ITB Dorong Pengembangan Kawasan Transmigrasi melalui Ekspedisi Patriot Berbasis Teknologi, Aglomerasi Ekonomi, dan Etika Lingkungan

Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


JAKARTA, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) terus memperkuat kontribusinya dalam perumusan arah pengembangan kawasan transmigrasi melalui Ekspedisi Patriot, sebuah program kajian lapangan berbasis riset dan teknologi yang melibatkan tim multidisiplin ITB. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Sri Maryati, S.T., MIP., Kepala Direktorat Eksekutif Multi Kampus ITB (DEMK). Forum ini merupakan rangkaian terakhir kegiatan ekspedisi patriot yang telah dilaksanakan sejak bulan Agustus 2025 di berbagai daerah di Indonesia.

Ekspedisi Patriot sebagai Wadah Kajian Berbasis Lapangan

Pemaparan ITB pada tanggal 20 Desember 2025, dibuka oleh WRRI Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D. Selanjutnya pemaparan dilanjutkan oleh Prof. Sri Maryati menjadi moderator yang menjelaskan selain topik Rekomendasi Kawasan Transmigrasi, bahwa penugasan kepada tim ITB dalam Ekspedisi Patriot terdapat prioritas khusus pada pengembangan teknologi tepat guna dan pengembangan pelabuhan yang relevan dengan karakteristik lokal kawasan transmigrasi. Melalui kegiatan lapangan, observasi langsung, dan dialog dengan pemangku kepentingan daerah, Ekspedisi Patriot menjadi wadah bagi ITB untuk merumuskan solusi teknologi yang aplikatif.

Pendekatan ini dipandang penting untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat transmigrasi tanpa menambah tekanan terhadap lahan, sekaligus memastikan bahwa intervensi yang dirancang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Pendekatan Klaster dalam Ekspedisi Patriot

Berdasarkan wilayah kajian Ekspedisi Patriot, presentasi Tim ITB dikelompokkan pada tiga klaster pengembangan, yaitu: Sumatra, Kalimantan dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi, Maluku, dan Papua. Pembagian klaster tersebut bertujuan untuk menentukan prioritas program dan arah kebijakan yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masing-masing wilayah transmigrasi.

Dalam forum tersebut, Prof. Sri Maryati menegaskan fokus peran ITB melalui Ekspedisi Patriot dengan menyatakan, “ITB itu mungkin akan berfokus, bukan mungkin, harusnya berfokus kepada pengembangan teknologi.”

Pada klaster tertentu, hasil kajian Ekspedisi Patriot menunjukkan bahwa fokus pengembangan perlu diarahkan pada peningkatan pendapatan masyarakat melalui optimalisasi lahan yang telah ada serta penyesuaian kebijakan dengan kondisi lokal.

Aglomerasi Ekonomi dalam Kerangka Ekspedisi Patriot

Selain aspek teknologi, Ekspedisi Patriot ITB juga menekankan pentingnya aglomerasi ekonomi dan keterkaitan antarwilayah. Pengembangan sektor unggulan di kawasan transmigrasi dinilai tidak dapat berjalan secara sektoral dan terpisah, tetapi perlu dikaitkan dengan sektor lain serta wilayah lain yang memiliki potensi serupa.

Terkait penguatan ekonomi skala, ia menyampaikan, “Kooperasi itu skalanya adalah desa, tetapi kami mendorong bahwa kooperasi ini harusnya bekerja sama satu dengan yang lainnya karena prinsip ekonomisasi skala.”

Sinkronisasi Kebijakan dan Penguatan Kelembagaan

Dalam pelaksanaan Ekspedisi Patriot, tim ITB turut mengakomodasi berbagai dokumen perencanaan, seperti RPJMD, RTRW, dan kebijakan sektoral lainnya, sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK). Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa rekomendasi yang dihasilkan selaras dengan arah pembangunan daerah dan nasional.

Penguatan kelembagaan menjadi aspek penting lainnya dalam hasil kajian Ekspedisi Patriot, salah satu topik dari tim ekspedisi patriot adalah desain model kolaborasi kelembagaan ekonomi, yang penekanannya terutama untuk mendorong peningkatan nilai tambah komoditas. Prof. Sri Maryati menjelaskan bahwa model kelembagaan sangat bergantung pada jenis produk yang dikembangkan serta karakteristik wilayah masing-masing.

Dampak Langsung dan Etika Lingkungan

Kajian yang dilakukan melalui Ekspedisi Patriot ITB tidak hanya berorientasi pada kebijakan makro dan jangka panjang, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan dampak langsung yang dapat segera diadopsi oleh pemerintah daerah dan mitra, khususnya dalam penyusunan program tahun anggaran 2026.

Di sisi lain, Ekspedisi Patriot juga menempatkan etika lingkungan sebagai prinsip penting dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Prof. Sri Maryati menjelaskan bahwa pembangunan industri perlu diikuti dengan kesadaran menjaga relasi antara manusia dan lingkungan.

Ia menyampaikan, “Etika lingkungan itu terkait dengan bagaimana kita membina relasi antara manusia dengan lingkungan.”

Melalui Ekspedisi Patriot yang bersifat lintas disiplin, ITB turut berkontribusi dalam penyusunan peta jalan pengembangan kawasan transmigrasi hingga tahun 2029 dan seterusnya, sejalan dengan visi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Ke depan, ITB akan terus memperkuat Ekspedisi Patriot sebagai platform strategis dalam menghadirkan solusi berbasis riset dan teknologi untuk pembangunan wilayah yang inklusif dan berkelanjutan.

#itb berdampak #ekspedisi patriot #pengembangan kawasan transmigrasi #pembangunan wilayah #teknologi tepat guna #multidisiplin #indonesia emas 2045 #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg8 #decent work and economic growth #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg12 #responsible consumption and production #sdg13 #climate action #sdg17 #partnerships for the goals