Studium Generale ITB: Strategi Membangung Karier, Adaptif hingga Konsistensi
Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Direktur Human Capital & Compliance PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Eka Fitria, mengajak mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mempersiapkan diri secara lebih utuh dalam menghadapi dunia kerja yang terus berubah. Menurutnya, keunggulan akademik dan kemampuan teknis merupakan modal penting, tetapi belum cukup untuk menjawab tantangan industri masa depan. Hal tersebut disampaikan dalam Studium Generale bertajuk “Strategi Pengembangan Talenta dan Penciptaan Kualitas Diri” yang digelar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Jumat (22/5/2026). Kegiatan ini juga menjadi bagian dari Campus Hiring ODP Bank Mandiri x ITB dan diikuti secara luring serta daring melalui Zoom dan YouTube.
Membangun Karier melalui Organisasi yang Tepat
Dalam paparannya, Eka Fitria mengatakan bahwa dunia kerja membutuhkan individu yang tidak hanya menguasai satu bidang teknis, tetapi juga mampu belajar lintas disiplin dan beradaptasi dengan berbagai peran.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak memilih organisasi pertama semata-mata berdasarkan pertimbangan finansial. Menurutnya, organisasi pertama sebaiknya menjadi ruang belajar yang mampu membentuk pola pikir, etos kerja, kepemimpinan, dan daya tahan karier jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa organisasi yang baik adalah organisasi yang memiliki kemampuan beradaptasi, budaya pembelajaran berkelanjutan, sistem umpan balik yang sehat, manajemen kinerja yang jelas, serta kepedulian terhadap pengembangan sumber daya manusia. Organisasi seperti ini, menurutnya, dapat menjadi wadah bagi talenta muda untuk tumbuh secara terarah.
Kualitas Individu sebagai Pembeda Talenta
Eka menekankan bahwa kualitas individu menjadi faktor utama yang membedakan seseorang di dunia kerja. Ia menyebutkan bahwa lulusan ITB telah memiliki competitive advantage karena telah melalui proses akademik yang kuat. Namun, ketika masuk ke industri, kemampuan teknis perlu dilengkapi dengan resiliensi, konsistensi, resourcefulness, keberanian belajar hal baru, serta kemampuan membangun dampak nyata.
Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi. Menurutnya, banyak talenta muda memiliki kemampuan besar, tetapi terhambat karena kurang konsisten dalam menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan produktif yang dapat menopang perjalanan karier jangka panjang.
“Degrees bisa membuka jalan, tetapi habit akan menentukan seberapa jauh kalian akan melangkah,” ujarnya.
Personal Branding Bukan Sekadar Citra Diri
Eka juga membahas pentingnya personal branding. Baginya, hal tersebut bukan sekadar bagaimana seseorang menampilkan diri di media sosial atau melabeli dirinya sendiri. Menurutnya, personal branding yang kuat terbentuk dari karakter, hasil kerja, kontribusi, dan dampak yang dirasakan oleh orang lain.
Ia mendorong peserta untuk aktif mengikuti organisasi, magang, membangun proyek nyata, memperluas jejaring dengan senior dan alumni, serta mengasah keterampilan praktis di luar kurikulum akademik. Aktivitas tersebut dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga portofolio, pengalaman, dan rekam jejak kontribusi.
“Yang berbicara tentang keberhasilan kita bukan diri kita sendiri, tetapi orang lain yang merasakan dampak dari apa yang kita lakukan,” tuturnya.
Menurut Eka, mahasiswa perlu mulai menciptakan pembeda sejak masa kuliah. Dengan demikian, ketika memasuki dunia kerja, mereka tidak hanya menjadi bagian dari kerumunan lulusan berprestasi, tetapi juga memiliki identitas profesional yang mudah dikenali melalui kualitas dan kontribusinya.

.jpeg)




