja, seperti kerja sama, motivasi, kemampuan beradaptasi, etika, empati, serta kompetensi interpersonal lainnya.


Selain itu, kegiatan ini menghadirkan paparan program microcredential, sertifikasi profesional, Program Magister Multidisiplin, dan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) sebagai bagian dari upaya ITB menyediakan skema pembelajaran berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Melalui Temu Mitra Industri 2026, ITB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan dunia industri. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kurikulum yang adaptif, memperluas peluang karier mahasiswa dan alumni, serta menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam menjawab tantangan masyarakat, industri, dan bangsa.

#ditlumnier #industri #temu mitra industri #itb berdampak #diktisaintekberdampak #kompetensi