ITB Terapkan Teknologi Digital untuk Konservasi Penyu di Sabu Raijua, 116 Telur Berhasil Diselamatkan

Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

SABU RAIJUA, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menerapkan teknologi digital untuk memperkuat konservasi penyu berbasis masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui Program Pengabdian Masyarakat (PPM) Bottom Up 2026, ITB melatih masyarakat pesisir dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) menggunakan aplikasi partisipatif untuk mencatat lokasi sarang, jenis penyu, hingga potensi ancaman terhadap telur dan penyu yang mendarat.

Program bertajuk “Monitoring dan Konservasi Penyu Berbasis Digital melalui Pelatihan Aplikasi Partisipatif Masyarakat Pesisir Sabu-Raijua” tersebut dikembangkan untuk menjawab keterbatasan pemantauan langsung di kawasan pesisir dan pulau-pulau terluar. Dengan sistem berbasis citizen science, masyarakat dapat terlibat langsung dalam menyediakan data lapangan yang dibutuhkan untuk mendukung tindakan konservasi secara lebih cepat dan terintegrasi.

Dampak penerapan pendekatan tersebut terlihat dalam kegiatan lapangan di Pantai Desa Eilogo pada Kamis (30/7/2026). Tim gabungan ITB, Universitas Nusa Cendana (Undana), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Pokmaswas berhasil mengidentifikasi pendaratan penyu serta menyelamatkan 116 butir telur penyu untuk dipindahkan ke lokasi inkubasi semi-alami yang lebih aman.

Program tersebut memberikan manfaat langsung kepada masyarakat pesisir dan Pokmaswas melalui peningkatan kemampuan pemantauan serta konservasi penyu. Dalam jangka panjang, upaya ini juga penting bagi masyarakat luas karena keberadaan penyu berkaitan dengan kesehatan ekosistem laut, mulai dari padang lamun dan terumbu karang hingga keseimbangan rantai makanan di perairan.

Program dipimpin oleh Prof. Dr.rer.nat. Mutiara Rachmat Putri, S.Si., M.Si., dosen dari Kelompok Keahlian Oseanografi Lingkungan dan Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, dan berpusat di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak awal tahun hingga November 2026, dengan agenda sosialisasi dan workshop lapangan pada 27–31 Juli 2026.

Pelaksanaan program melibatkan peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, mahasiswa program sarjana, magister, dan doktor Program Studi Oseanografi serta Sains Kebumian ITB, dosen Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana, serta Pokmaswas dari Desa Deme, Waduwalla, Dainao, dan Bodae.

Mengenal Penyu sebagai “Insinyur Ekosistem Laut”

Dalam pelatihan dan edukasi literasi bahari, Prof. Mutiara menjelaskan bahwa penyu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Perannya tidak berhenti ketika berada di laut. Saat penyu bertelur di daratan, sisa cangkang telur dari proses penetasan turut memberikan nutrisi organik bagi lingkungan pantai dan vegetasi pesisir.

Di kawasan perairan Sabu Raijua, khususnya Pantai Desa Eilogo, terdapat empat spesies penyu yang tercatat mendarat dan bertelur, yakni Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).

Penyu Hijau berperan menjaga kesehatan padang lamun melalui aktivitas merumput. Padang lamun sendiri merupakan ekosistem penting yang berperan dalam penyimpanan karbon sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut.

Sementara itu, Penyu Lekang merupakan omnivora yang mengonsumsi berbagai organisme, seperti alga, krustasea, dan ikan kecil, sehingga turut menjaga keseimbangan rantai makanan.

Penyu Sisik membantu menjaga kesehatan terumbu karang dengan mengonsumsi spons laut yang dapat menutupi permukaan karang. Dengan terkontrolnya populasi spons, tersedia ruang bagi karang untuk berkembang sekaligus mempertahankan fungsi terumbu sebagai habitat berbagai jenis ikan.

Adapun Penyu Belimbing berperan dalam mengendalikan populasi ubur-ubur di perairan lepas sehingga turut menjaga dinamika rantai makanan laut.

Digitalisasi Konservasi dan Aksi Penyelamatan di Lapangan

Salah satu tantangan konservasi di wilayah kepulauan adalah luasnya area yang harus dipantau dibandingkan dengan jumlah petugas yang tersedia. Kondisi tersebut membuat keterlibatan masyarakat menjadi penting dalam pengawasan kawasan pesisir.

Melalui PPM ITB, masyarakat lokal dan anggota Pokmaswas dilatih menggunakan aplikasi digital berbasis partisipatif. Dengan aplikasi tersebut, warga dapat mencatat titik koordinat lokasi sarang, jenis penyu yang mendarat, serta indikasi ancaman seperti keberadaan predator maupun potensi pencurian telur.

Data yang dihimpun masyarakat diharapkan membantu proses pemantauan menjadi lebih terstruktur sekaligus memungkinkan informasi mengenai kondisi di lapangan disampaikan lebih cepat kepada pihak terkait.

Mendorong Kemandirian Konservasi Berbasis Masyarakat

Melalui program tersebut, ITB mendorong agar masyarakat Sabu Raijua tidak hanya menjadi penerima manfaat program konservasi, tetapi menjadi pelaku utama dalam menjaga sumber daya pesisir di wilayahnya.

Peningkatan kemampuan masyarakat dalam melakukan pencatatan, pemantauan, dan pelaporan diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan konservasi setelah program pendampingan selesai.

Sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengetahuan lokal juga diharapkan dapat menjadi salah satu model pengelolaan konservasi pesisir berbasis digital yang dapat dikembangkan di wilayah pesisir Indonesia lainnya.

Dengan demikian, pemanfaatan teknologi dalam program ini tidak hanya bertujuan menghasilkan data, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu menjaga ekosistem laut secara mandiri dan berkelanjutan.

#itb berdampak #konservasi penyu #sabu raijua #nusa tenggara timur #teknologi digital #citizen science #konservasi laut #pemberdayaan masyarakat #pengabdian kepada masyarakat #ppm itb #fakultas ilmu dan teknologi kebumian #fitb itb #oseanografi itb #sains kebumian itb #mahasiswa itb #brin #universitas nusa cendana #sdg 14 #life below water #sdg 13 #climate action #sdg 17 #partnerships for the goals