Alumni ITB, Ivan Lanin Berbagi Perjalanan Alih Karier hingga Fenomena Berbahasa di Era AI
Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Ivan Lanin, alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1992, memiliki perjalanan karier yang beragam. Setelah sempat bekerja di industri lepas pantai yang masih berkaitan dengan Teknik Kimia, menjadi pemrogram komputer, hingga konsultan manajemen risiko, ia kini menekuni dunia kebahasaan sebagai pendiri dan Direktur Utama Narabahasa.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bidang studi tidak selalu menjadi satu-satunya penentu arah karier seseorang. Ivan menemukan bidang yang ingin ditekuninya melalui serangkaian pengalaman profesional dan ketertarikan pribadi yang berkembang dari waktu ke waktu.
Ketertarikannya terhadap bidang bahasa berkembang saat bekerja menjadi konsultan manajemen risiko. Ia lalu aktif di Wikipedia Bahasa Indonesia dan komunitas penerjemah, termasuk mencari berbagai padanan istilah dalam bahasa Indonesia.
Keaktifannya di media sosial membuat Ivan mulai mendapat permintaan untuk memberikan pelatihan kebahasaan. Pengalaman tersebut menyadarkannya bahwa mengajarkan keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang ia sukai.
“Saya merasa, kayaknya, saya ingin jadi guru Bahasa Indonesia. Saya ingin mengajarkan keterampilan berbahasa bagi orang dewasa,” ujarnya, di ITB Kampus Ganesha, Jumat (25/9/2026). Ketertarikan itu membawanya mendirikan Narabahasa pada 2020, perusahaan yang menyediakan produk dan layanan kebahasaan.
Pengalaman di ITB Membentuk Cara Berpikir Holistik
Meski kini berkarier jauh dari Teknik Kimia, Ivan mengatakan pengalaman berkuliah di ITB tetap membentuk cara berpikirnya hingga kini, terutama tugas perancangan pabrik. Dalam tugas tersebut, mahasiswa perlu memikirkan keseluruhan sistem yang saling berkaitan, mulai dari proses produksi, energi, pendinginan, hingga utilitas.
“Selama ini sebagai anak muda biasanya yang kita lakukan melihat hal yang kecil-kecil. Kita jarang sekali melihat sesuatu yang holistik. Memikirkan pabrik itu harus memikirkan semuanya,” katanya.
Di sisi lain, aktivitas nonakademiknya di Student Center (SC) ITB memberinya kesempatan bertemu dan berinteraksi dengan beragam karakter mahasiswa.
Di Era AI, Kemampuan Berbahasa Semakin Penting
Ivan pun membagikan pandangannya terkait keterampilan berbahasa di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, keberadaan AI tidak mengurangi pentingnya kemampuan manusia dalam berbahasa. Sebaliknya, kemampuan menyampaikan pikiran secara jelas semakin dibutuhkan karena interaksi manusia dengan AI banyak dilakukan melalui bahasa.
“Kalau perintah atau prompt-nya tidak bisa disampaikan dengan baik, dia juga tidak akan bisa menjawab dengan baik. Keterampilan untuk bisa menuangkan pikiran kita dengan jelas itu diperlukan,” ujarnya.
Ivan menyampaikan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
“Keterampilan menuangkan pikiran dengan jernih itulah yang makin diperlukan,” katanya.
Bahasa Campuran Bukan Fenomena Baru
Ia pun menyampaikan mengenai fenomena mencampurkan bahasa dalam percakapan. Hal itu, menurutnya, bukan fenomena baru. Generasi sebelumnya pun melakukan hal serupa, hanya bahasa asing yang digunakan antara lain bahasa Belanda.
Ia melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari sosiolinguistik. Cara seseorang berbahasa dapat berubah bergantung pada lingkungan, hubungan sosial, dan lawan bicara. Menurutnya, penggunaan bahasa campuran tidak perlu serta-merta dipersoalkan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menempatkan gaya bahasa sesuai dengan konteks komunikasi.
“Yang salah itu ketika gaya berbahasa itu diterapkan kepada semua kalangan,” ujarnya.
Pesan untuk Mahasiswa yang Masih Mencari Arah Karier
Ivan pun menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang masih mencari arah karier, termasuk yang merasa bidang yang diminati berbeda dari program studi yang dijalani.
Ivan mengatakan, mahasiswa dapat menerapkan konsep ikigai, sehingga dapat mempertimbangkan empat hal: apa yang disukai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan dunia, serta apa yang dapat menghasilkan penghidupan.
“Jangan lepaskan rencanamu, tapi juga jangan egois. Lakukan sesuatu yang memang diperlukan oleh dunia dan lakukan sesuatu yang menghasilkan penghidupan,” ujarnya.
Bagi Ivan, perjalanan karier tidak harus selalu berjalan lurus mengikuti bidang studi. Pengalaman, ketertarikan, kemampuan, serta kebutuhan masyarakat dapat membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah direncanakan.

.jpg)


