Prasanti W. Sarli Masuk Asian Scientist 100, Bawa Riset Kebencanaan ITB ke Tingkat Asia

Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025

Editor Muhammad Efriza Pandia

BANDUNG, itb.ac.id - Prasanti W. Sarli atau Asih, akademisi Institut Teknologi Bandung, kembali masuk dalam daftar Asian Scientist 100 yang disusun Asian Scientist Magazine. Daftar ini memuat 100 peneliti berprestasi di Asia yang dinilai memiliki kontribusi penting melalui penghargaan, penemuan ilmiah, maupun kepemimpinan di bidang akademik dan industri.

Bagi Asih, pengakuan tersebut bukan hanya menjadi apresiasi personal dan profesional, tetapi juga ruang representasi bagi bidang teknik, khususnya teknik sipil dan mitigasi bencana. Ia menilai, kehadirannya dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa kontribusi dari bidang rekayasa juga memiliki peran penting dalam perkembangan sains di tingkat Asia.

“Saya merasa senang juga bahwa sebagai seseorang yang datang dari dunia engineering, apalagi civil engineering, teknik sipil, bisa merepresentasikan bidang saya di dalam list tersebut,” ujarnya.

Riset Kebencanaan dan Pemanfaatan Artificial Intelligence

Asih menjelaskan bahwa riset yang selama ini ia tekuni banyak bergerak dalam bidang kebencanaan. Salah satu fokus yang cukup dikenal adalah pemanfaatan artificial intelligence untuk membantu melakukan asesmen cepat terhadap bencana, khususnya gempa bumi.

“Sekarang ini saya banyak dikenal dalam aplikasi artificial intelligence yang kami lakukan untuk mencoba melakukan assessment secara cepat dari pemahaman terhadap bencana, terutama gempa,” ujarnya.

Menurutnya, riset tersebut menjadi salah satu pintu masuk yang memperluas perhatian terhadap karya ilmiahnya. Riset di bidang kebencanaan ini juga berkaitan dengan penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women in Science yang pernah ia terima pada tahun 2020.

Meski demikian, Asih menyampaikan bahwa ia tidak mengetahui secara pasti parameter yang digunakan oleh Asian Scientist Magazine dalam memilih nama-nama yang masuk dalam daftar tersebut.

Konsistensi sebagai Tantangan Terbesar Riset

Dalam menjalankan riset, Asih menilai tantangan terbesar bukan hanya terletak pada pendanaan, fasilitas, atau kolaborasi, melainkan pada kemampuan menjaga konsistensi.

Menurutnya, pekerjaan riset dan akademik sering kali merupakan pekerjaan yang tidak selalu terlihat hasilnya secara langsung. Prosesnya panjang, berulang, dan membutuhkan ketekunan yang kuat.

“Tantangan terbesar dalam riset adalah konsistensi. Caranya supaya kita tetap semangat untuk menjalankan riset,” ujarnya.

Ia mengatakan, berbagai penghargaan dan sorotan yang diterima dalam beberapa tahun terakhir menjadi hal yang patut disyukuri. Namun, ia menegaskan bahwa perjalanan riset tidak berhenti pada penghargaan.

“Perjalanan riset dan perjalanan untuk riset kita punya manfaat buat masyarakat luas itu masih panjang. Semoga diberi kesempatan dan semangat untuk terus berkarya,” tuturnya.

Riset yang Relevan dan Kolaboratif

Asih menekankan bahwa riset akademik tidak seharusnya terpisah dari persoalan masyarakat. Baginya, publikasi akademik dan dampak sosial bukan dua hal yang perlu dipertentangkan, karena pertanyaan riset yang ia kerjakan justru berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan, terutama dalam konteks kebencanaan.

“Riset yang saya lakukan pasti bermanfaat untuk masyarakat. Saya tidak merasa ada riset yang tidak bermanfaat untuk masyarakat, tidak ada riset yang hidup dalam menara gading,” ujarnya.

Dalam mengembangkan riset tersebut, Asih banyak terlibat dalam kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi, baik di dalam maupun luar ITB. Ia juga bekerja sama dengan kolaborator dari dalam dan luar negeri. Menurutnya, pendekatan kolaboratif penting karena persoalan kebencanaan tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang keilmuan.

“Kita sudah banyak riset lintas multidisiplin. Kita juga banyak riset lintas institusi,” katanya.

Perempuan dalam Dunia Sains

Sebagai ilmuwan perempuan, Asih melihat bahwa peluang untuk berkarya di dunia sains saat ini semakin terbuka. Ia menilai kesempatan untuk memperoleh akses, termasuk terhadap hibah riset atau grant, pada dasarnya sama antara laki-laki dan perempuan.

“Kalau dari segi kesempatan sebagai perempuan, sebetulnya kesempatannya sama saja buat laki-laki dan perempuan. Tidak ada kesempatan yang berbeda,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan yang sering muncul bagi perempuan adalah kemampuan untuk membagi waktu, peran, dan tanggung jawab di luar pekerjaan akademik.

“Mungkin yang menjadi masalah adalah batasan antara waktu, peran, dan tanggung jawab-tanggung jawab yang mungkin banyak di luar dari tanggung jawab pekerjaan juga,” katanya.

Ia juga menilai bahwa banyak ilmuwan perempuan Indonesia telah menunjukkan kiprah yang kuat, termasuk dalam daftar Asian Scientist 100.

“Banyak sekali ilmuwan perempuan di Indonesia yang benar-benar menunjukkan taring,” katanya.

Sisi Lain melalui The Akademisi

Di luar aktivitas akademik dan riset, Asih juga memiliki sisi kreatif melalui keterlibatannya dalam band The Akademisi. Band tersebut berawal dari keinginan sejumlah dosen untuk memiliki aktivitas di luar pekerjaan yang dapat menjadi ruang pertemuan sekaligus penyegaran.

“Sebetulnya cuma ini saja, kebetulan kita ada beberapa teman-teman dosen yang susah ketemu di luar kerjaan. Waktu itu kita ada ide bagaimana supaya punya aktivitas yang sekalian refreshing. Ya sudah, kita nge-band,” ujarnya.

Dari kegiatan sederhana tersebut, The Akademisi kemudian mendapat beberapa kesempatan untuk tampil dalam kegiatan kampus. Asih menyebutkan bahwa band tersebut juga tampil pada 20 Juni dalam kegiatan Gebyar Dies Natalis ke-67 ITB.

Bagi Asih, aktivitas bermusik menjadi bagian dari keseimbangan hidup seorang akademisi. Di tengah rutinitas riset, mengajar, dan berbagai tanggung jawab profesional, musik hadir sebagai ruang kreatif yang mempertemukan kolaborasi, ekspresi, dan kebersamaan.

Masuknya Asih dalam Asian Scientist 100 memperlihatkan bahwa kontribusi ilmuwan Indonesia, termasuk dari bidang teknik sipil dan kebencanaan, memiliki tempat penting dalam percakapan sains Asia. Melalui riset kebencanaan berbasis teknologi, kolaborasi lintas disiplin, serta semangat untuk terus menjaga manfaat riset bagi masyarakat, Asih menunjukkan bahwa kerja ilmiah tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga pada upaya menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

#itb #itb berdampak #prasanti w sarli #asih #asian scientist 100 #asian scientist magazine #ilmuwan indonesia #ilmuwan perempuan #perempuan dalam sains #teknik sipil itb #civil engineering #riset kebencanaan #mitigasi bencana #gempa bumi #artificial intelligence #ai #asesmen bencana #teknologi kebencanaan #riset itb #kolaborasi riset #riset multidisiplin #loral unesco for women in science #akademisi itb #sains berdampak #the akademisi #sdg 4 #quality education #sdg 5 #gender equality #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 11 #sustainable cities and communities #sdg 13 #climate action #sdg 17 #partnerships for the goals