Astech 2026: 13 Inovasi Mahasiswa ITB Lahir dari Kajian Persoalan Masyarakat
Oleh Vito Egi Nandriansyah - Mahasiswa Teknik Geofisika, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Pendekatan tersebut tidak hanya menghasilkan karya teknologi, tetapi juga melatih mahasiswa untuk menempatkan kebutuhan pengguna sebagai titik awal inovasi. Bagi masyarakat, proses ini menunjukkan bagaimana keilmuan Teknik Elektro dapat diarahkan untuk menjawab persoalan sehari-hari. Sementara bagi mahasiswa, Astech menjadi ruang pembelajaran untuk membangun kepekaan sosial sekaligus kemampuan merancang teknologi yang relevan dan bermanfaat.
Astech 2026 merupakan program Aksi Angkatan yang diselenggarakan oleh kader MBC HME ITB dan menjadi bagian dari rangkaian kaderisasi Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) ITB. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari tiga program studi dalam rumpun Elektroteknik, yaitu Teknik Elektro (EL), Teknik Tenaga Listrik (EP), dan Teknik Biomedis (EB).
Mengusung tradisi yang telah berlangsung dari tahun ke tahun, peserta MBC HME ITB ditantang untuk menghasilkan inovasi elektroteknik yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Ketua Astech 2026, Gideon, menjelaskan bahwa proses pengembangan karya tidak dimulai dengan menentukan teknologi yang hendak dibuat. Para peserta terlebih dahulu melakukan survei lapangan dan wawancara dengan masyarakat untuk mengidentifikasi persoalan yang kemudian menjadi dasar pengembangan inovasi.
“Astech ini sebenarnya wadah belajar yang kebetulan bentuknya pameran. Titik awalnya bukan teknologinya, tapi kajian masyarakat dulu lewat survei dan wawancara,” ujar Gideon.

Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari proses kaderisasi. Mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan sebuah produk, tetapi juga belajar memahami kebutuhan pengguna sebelum menentukan solusi teknologi yang sesuai.
Salah satu inovasi yang lahir dari proses tersebut adalah 7Arvis, yang berangkat dari persoalan akses ruang publik yang belum sepenuhnya ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas. Berdasarkan hasil wawancara, peserta menemukan bahwa penyandang tunanetra menghadapi kesulitan ketika menggunakan guiding block yang kerap terhalang oleh aktivitas di ruang publik. Sementara itu, lansia menghadapi risiko ketika menyeberang jalan akibat perilaku pengendara yang tidak tertib.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim 7Arvis mengembangkan kacamata pendeteksi halangan yang dapat memberikan alarm ketika terdapat rintangan di depan pengguna. Inovasi tersebut dirancang untuk membantu pengguna beraktivitas di ruang publik dengan lebih aman dan mandiri.
Menurut Gideon, keberagaman latar belakang peserta dari Teknik Elektro, Teknik Tenaga Listrik, dan Teknik Biomedis turut memperkaya proses penciptaan solusi. Para peserta dari ketiga program studi tersebut tergabung dalam 13 kelompok atau keluarga kecil MBC HME ITB.
“Solusi dan produk yang dibuat lebih komprehensif karena terdapat banyak pandangan dan juga skill set yang saling melengkapi dibandingkan jika dikembangkan secara terpisah berdasarkan jurusan,” jelasnya.
Sebelum dipamerkan kepada publik, setiap karya melalui sejumlah tahapan pengembangan dan evaluasi. Setelah peserta menyusun kajian masyarakat dan proposal karya inovasi, proposal tersebut mendapatkan asistensi dari panitia MBC HME ITB angkatan 2024 untuk memperoleh masukan dan memastikan rancangan dapat dikembangkan dengan baik.
Selanjutnya, proses kurasi dilakukan oleh panitia internal peserta MBC HME ITB melalui Technical and Exhibition Lead. Selain melakukan evaluasi, tim tersebut memastikan setiap alat dapat berfungsi dan siap dipamerkan berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang telah disusun.

“Yang ingin ditransfer dari beliau tentunya semangat juangnya, bagaimana beliau solving problems dengan cara kreatif, dan juga bagaimana mahasiswa dapat memberi dampak bagi sekitar,” tutur Gideon.
Meski karya yang dihasilkan dalam Astech 2026 belum memiliki rencana tindak lanjut berupa kolaborasi dengan industri untuk implementasi lebih lanjut, pengalaman tersebut dipandang sebagai bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa. Bagi peserta, pameran menjadi ruang untuk menguji gagasan, memperkenalkan karya kepada masyarakat, sekaligus membangun pengalaman untuk menghasilkan karya yang lebih besar di lingkungan HME ITB maupun setelah menyelesaikan pendidikan.
Bagi Gideon, esensi Astech tidak terletak semata-mata pada 13 produk yang dipamerkan, melainkan pada proses yang membentuk cara berpikir mahasiswa.
“Harapannya mereka makin sadar bahwa ilmu elektroteknik baru bernilai kalau sampai ke masyarakat dan itu jadi bekal untuk berkarya lebih besar ke depannya,” ujarnya.
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.png)

