Jadikan Sampah Peluang Ekonomi, Tim Ekspedisi Patriot ITB Dorong Inovasi Pengelolaan Sampah di Yapsi, Jayapura
Oleh -
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Foto bersama audiens FGD, Lereh, Kabupaten Jayapura, Sabtu, 19 September 2026.
JAYAPURA, itb.ac.id — Tim 16 Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Bandung (ITB) 2026 menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai pengelolaan persampahan di Balai Kampung Bumi Sahaja (SP 2), Distrik Yapsi, Kawasan Transmigrasi Lereh, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Sabtu, 19 September 2026.
Kegiatan ini menjadi wadah untuk memaparkan temuan awal kondisi persampahan sekaligus menggali permasalahan, kebutuhan, dan potensi pengelolaan sampah di kawasan tersebut. FGD dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, Pemerintah Distrik Yapsi, kepala kampung dari enam kampung transmigran (SP), perwakilan dinas pendidikan, aparat keamanan, serta masyarakat setempat.
Kegiatan mendapat respons positif dari peserta. Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, Sandi Nusantara, SP., M.KP., menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut.
“Kami mendukung adanya kegiatan ini. Kami berharap warga aktif memberikan masukan, khususnya dalam pengelolaan sampah, agar lingkungan kita tetap terjaga,” ujarnya.
Sampah Plastik: Dari Permasalahan Menjadi Potensi

Sesi FGD tema infrastruktur persampahan bersama warga dipimpin oleh Prof. Dr. Mochammad Chaerul, S.T., M.T., Lereh, Kabupaten Jayapura, Sabtu 19 September 2026.
Sesi awal FGD membahas kondisi pengelolaan sampah di Distrik Yapsi, khususnya praktik pembakaran sampah plastik yang masih dilakukan masyarakat. Ketua Tim 16 Ekspedisi Patriot ITB, Prof. Dr. Mochammad Chaerul, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pembakaran sampah plastik dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan lingkungan.
Dalam diskusi, masyarakat menyampaikan bahwa praktik pembakaran dilakukan salah satunya karena belum tersedianya tempat penampungan sementara (TPS) yang memadai.
Sebagai salah satu alternatif, Tim Ekspedisi Patriot ITB menghadirkan Dr. Darwanta, M.Si., Dosen Kimia Universitas Cenderawasih, yang memaparkan inovasi pengolahan sampah plastik sebagai sumber energi alternatif dan bahan bangunan.

Penyerahan sertifikat narasumber oleh Ketua Tim 16 Pak Prof. Dr. Mochammad Chaerul, S.T., M.T. (kiri), kepada Dr. Darwanta, M.Si. (kanan), Lereh, Kabupaten Jayapura, Sabtu, 19 September 2026.
Melalui proses pirolisis, sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar. Menurut Dr. Darwanta, teknologi tersebut telah diuji melalui pabrik percontohan di Universitas Cenderawasih. Ia menyampaikan bahwa hasil pengolahan berupa BBM memiliki karakteristik yang setara dengan Premium dan berpotensi menjadi salah satu alternatif pemanfaatan sampah plastik sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Selain diolah menjadi bahan bakar, sampah plastik juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam pembuatan batako dan paving block. Pemanfaatan ini dapat menjadi alternatif untuk jenis sampah plastik tertentu yang sulit diolah menjadi bahan bakar, seperti gelas plastik dan bungkus oli.
Sampah plastik juga disebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai material yang menyerupai aspal. Namun, pemanfaatan tersebut masih memerlukan penelitian dan pengujian lebih lanjut.
Sampah Organik dan Potensi Black Soldier Fly
Permasalahan persampahan di Distrik Yapsi tidak hanya berasal dari sampah anorganik, tetapi juga sampah organik. Berdasarkan diskusi, jenis sampah organik yang banyak dihasilkan di tingkat rumah tangga meliputi sisa makanan, kotoran hewan, serta sampah rumput dan taman.
Perwakilan sekolah menyampaikan bahwa sisa makanan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi dalam pengelolaannya.
Sementara itu, warga SP 6 menyampaikan bahwa sisa makanan selama ini umumnya dibuang atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak ayam. Warga SP 2 juga mengungkapkan bahwa kotoran ternak masih menjadi salah satu jenis sampah yang belum dikelola secara optimal.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Tim 16 Ekspedisi Patriot menjelaskan beberapa alternatif pengolahan sampah organik berdasarkan karakteristiknya. Sampah daun, sampah taman, dan kotoran sapi dapat dimanfaatkan untuk pengomposan. Kotoran sapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber energi berupa biogas.
Sementara itu, untuk pengolahan sisa makanan, Black Soldier Fly (BSF) ditawarkan sebagai salah satu alternatif solusi yang akan dikembangkan melalui pilot project Tim 16 Ekspedisi Patriot di Distrik Yapsi.
BSF berpotensi membentuk rantai pemanfaatan baru dalam pengelolaan sampah organik. Larva dan pupa BSF dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan residu pengolahan berupa kasgot (bekas maggot) dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan media tanam yang kaya nutrisi.

Penyerahan sertifikat narasumber oleh Kabid Kebersihan DLH Kabupaten Jayapura, Sandi Nusantara, S.P., M.KP. (kiri) kepada Dr. Himawan, M.Si. (kanan), Lereh, Kabupaten Jayapura, Sabtu, 19 September 2026.
Dr. Himawan, M.Si., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa BSF memiliki siklus hidup yang relatif singkat sehingga proses produksinya tidak membutuhkan waktu yang panjang. Dengan demikian, pengembangan BSF diharapkan tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil olahan bagi masyarakat.
Melalui FGD ini, Tim 16 Ekspedisi Patriot ITB 2026 berharap dapat memperoleh masukan langsung dari masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai dasar pengembangan strategi pengelolaan persampahan di Kawasan Transmigrasi Lereh. Berbagai alternatif pengolahan, mulai dari pemanfaatan sampah plastik hingga pengembangan BSF untuk sampah organik, diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

.jpg)

.jpg)


