ITB Perkuat Pemulihan Pascabencana di Sumatra melalui Aksi Kemanusiaan dan Kolaborasi Lintas Sektor

Oleh Nattaya Syailendra - Mahasiswa Rekayasa Kehutanan, 2022

Editor Anggun Nindita

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. bersilaturahmi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., di Aceh, Jumat (26/12/2025) lalu.

BANDA ACEH, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Kemitraan (DPMK) terus menunjukkan komitmen dalam aksi kemanusiaan serta pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera.

Bersama Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., rangkaian kunjungan dan kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan sebagai wujud sinergi keilmuan, kepedulian sosial, dan penguatan kolaborasi lintas sektor untuk merespons dampak bencana.

Perkuat Kolaborasi Kemanusiaan di Wilayah Terdampak

Rektor ITB mengunjungi sejumlah wilayah terdampak, meliputi Banda Aceh, Bener Meriah, Lhokseumawe, dan Aceh Utara (Keude Bungkaih dan Lhok Puuk), Langsa, Aceh Tamiang, Tanjung Pura, hingga Medan. Di Banda Aceh, Rektor ITB bertemu dengan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Kepala BNPB, Wali Kota Banda Aceh, Anggota DPR RI asal Aceh, serta Wakil Gubernur Aceh.

Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi kemanusiaan sekaligus menguatkan peran perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan pascabencana di Sumatera, khususnya pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Dokumentasi lengkap rangkaian kegiatan ini termuat dalam buku Bangkit dari Hidup Penuh Lumpur.

Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Pemulihan Bencana

Sebagai tindak lanjut, ITB menginisiasi rencana pembentukan konsorsium perguruan tinggi untuk pemulihan bencana di Sumatera. Inisiatif tersebut diwujudkan melalui Workshop dan Galeri Abhinaya yang diselenggarakan pada Selasa (12/01/2026) di Galeri Soemardja ITB. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari BNPB dan JICA serta diikuti berbagai perguruan tinggi, antara lain USK, Unimal, Unsam, USU, Unand, UNP, UI, IPB, ITB, UGM, UNS, ITS, UNESA, dan UNAIR. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi turut memberikan sambutan.

Galeri Abhinaya berlangsung hingga Minggu (18/01/2026). Penguatan konsorsium juga dilanjutkan melalui pertemuan di Universitas Indonesia pada Rabu (14/01/2026) yang dihadiri Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemendiktisaintek serta para pimpinan perguruan tinggi.

Fokus Bantuan Air Bersih dan Layanan Esensial

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. beserta jajaran, bersilaturahmi dengan Wali Kota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal, di Aceh, Jumat (26/12/2025). Prof. Tata menyampaikan berbagai program pengabdian masyarakat dan bantuan berupa sembako hingga instalasi pengelolaan air hasil kolaborasi antara ITB dengan Ikatan Alumni ITB, YPM Masjid Salman ITB, Rumah Amal Salman, Pengda IA ITB Aceh, IA ITB Sumatera Barat, dan IA ITB Sumatera Utara.

Di lapangan, ITB bekerja sama dengan Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) di wilayah terdampak serta Rumah Amal Salman (RAS) sejak 28 November 2025. Salah satu fokus utama bantuan ialah penyediaan air bersih melalui pengiriman Instalasi Pengolahan Air (IPA) IGW Membran Ultra Filtrasi (MUF). Sebanyak enam unit IPA MUF dibawa langsung ke Aceh, sementara 41 unit lainnya dikirim ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menggunakan pesawat Hercules melalui koordinasi dengan BNPB dan TNI AU.

Selain itu, IA-ITB mengirimkan satu unit Starlink untuk mendukung akses internet serta alat pengolah air berkapasitas sekitar 1.000 liter per jam. Hingga kini, perangkat tersebut telah terpasang di 35 dari 50 titik yang direncanakan berkat dukungan dana alumni dan masyarakat.

ITB juga menurunkan alat pengolah air berkapasitas lebih besar, mencapai 7.000 liter per jam, yang dioperasikan di wilayah Aceh Tamiang untuk mengolah air sungai yang keruh menjadi air bersih. Bantuan lain yang disalurkan meliputi paket sembako, bahan bakar memasak, serta Al-Qur’an (khususnya di wilayah Aceh). Sejak 12 Januari 2026, bantuan di lapangan juga diperkuat melalui pengoperasian alat berat, seperti ekskavator mini, untuk membersihkan lumpur di jalan dan rumah warga.

“Kebutuhan paling mendesak yang kami temui di lapangan adalah akses terhadap air bersih. Banyak sumber air masyarakat tertutup lumpur dan tidak layak konsumsi, sehingga penyediaan air siap minum menjadi prioritas utama,” ujar Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof. Dr.-Ing. Zulfiadi, S.T., M.T.

Turunkan Tim Lintas Fakultas/Sekolah untuk Kesehatan dan Psikososial
Keterlibatan sivitas akademika ITB tercermin dari penugasan empat tim dosen dan mahasiswa lintas fakultas dan sekolah. Tim tersebut berasal dari Sekolah Farmasi (SF), Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), serta Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK).

Tim-tim ini memperoleh pendanaan dari Kemendiktisaintek dan melaksanakan pengabdian masyarakat di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Kegiatan yang dilakukan mencakup penyaluran bantuan logistik, pemeriksaan kesehatan, layanan pengobatan, hingga pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak, bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat, TNI/Polri, serta pemerintah daerah. Selain layanan kesehatan, dukungan psikososial juga menjadi perhatian, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu.

Hadapi Tantangan Akses, Perkuat Koordinasi Lapangan
Meski demikian, pelaksanaan bantuan tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan akses menuju lokasi terdampak akibat rusaknya infrastruktur menjadi kendala dalam distribusi bantuan dan mobilisasi relawan.

“Koordinasi intensif dengan BNPB, TNI/Polri, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar bantuan tetap dapat menjangkau masyarakat,” jelasnya.

Pengalaman di lapangan semakin menguatkan komitmen ITB untuk berkontribusi tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga pada pemulihan jangka panjang. Dalam jangka pendek, ITB berharap bantuan ini dapat membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat agar mereka dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Sementara dalam jangka panjang, ITB menargetkan peran strategis dalam rehabilitasi, rekonstruksi, serta penguatan kapasitas mitigasi bencana.

Replikasi Model Pengabdian untuk Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Ke depan, ITB melalui DPMK berencana mereplikasi pola pengabdian masyarakat ini di wilayah rawan bencana lainnya di Indonesia. Program akan dikembangkan sebagai model berkelanjutan, mulai dari tanggap darurat hingga mitigasi dan kesiapsiagaan, dengan pendekatan berbasis kebutuhan lapangan dan karakteristik bencana.

Kolaborasi multipihak bersama BNPB/BPBD, pemerintah daerah, perguruan tinggi, IA-ITB di daerah, serta mitra filantropi akan terus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat.

#itb #dpmk #pemulihan pascabencana #sumatra #sdg3 #good health and well being #sdg6 #clean water and sanitation #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg13 #climate action #sdg17 #partnerships for the goals