Alumni ITB Pimpin BPS RI, Ajak Mahasiswa Bangun Indonesia Berbasis Data dan Dorong Peran Hilirisasi Riset Perguruan Tinggi
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Teknik Pangan, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti, ST, M.Si., PhD., mengajak mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun Indonesia berbasis data sebagai fondasi kebijakan publik dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ajakan tersebut disampaikan dalam Studium Generale bertema “Membangun Indonesia Berbasis Data sebagai Fondasi Kebijakan Publik” di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Rabu (25/2/2026). Amalia Adininggar Widyasanti sendiri merupakan alumni Teknik Kimia ITB angkatan 1990.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyambut kehadiran Kepala BPS RI dan menegaskan pentingnya data dalam era digital. Menurutnya, data telah menjadi aset strategis yang menentukan arah kebijakan.
"Data adalah sesuatu yang mahal harganya. Kita perlu data yang valid agar kebijakan yang diputuskan benar-benar bermanfaat dan berdampak. Melalui kehadiran Kepala BPS RI, kita berharap mahasiswa mendapatkan wawasan baru bagaimana data disediakan dan dipaparkan menjadi informasi bermakna untuk pengambilan keputusan," ujar Prof. Tata.
Dalam paparannya, Kepala BPS RI menekankan bahwa statistik bukan sekadar kumpulan angka, melainkan dasar intervensi kebijakan pembangunan.
"Statistik bukanlah sekadar angka, melainkan penuh makna di balik angka tersebut. Pemerintah membutuhkan intervensi yang tepat melalui data untuk pembangunan Indonesia ke depan," ujarnya.
Sebagai bagian dari penguatan literasi data, ITB dan BPS menghadirkan “Pojok Statistik” di Perpustakaan ITB. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mendukung penelitian dan penyusunan tugas akhir. Ia juga memperkenalkan aplikasi AllStats yang memungkinkan masyarakat mengakses data statistik resmi negara secara langsung melalui telepon pintar.
Pada kesempatan tersebut, ia juga memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 yang mencapai 5,11 persen. Pertumbuhan tersebut, kata dia, ditopang sektor industri pengolahan, termasuk hilirisasi nikel serta industri kimia, farmasi, dan kosmetik.
Ia menilai salah satu hal yang menjadikan negara maju adalah strategi industrialisasi yang ditopang konektivitas kuat antara pusat riset perguruan tinggi dan industri.
"Inovasi akan mendorong produktivitas tinggi jika riset-riset dari universitas dapat dikomersialisasikan dan diaplikasikan langsung di industri," katanya.
Dalam kuliah umum yang dihadiri sekitar 1.300 mahasiswa secara luring dan daring dari Kampus Ganesha, Jatinangor, dan Cirebon tersebut, BPS juga mengumumkan rencana pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026.
"Sensus Ekonomi adalah agenda besar 10 tahun sekali. Kami membuka peluang bagi mahasiswa ITB untuk bergabung, baik untuk pengalaman magang maupun kontribusi nyata dalam mencatat peta ekonomi nasional. Ini adalah kesempatan emas untuk melihat langsung aktivitas digital dan ekonomi di lapangan," ujarnya.
Melalui Studium Generale ini, ITB dan BPS berkomitmen memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi bangsa. Melalui kolaborasi dengan BPS RI, ITB mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memanfaatkan data dan riset sebagai dasar pengambilan keputusan, inovasi industri, serta kontribusi strategis dalam pembangunan nasional berbasis bukti.

.jpg)

.png)



