Museum Mini Suyadi: Menghidupkan Kembali Warisan Pak Raden Sebagai Seniman dan Pencerita

Oleh Anggun Nindita -

Editor Muhammad Efriza Pandia


BANDUNG, itb.ac.id — Puluhan tahun lalu, ketika sebuah bangunan di Sawunggaling masih menjadi asrama mahasiswa ITB, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB kerap mendalang pada hari Minggu. Suaranya yang lantang membuat orang-orang yang melintas di Tamansari berhenti untuk menyaksikannya.

Mahasiswa itu adalah Drs. Suyadi, yang kemudian dikenal luas masyarakat Indonesia sebagai Pak Raden.

Lebih dari tujuh dekade kemudian, jejaknya kembali hadir di tempat yang sama melalui Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya, yang dibuka di Hotel Butik Sawunggaling, Bandung, Jumat (21/8/2026).

Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB sekaligus dosen Kelas Ilustrasi Buku Anak (KIBA) ITB, Dr. Riama Maslan Sihombing, M.Sn., mengatakan, pemilihan Hotel Butik Sawunggaling sebagai lokasi pameran berawal dari cerita seniman legendaris, Prof. A.D. Pirous, mengenai kehidupan Suyadi pada masa mahasiswa.


“Menurut Pak Pirous, pada hari Minggu Pak Suyadi suka mendalang. Suaranya bagus dan besar sekali sehingga menarik perhatian orang-orang yang lewat di sekitaran Sawunggaling-Tamansari. Itu sebabnya kami ingin sekali mengenang beliau di tempat yang sama,” ujarnya.

Bagi Dr. Riama, lokasi di Sawunggaling membuat pameran kali ini memiliki dimensi yang berbeda. Bukan hanya karya Suyadi yang kembali dihadirkan, tetapi juga hubungan sang seniman dengan salah satu ruang yang pernah menjadi bagian dari masa mudanya.

“Sekarang kami mengambil tempat yang bersejarah. Jadi ada lingkaran sejarah yang menjadi latar belakang,” katanya.

Bukan Sekadar Melihat Koleksi
Museum Mini Suyadi dirancang agar pengunjung tidak hanya melihat benda-benda peninggalan, tetapi mengalami perjalanan dan dunia kreatif Suyadi.

Pengalaman tersebut dibangun secara bertahap melalui ilustrasi, boneka, arsip, suara, serta berbagai unsur interaktif.

“Kami berharap orang tidak hanya membaca. Ketika memasuki pameran ini, mereka bisa mendapatkan experience yang berbeda. Jadi bukan hanya museum, tetapi ada pengalaman baru yang bisa dirasakan,” ujar Dr. Riama.

Salah satu bagian awal pameran membawa pengunjung memasuki dunia kucing, binatang yang sangat dekat dengan kehidupan Suyadi. Ia dikenal menyukai kucing dan kerap menghadirkan tokoh kucing dalam karya-karyanya.

Kisah Seribu Kucing untuk Kakek bahkan menjadi inspirasi pertunjukan teater wayang kucing dalam pembukaan pameran.

Dr. Riama mengatakan, kecintaan Suyadi kepada kucing juga tampak dalam kesehariannya. Ia pernah hidup bersama banyak kucing dan kerap memberikan makanan terbaik yang diterimanya kepada hewan-hewan kesayangannya tersebut.


Dari sana, pengunjung dibawa lebih jauh mengenal kehidupan, pemikiran, hingga karya asli Suyadi.

Pameran menghadirkan koleksi dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, antara lain boneka karakter Si Unyil yang dihibahkan keluarga Suyadi, sketsa, serta empat lukisan. Hadir pula ilustrasi buku, arsip, dokumentasi perjalanan Suyadi, dan buku-buku terbitan Djambatan dari koleksi penulis Laksmi Pamuntjak.

Persiapan pameran berlangsung sekitar enam bulan dengan melibatkan keluarga Suyadi, komunitas, dan sejumlah mitra. Museum Mini Suyadi diselenggarakan oleh TaCita (Yayasan Cita Cerita Anak) bersama FSRD ITB/KIBA ITB, Hotel Butik Sawunggaling, dan Ourchetype, serta mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, Dana Indonesiana, dan Penerbit Djambatan.

Mempertemukan Pak Raden dengan Generasi Baru
Menurut Dr. Riama, Museum Mini Suyadi juga menjadi jembatan antara satu generasi dan generasi berikutnya.

Jika sebagian masyarakat tumbuh bersama Si Unyil dan mengenal Suyadi sebagai Pak Raden, generasi muda hari ini mungkin memiliki titik perkenalan yang berbeda.

“Kami justru senang jika generasi muda yang belum mengenal Pak Suyadi datang. Kalau generasi kami masih punya kenangan tentang Si Unyil. Mereka bisa mengenal beliau sebagai Pak Raden, pendongeng, budayawan, dan sosok yang sebenarnya sangat multitalenta,” ujar Dr. Riama.

Sepanjang 21–30 Agustus 2026, Museum Mini Suyadi juga menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari panggung cerita, lokakarya kreatif dan teater, read aloud, klub buku, diskusi sastra anak, hingga tur cerita.

Dengan demikian, ruang tersebut tidak berhenti sebagai tempat menyimpan kenangan, tetapi menjadi tempat karya dan cerita Suyadi kembali berjumpa dengan masyarakat.

Dahulu, Suyadi mendalang di Sawunggaling dan membuat orang-orang yang melintas di Tamansari berhenti untuk mendengarkan.

Kini, cerita itu kembali hadir di tempat yang sama, melalui boneka, ilustrasi, lukisan, dan warisan seorang pencerita yang terus hidup lintas generasi.

#fsrd itb #suyadi #pak raden #museum mini suyadi #sdg4 #quality education #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg17 #partnerships for the goals