Orasi Ilmiah Prof. Tri Suciati: Teknologi Formulasi untuk Modulasi Mikrolingkungan Regeneratif Jaringan pada Penyakit Degeneratif
Oleh Indah Marcelinawati - Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Prof. apt. Tri Suciati, M.Si., Ph.D., Guru Besar dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Teknologi Formulasi untuk Modulasi Mikrolingkungan Regeneratif Jaringan pada Penyakit Degeneratif”, di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (8/8/2026). Orasi ilmiah tersebut membahas pengembangan teknologi formulasi sebagai pendekatan untuk memodulasi mikrolingkungan regeneratif jaringan, khususnya dalam menghadapi kerusakan jaringan yang berkaitan dengan stres oksidatif dan penyakit degeneratif.
Prof. Tri Suciati menjelaskan bahwa penyakit degeneratif merupakan salah satu tantangan kesehatan yang terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup dan faktor risiko metabolik. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian adalah diabetes. Permasalahan diabetes tidak hanya berkaitan dengan tingginya kadar glukosa darah, tetapi juga dampak jangka panjangnya terhadap berbagai organ.
Menurutnya, kondisi hiperglikemia dapat meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS) atau radikal bebas. Dalam jumlah yang terkontrol, ROS sebenarnya memiliki peran penting dalam berbagai proses biologis, seperti migrasi sel, pertahanan terhadap infeksi, dan perbaikan jaringan. Namun, produksi ROS yang berlebihan dapat menyebabkan stres oksidatif, memicu inflamasi, serta mengganggu proses regenerasi jaringan.
Ia menjelaskan, mikrolingkungan regeneratif merupakan kondisi di sekitar sel yang menentukan kemampuan jaringan untuk melakukan perbaikan. Dalam kondisi normal, tubuh memiliki sistem antioksidan yang membantu menjaga keseimbangan ROS. Namun, pada kondisi stres oksidatif yang berlebihan, respons inflamasi dapat menjadi dominan dan menyebabkan kerusakan pada sel, pembuluh darah, serta matriks ekstraselular.
Teknologi Formulasi Tingkatkan Penghantaran Bahan Bioaktif
“Salah satu strategi untuk memperbaiki mikrolingkungan regeneratif jaringan adalah memanfaatkan senyawa bioaktif tanaman seperti flavonoid dan kurkumin. Senyawa ini mengaktifkan sistem antioksidan endogen serta menekan ROS dan inflamasi sehingga membantu memulihkan keseimbangan redoks,” ujarnya.
Namun, pemanfaatan senyawa bioaktif masih menghadapi tantangan berupa kelarutan, stabilitas, dan ketersediaan hayati yang rendah. Untuk mengatasi persoalan tersebut, teknologi formulasi dikembangkan melalui berbagai sistem penghantaran, seperti nanoemulsi, solid lipid nanoparticles (SLN), nanostructured lipid carriers (NLC), dan liposom. Sistem penghantaran tersebut menggunakan lipid dan bahan penstabil untuk membentuk pembawa berukuran nanometer. Karakteristik tersebut memungkinkan bahan aktif berinteraksi dengan membran sel, meningkatkan penetrasi jaringan, dan membantu penghantaran menuju lokasi intraselular.
Dalam pengembangannya, NLC berbasis lesitin dan polisorbat 80 dimodifikasi dengan artin M, yaitu senyawa yang diisolasi dari biji cempedak. Modifikasi ini bertujuan menjaga kestabilan rifampisin sekaligus membantu sel menyerap obat dengan lebih baik. Artin M juga berperan dalam mengaktifkan respons sel imun sehingga diharapkan dapat membantu menghantarkan rifampisin menuju mikroba yang dapat bertahan di dalam sel.
Teknologi Formulasi Dikembangkan untuk Mendukung Regenerasi Jaringan
Salah satu sistem yang dikembangkan adalah nanoemulsi Pickering untuk meningkatkan penghantaran senyawa bioaktif. Pengujian pada model kerusakan ginjal menunjukkan potensi sistem tersebut dalam menekan stres oksidatif dan mendukung perlindungan jaringan.
Teknologi serupa juga dikembangkan menggunakan ekstrak kemangi serta formulasi topikal berbahan ekstrak sirih bumi dan beta-glukan. Pada pengujian in vivo, formulasi menunjukkan potensi mempercepat proses penyembuhan luka, dengan luka mulai mengering dan menutup pada hari ketiga serta hampir menutup sempurna pada hari ke-14.
Selain nanoemulsi, pengembangan dilakukan melalui scaffold nanofiber dan hidrogel yang berfungsi sebagai matriks untuk mendukung pertumbuhan dan regenerasi sel. Teknologi ini kemudian dikembangkan untuk rekayasa jaringan tulang menggunakan scaffold berbasis hidroksiapatit.
Pengembangan microparticle-based scaffold juga dilakukan untuk mengatur pelepasan growth factor sesuai kebutuhan selama proses regenerasi jaringan.
Teknologi formulasi turut dikembangkan melalui pemanfaatan probiotik dan postbiotik untuk mendukung kesehatan kulit dan saluran pencernaan. Selain itu, hidrogel dikembangkan untuk menjaga stabilitas ekstrak edelweiss dalam formulasi kosmetik.
Berbagai pengembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi formulasi dapat diarahkan tidak hanya untuk penghantaran bahan aktif, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang mendukung proses regenerasi jaringan.
Menuju Teknologi Penghantaran yang Bioresponsif
Ke depan, sistem penghantaran bahan aktif diarahkan untuk berkembang dari pembawa pasif menjadi platform yang mampu merespons kondisi patologis jaringan. Salah satu arah riset yang dikembangkan adalah co-delivery antioksidan dan sekretom dalam hidrogel, yang kemudian diarahkan menuju pengembangan microneedle regeneratif dan bioresponsif untuk luka diabetes.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan teknologi formulasi membutuhkan kolaborasi multidisiplin, mulai dari standardisasi bahan alam, ekstraksi, formulasi, scale-up, manufaktur, hingga translasi klinis. Integrasi data proteomik dan genomik dengan artificial intelligence juga berpotensi membantu memetakan sinergisme berbagai komponen dengan banyak target biologis.
“Pencegahan komplikasi kronis diabetes memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Penderita diabetes perlu didukung untuk menjalani terapi dan melakukan pencegahan sejak dini, sementara tenaga medis dapat memanfaatkan inovasi teknologi formulasi untuk meningkatkan efektivitas intervensi,” katanya.
Ia pun menegaskan pentingnya validasi riset secara berjenjang, mulai dari proof of concept, validasi skala laboratorium, scale-up, hingga validasi skala industri. Melalui kolaborasi lintas bidang, pengembangan teknologi formulasi diharapkan dapat menghasilkan inovasi kesehatan yang efektif, bermutu, terjangkau, serta memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

.jpeg)



