NSGE 2026 Digelar di ITB, Bahas Inovasi Geosains untuk Masa Depan Berkelanjutan

Oleh Anggun Nindita

Editor Anggun Nindita

BANDUNG, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan European Association of Geoscientists and Engineers (EAGE) dan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), menyelenggarakan The 8th Asia Pacific Meeting on Near Surface Geoscience and Engineering (NSGE) 2026 di ITB Kampus Ganesha, Bandung, pada 11–13 Mei 2026. Kegiatan internasional ini mempertemukan peneliti, akademisi, praktisi industri, hingga mahasiswa dari berbagai negara untuk membahas perkembangan ilmu kebumian dan rekayasa near-surface dalam menjawab tantangan global.

Konferensi yang berlangsung di Aula Timur dan Aula Barat ITB tersebut dibuka oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kedua gedung bersejarah yang dibangun sejak 1920 tersebut telah menjadi simbol pertukaran intelektual dan perkembangan pendidikan teknik di Indonesia.

Rektor menuturkan bahwa ITB merupakan perguruan tinggi teknik tertua di Indonesia dan pada Juli 2026 akan memperingati 106 tahun pendidikan tinggi teknik di Indonesia. Ia juga menyambut para peserta konferensi yang hadir di Kota Bandung, kota yang dikenal sebagai pusat pendidikan, kreativitas, sains, dan budaya.

"Penyelenggaraan NSGE 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari tekanan lingkungan, pembangunan urban yang pesat, risiko perubahan iklim, hingga kebutuhan solusi energi berkelanjutan," ujarnya.

Ia menekankan bahwa penyelesaian persoalan bawah permukaan dan near-surface kini memerlukan sinergi antara geosaintis, insinyur, ahli lingkungan, perencana kota, ilmuwan data, pembuat kebijakan, dan pelaku industri.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor ITB juga menyoroti kontribusi ITB melalui berbagai pusat riset strategis. "Salah satunya adalah Center for Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) yang mendukung penelitian terkait karakterisasi bawah permukaan, pemantauan reservoir, integritas penyimpanan geologi, serta teknologi transisi energi berkelanjutan," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, Pusat Riset Mitigasi Bencana ITB turut berperan dalam pengembangan solusi ilmiah untuk penanganan gempa bumi, aktivitas vulkanik, longsor, dan risiko tsunami di Indonesia.

Presiden EAGE, Dr. Sanjeev Rajput, dalam pidatonya menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi internasional dalam pengembangan near-surface geoscience and engineering. "Perkembangan teknologi geosains memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan lingkungan, pengelolaan sumber daya, dan pembangunan infrastruktur yang tangguh di kawasan Asia Pasifik," tuturnya.

Sementara itu, Presiden HAGI, Dr. Ir. Dedi Yusmen, menyampaikan bahwa forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan komunitas profesional geofisika di Indonesia maupun dunia internasional. Ia berharap konferensi ini dapat mendorong lahirnya inovasi dan solusi aplikatif dalam bidang geosains dan rekayasa kebumian.

#seminar #geoscience #sdg4 quality education #sdg9 industry innovation and infrastructure #sdg11 sustainable cities and communities #sdg13 climate action #sdg17 partnerships for the goals