Duta Besar Singapura Berbagi Wawasan tentang Talenta Global
Oleh Jekky - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2023
Editor Muhammad Efriza Pandia
BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi tuan rumah sesi The Ambassador Talks yang menghadirkan Duta Besar Republik Singapura untuk Indonesia, H.E. Kwok Fook Seng, pada Kamis (4/6/2026), di Nemangkawi Auditorium, Labtek XIX, SBM Freeport Building Lantai 6, Kampus ITB Ganesha. Kegiatan yang dimoderatori oleh Dr. Nila A. Windasari ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan mengenai peluang riset, inovasi, dan pengembangan karier global di Singapura.
Dalam sambutannya, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Duta Besar Kwok. Ia menekankan pentingnya sesi tersebut dalam memperkuat kerja sama ASEAN sekaligus mendorong terjadinya brain circulation antarnegara.
Prof. Tatacipta menjelaskan bahwa hubungan kolaboratif antara ITB dan Singapura telah terjalin selama lebih dari tiga dekade sejak 1993. “Saat ini, kerja sama tersebut mencakup berbagai institusi terkemuka, seperti National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore Management University (SMU), Singapore Institute of Technology (SIT), Temasek Polytechnic, LASALLE College of the Arts, AI Singapore, hingga mitra industri seperti Intel Technology Asia,” ujar Rektor ITB.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk berpikir melampaui batas, memanfaatkan peluang internasional, membangun jejaring global, serta mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Singapura sebagai Mitra Strategis Jangka Panjang
Dalam pemaparannya, H.E. Kwok Fook Seng menyampaikan bahwa Singapura telah menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia selama lebih dari satu dekade. Dalam satu tahun terakhir, nilai investasi Singapura di Indonesia mencapai sekitar 20 miliar dolar AS. Menurutnya, hal tersebut mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan dan komitmen jangka panjang antara kedua negara, sekaligus membuka ruang yang luas bagi kolaborasi akademik maupun industri.
Ia menegaskan bahwa berbagai peluang bagi mahasiswa Indonesia di Singapura telah tersedia dan dapat dimanfaatkan sejak dini. “Pintunya sudah terbuka,” ujarnya.
Duta Besar Kwok mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai jalur yang tersedia, mulai dari program pertukaran pelajar, summer school, program gelar ganda, hingga kesempatan magang dan penempatan kerja.
“Mulailah lebih awal,” tegasnya.
Menurutnya, magang tidak hanya menjadi sarana memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga merupakan salah satu jalur rekrutmen yang banyak digunakan perusahaan untuk mengenali dan menilai calon talenta sebelum mereka lulus.
Peluang di Sektor Energi, AI, dan Ekonomi Digital
Duta Besar Kwok menyoroti sejumlah sektor yang diperkirakan akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan global talent di masa depan, yakni energi, data dan kecerdasan buatan (AI), keberlanjutan (sustainability), serta sektor jasa (services).
Pada sektor energi, ia menilai Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, khususnya di bidang energi terbarukan. Dengan potensi energi terbarukan yang mencapai sekitar 3.700 GW dan kebutuhan energi Singapura yang hanya sekitar 20 GW, terbuka peluang kolaborasi yang luas dalam pengembangan energi hijau, perdagangan sertifikat energi terbarukan, hingga pasar karbon lintas negara.
Selain energi, data menjadi aset strategis yang semakin menentukan daya saing suatu negara. "Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun kemampuan analisis data yang kuat agar mampu menghasilkan inovasi dan mengambil keputusan berbasis bukti," ungkapnya.
Di bidang AI, Duta Besar Kwok mengingatkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu menerapkannya untuk menyelesaikan berbagai persoalan nyata sesuai bidang keahlian masing-masing.
Ia juga menekankan pentingnya aspek keberlanjutan dalam pengembangan inovasi dan bisnis. Menurutnya, berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim dan transisi energi, membutuhkan solusi yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.
Sementara itu, sektor jasa dipandang akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan berbasis pengetahuan, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi digital. Sektor ini dinilai menawarkan peluang karier yang luas bagi generasi muda yang memiliki kemampuan kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah yang baik.
Inovasi, Adaptasi Pasar, dan Kekayaan Intelektual
Selain itu, Duta Besar Kwok turut menyoroti tantangan yang sering dihadapi para pendiri startup generasi pertama, yaitu kurangnya perhatian terhadap adaptasi pasar lokal.
Menurutnya, inovasi yang tidak disertai pemahaman terhadap karakteristik dan perilaku pasar setempat sering kali sulit berkembang. Ia memberikan contoh bagaimana bisnis kuliner perlu menyesuaikan produknya di setiap daerah, sementara startup digital perlu melakukan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan pasar yang lebih spesifik dan kompetitif.
Terkait kekayaan intelektual, ia mendorong mahasiswa dan peneliti untuk melindungi hasil invensinya melalui mekanisme yang tepat, sekaligus aktif mengomersialisasikan dan membagikan inovasi guna menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Pesan untuk Mahasiswa
Menutup sesi diskusi, Duta Besar Kwok menegaskan bahwa keberhasilan di tingkat global tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kualitas kemanusiaan, seperti empati, kemampuan beradaptasi, dan kepekaan terhadap kebutuhan pasar.
Ia mendorong mahasiswa untuk membangun fondasi keilmuan yang kuat, mengembangkan pendekatan lintas disiplin, serta memanfaatkan data untuk menghasilkan solusi secara cepat dan tepat.
"Banyak tantangan nyata saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dari satu perspektif akademik, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai bidang ilmu," tuturnya.
Selain itu, ia mengajak mahasiswa untuk mempersiapkan diri menjadi bagian dari global talent yang mampu berkontribusi di tingkat internasional melalui penguasaan teknologi, pemahaman terhadap isu keberlanjutan, serta kemampuan beradaptasi di tengah perubahan yang cepat.
Melalui kegiatan The Ambassador Talks ini, mahasiswa ITB memperoleh wawasan mengenai peluang kolaborasi internasional dan sektor-sektor strategis masa depan, sekaligus kompetensi yang diperlukan untuk berkontribusi dalam riset, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.






