Wamenlu Arif Havas Oegroseno Bahas Diplomasi Indonesia dan Reputasi Global di Studium Generale ITB

Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Teknik Pangan, 2021

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id — Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno menjadi pemateri pada Studium Generale ITB, dengan tema “Diplomasi Indonesia dan Reputasi Global”, di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Rabu (29/4/2026). Kegiatan ini dihadiri sekitar 1.000 mahasiswa secara luring dan daring di ITB Kampus Jatinangor dan Cirebon.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. dalam sambutannya menyampaikan bahwa institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di mata dunia, khususnya melalui pendidikan dan riset yang berdampak.

Menurutnya, diplomasi tidak hanya dijalankan melalui jalur politik dan pemerintahan, tetapi juga dapat diperkuat melalui kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi global.

Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Dalam paparannya, Arif Havas Oegroseno menjelaskan bahwa politik luar negeri Indonesia sejak awal dibangun di atas prinsip bebas-aktif. Prinsip tersebut pertama kali dikristalisasi oleh Mohammad Hatta pada 1948 melalui pidato “Mendayung di Antara Dua Karang”.

Menurutnya, makna bebas adalah Indonesia tidak menjadi satelit kekuatan besar mana pun, sedangkan aktif berarti Indonesia turut berperan dalam membentuk tatanan dunia. Prinsip inilah yang hingga kini tetap relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang terus berubah.

Ia juga menyoroti pentingnya Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika 1955. Momentum tersebut, menurutnya, bukan hanya berpengaruh terhadap lahirnya kemerdekaan di banyak negara Asia dan Afrika, tetapi juga menjadi simbol keberanian negara-negara berkembang untuk tampil dan menentukan arah dalam percaturan dunia.

Tantangan Geopolitik Global

Ia juga memaparkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi situasi geopolitik yang semakin kompleks. Rivalitas antara negara-negara besar tidak lagi hanya berlangsung di bidang militer, tetapi juga merambah sektor-sektor strategis seperti telekomunikasi, semikonduktor, energi, hingga mineral mentah kritis. Berbagai sektor tersebut kini menjadi bagian dari arena persaingan global yang kian intens. Dalam konteks ini, Indonesia perlu menjaga kepentingan nasional dengan tetap berpijak pada prinsip bebas-aktif, tanpa terjebak pada keberpihakan yang kaku terhadap blok kekuatan tertentu.

“Indonesia tetap mengedepankan netralitas teknologi dengan tidak berpihak pada merek atau asal teknologi tertentu,” ujarnya.

Ia pun mencontohkan bahwa strategi tersebut tercermin dalam berbagai kerja sama Indonesia dengan banyak negara, baik dalam pengembangan semikonduktor, penguatan sektor energi, maupun upaya memperluas jejaring ekonomi dan diplomasi di berbagai kawasan.

Diplomasi dan Reputasi Global Indonesia


Arif Havas juga menegaskan bahwa reputasi global suatu negara dibangun melalui konsistensi kebijakan, kredibilitas diplomasi, serta kemampuan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, Indonesia perlu terus memperkuat kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan daya saing nasional agar memiliki posisi tawar yang semakin kuat di tingkat internasional.

Bagi institusi pendidikan, hal ini berarti bahwa peran pendidikan tinggi tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun pengaruh Indonesia di dunia. Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, riset, dan kepemimpinan masa depan yang akan ikut menentukan arah bangsa.

#studium generale #diplomasi