Dosen Muda ITB Kembangkan Mikroalga untuk Penangkapan Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim

Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id — Dosen dan peneliti Kelompok Keahlian Biokimia dan Rekayasa Biomolekul, FMIPA ITB, Alfredo Kono, S.Si., M.Si., Ph.D., menilai mikroalga dapat menjadi solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim.

Alfredo menegaskan bahwa mikroalga memiliki kemampuan alami menangkap karbon dioksida (CO₂) melalui fotosintesis dan mengonversinya menjadi biomassa, sehingga berpotensi menjadi alternatif solusi cepat di tengah urgensi krisis iklim global.

Laboratorium Alam Indonesia: Dari Laut hingga Kawah Gunung Berapi

Ia mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan strategis karena karakter geografisnya sebagai negara maritim sekaligus kawasan cincin api. Kondisi tersebut menyediakan habitat mikroalga dengan mekanisme adaptasi ekstrem yang jarang dimiliki negara lain.

Eksplorasi mikroalga ini dilakukan di berbagai lokasi, mulai dari laut tropis hingga kawasan vulkanik di Jawa Barat, seperti Kawah Kamojang, Talaga Bodas di Garut, dan Kawah Domas Tangkuban Parahu. Dari kawasan tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi mikroalga merah Galdieria sulphuraria yang mampu hidup pada kondisi ekstrem dengan tingkat keasaman sangat tinggi.

Mikroalga Ekstrem dan Efisiensi Penangkapan Karbon


Alfredo menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama mikroalga adalah kecepatan pertumbuhan dan efisiensi penggunaan lahan. Mikroalga lebih cepat untuk fotosintesis optimal, sekitar satu sampai dua hari, daripada pohon yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa bertumbuh dan memiliki daun.

Ia pun mengatakan mikroalga dapat dibudidayakan dalam sistem tertutup seperti tangki, sehingga memungkinkan implementasi di berbagai lokasi, termasuk kawasan perkotaan dan industri, tanpa memerlukan lahan luas.

"Salah satu yang membuat dia powerful adalah ukurannya yang kecil tapi kemampuan penangkapannya bisa jauh lebih tinggi dari tanaman yang ada di darat," katanya, Jumat (30/1/2026).

Dari Penangkapan CO₂ ke Ekonomi Sirkular Berbasis Bioteknologi

Selain untuk penyerapan karbon, Alfredo menekankan pentingnya pendekatan ekonomi sirkular sehingga CO₂ yang ditangkap dapat diubah menjadi biomassa bernilai ekonomi tinggi. Produk turunan mikroalga mencakup lipid untuk biofuel, pigmen untuk industri kosmetik, serta karbohidrat unik yang berpotensi dikembangkan di bidang farmasi dan kesehatan.

Sebagai bentuk hilirisasi riset, tim ITB juga mengembangkan konsep phototank atau “pohon cair” yang memanfaatkan mikroalga sebagai sistem pembersih udara dalam ruangan, yang estetik menyerupai furnitur dan memperindah interior.

Basis Data Ilmiah untuk Kebijakan Iklim Nasional


Alfredo menekankan pentingnya data kuantitatif untuk memastikan kapasitas mikroalga dalam menyerap CO₂ dapat dijadikan rujukan kebijakan berbasis sains. "Kami sedang menghitung seberapa banyak mikroalga ini menangkap CO2 dengan peralatan yang sudah ada. Suatu saat kami berharap ini bisa menjadi standar," jelasnya.

Data tersebut yang bekerja sama dengan UGM, diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam perumusan kebijakan iklim, termasuk skema pajak karbon.

Alfredo optimistis Indonesia dapat memitigasi perubahan iklim melalui teknologi dalam negeri. Kekayaan biodiversitas lokal dinilai telah menyediakan solusi yang relevan. Untuk itu, dalam pengembangan mikroalga sebagai solusi iklim, diperlukan kolaborasi sains dasar, rekayasa, industri, dan kebijakan agar riset dapat bertransformasi menjadi inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.

#itb berdampak #kampus berdampak #itb4impact #diktisaintek berdampak #itb #dosen muda itb #riset itb #mikroalga #mitigasi perubahan iklim #penangkapan karbon #inovasi bioteknologi #ekonomi sirkular #kemandirian teknologi #sains berdampak #sdg13 #climate action #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg7 #affordable and clean energy #sdg12 #responsible consumption and production #sdg17 #partnerships for the goals