ITB Kembangkan Apartemen Ayam di Kabupaten Bandung Barat untuk Dorong Pengelolaan Sampah Organik

Oleh Anggun Nindita -

Editor Muhammad Efriza Pandia

Dok. DPMK ITB

BANDUNG BARAT, itb.ac.id — Sampah organik tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diolah menjadi sumber daya yang menghasilkan manfaat lingkungan, pangan, hingga ekonomi bagi masyarakat. Gagasan tersebut diwujudkan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui pengembangan sistem pengolahan sampah organik berbasis magot Black Soldier Fly (BSF) yang terintegrasi dengan budi daya ayam petelur.

Inovasi yang dikenal sebagai apartemen ayam tersebut kini diterapkan di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat. Pengembangannya merupakan hasil kolaborasi ITB, PT Bank Mandiri Taspen, dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk menghadirkan model pengelolaan sampah organik yang sederhana, bernilai ekonomi, dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Program ini dijalankan Dr.rer.nat. Linus Ampang Pasasa, M.S., dosen ITB, melalui skema Bottom Up 1 Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB. Skema tersebut menjadi salah satu wadah bagi dosen ITB untuk mengembangkan gagasan pengabdian masyarakat berdasarkan persoalan dan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

Sebelumnya, konsep serupa telah dikembangkan ITB di sejumlah wilayah Kota Bandung, antara lain Pasirlayung dan Tamansari. Di Pasirlayung, ITB mengembangkan model pengolahan sampah organik terpadu yang memadukan budi daya magot, ayam petelur, kolam ikan, dan bank sampah. Sementara di Tamansari, konsep Apartemen Ayam-Maggot dikembangkan dalam struktur vertikal empat tingkat yang mampu mengolah sekitar 200–250 kilogram sampah organik dapur per hari.

Mengolah Sampah dalam Ruang Terbatas

Konsep apartemen ayam dikembangkan untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah organik sekaligus keterbatasan lahan, terutama di kawasan perkotaan dan permukiman padat.

Instalasi dirancang secara vertikal dengan ukuran sekitar 1 × 6 meter. Di dalamnya terdapat beberapa bagian yang mengintegrasikan budi daya ayam dan magot BSF. Sampah organik yang telah dipilah dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi maggot. Setelah tumbuh, maggot kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam.

Menurut Dr. Linus, sistem tersebut dapat mengurai sampah organik dalam waktu relatif singkat. Dalam kondisi yang sesuai, sampah yang dimasukkan ke dalam sistem dapat terurai dalam sekitar dua hari. Kapasitas pengolahan mencapai sekitar 250 kilogram sampah organik per hari, bergantung pada jumlah unit dan ketersediaan pasokan sampah.

Dok. DPMK ITB

“Kalau kita memasukkan sampah ke dalam sistem ini, dua hari itu sudah terurai,” ujar Linus pada Selasa (18/8/2026).

Selain sampah rumah tangga, sistem tersebut juga berpotensi menerima sampah organik dari sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA). Dengan demikian, semakin banyak sampah organik yang dipilah dari sumbernya, semakin besar pula potensi material tersebut untuk dimanfaatkan kembali dalam sistem.

Tidak berhenti pada pengurangan sampah, sistem ini juga menghasilkan produk turunan berupa maggot dan telur ayam. Magot dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ayam, sedangkan telur dapat dikonsumsi, dijual untuk mendukung operasional kelompok pengelola, atau dimanfaatkan untuk kegiatan sosial masyarakat.

“Telurnya mau dijual untuk biaya yang mengurus atau dibagi-bagi untuk penanganan stunting melalui puskesmas dan sebagainya. Tinggal bagaimana manajemennya,” kata Linus.

Dari Inovasi ITB Menuju Model yang Dapat Direplikasi

Pengembangan di Bandung Barat menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari lingkungan akademik dapat berkembang melalui kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan mitra sektor swasta.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyampaikan bahwa pengembangan apartemen ayam-maggot ini menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menangani persoalan sampah di wilayahnya. Menurutnya, pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor perbankan.

Jeje berharap model yang dikembangkan bersama ITB tersebut tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi dapat diperluas ke berbagai wilayah di Bandung Barat.

“Dengan adanya kerja sama ini, saya berharap ke depannya bisa diekspansi ke seluruh kecamatan di Bandung Barat,” ujar Jeje di Dago Giri, Selasa (18/8/2026).

Ia bahkan menyampaikan harapan agar program tersebut dapat dikembangkan di 16 kecamatan dan 165 desa di Kabupaten Bandung Barat. Pengembangan tersebut nantinya akan didukung dengan pelatihan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Bagi ITB, peluang replikasi tersebut memperlihatkan pentingnya pengembangan teknologi tepat guna yang dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Sebelumnya, tim ITB juga berharap model pengolahan sampah berbasis komunitas yang diterapkan di Tamansari dan Lebak Siliwangi dapat direplikasi di berbagai wilayah hingga tingkat Jawa Barat.

Membangun Siklus Ekonomi dari Sampah

Pengembangan inovasi tersebut pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai teknologi pengolahan sampah, tetapi juga membangun sebuah siklus pemanfaatan sumber daya.

Sampah organik yang telah dipilah menjadi bahan pakan maggot. Maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ayam, sementara ayam menghasilkan telur yang dapat memberikan manfaat pangan maupun ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan.

Dok. DPMK ITB

Model ini sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari tingkat sumber. Masyarakat dapat berperan dalam memilah dan memasok sampah organik, mengelola fasilitas, hingga memanfaatkan hasil produksinya.

Dukungan PT Bank Mandiri Taspen turut memperkuat aspek pemberdayaan dalam program tersebut. Selain melihat pengolahan sampah berbasis maggot sebagai kegiatan produktif, Bank Mandiri Taspen juga membuka peluang keterlibatan para pensiunan dalam aktivitas pengelolaan lingkungan dan kegiatan ekonomi produktif. Dukungan tersebut mencakup pelatihan, pendampingan, serta pembiayaan sesuai kebutuhan pengembangan usaha.

Kolaborasi tersebut mempertemukan inovasi akademik ITB dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Di sisi lain, pengalaman penerapan di Pasirlayung dan Tamansari menunjukkan bahwa model pengolahan sampah organik berbasis maggot dapat dikembangkan dengan pendekatan yang menyesuaikan karakteristik wilayah masing-masing.

Melalui skema Bottom Up DPMK ITB, inovasi Dr. Linus menjadi salah satu contoh bagaimana gagasan dari perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi solusi tepat guna dan diterapkan bersama masyarakat. Pengembangan apartemen ayam di Bandung Barat sekaligus memperluas ruang kolaborasi untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, pengembangan model tersebut diharapkan tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat serta menghasilkan produk yang memiliki nilai pangan dan ekonomi.

#inovasi #pengabdian masyarakat #apartemen ayam #sdg2 #zero hunger #sdg8 #decent work and economic growth #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg12 #responsible consumption and production #sdg13 #climate action