Studium Generale ITB, Nadia Habibie: Insinyur sebagai Pembangun Bangsa di Era Transformasi Teknologi

Oleh Merryta Kusumawati - Teknik Geodesi dan Geomatika, 2025

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id - Nadia Habibie, Executive Board The Habibie Center, mengajak mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil peran dalam membangun kemandirian teknologi nasional melalui penguatan industri strategis dan penguasaan teknologi fundamental.

Hal tersebut disampaikan dalam Studium Generale KU-4078 bertajuk “Kebutuhan Talenta Muda di Sektor Teknologi” yang digelar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Rabu (4/3/2026). Kegiatan ini memberikan wawasan mengenai arah transformasi industri masa depan serta kebutuhan talenta muda Indonesia dalam sektor teknologi.

Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa ITB memiliki tanggung jawab besar sebagai bagian dari talenta unggul bangsa. Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi faktor kunci dalam menentukan posisi Indonesia di tengah dinamika global.

“Mahasiswa ITB diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta dan pengembang solusi yang mampu menjawab tantangan nasional maupun global,” ujarnya.

Industri Strategis dan Transformasi Ekonomi

Dalam paparannya, Nadia Habibie menekankan bahwa setiap revolusi teknologi selalu membawa perubahan besar dalam distribusi kekuasaan global.

“Setiap revolusi teknologi mendistribusikan ulang kekuasaan. Pertanyaannya adalah, apakah kita membentuk teknologi atau justru dibentuk oleh teknologi tersebut?” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa bangsa yang mampu membangun teknologi fundamental masa depan akan memiliki peran penting dalam menentukan arah perkembangan global.

“Bangsa-bangsa yang membangun teknologi fundamental yang kompleks di masa depan akan membentuk masa depan itu sendiri,” tuturnya.

Nadia juga mengidentifikasi tiga sektor strategis yang perlu menjadi perhatian talenta muda Indonesia, yakni industri hijau, infrastruktur digital dan cerdas, serta sistem air dan pangan.

Peran Talenta Muda dalam Industri Hijau dan Digital

Pada sektor industri hijau, ia menyoroti potensi besar Indonesia melalui cadangan nikel dan energi terbarukan. Menurutnya, potensi tersebut harus dikelola melalui pendekatan teknologi dan inovasi yang berkelanjutan.

Hal ini juga relevan dengan struktur emisi gas rumah kaca Indonesia. Berdasarkan data Our World in Data (2020), sektor penggunaan lahan dan kehutanan (Nature/FOLU) menyumbang sekitar 34% emisi nasional, diikuti sektor industri sebesar 19% dan listrik 17%. Sementara itu, sektor pertanian dan pangan berkontribusi sekitar 10%, transportasi 9%, limbah 9%, serta bangunan 2%. Komposisi ini menunjukkan bahwa transformasi menuju industri hijau dan sistem energi bersih menjadi kunci dalam menurunkan emisi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

“Kemakmuran Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita ambil dari alam, tetapi oleh bagaimana kita memanfaatkannya melalui efisiensi dan inovasi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya peran insinyur dalam pembangunan nasional.

“Karena sekali lagi, para insinyur adalah pembangun bangsa,” ujarnya.

Pada sektor infrastruktur digital, Nadia mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam pengembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, otomasi industri, komputasi tepi, Internet of Things (IoT), hingga pusat data hemat energi. Pengembangan infrastruktur digital yang efisien energi dinilai penting, mengingat sektor listrik dan industri masih menjadi penyumbang emisi yang signifikan.

Sementara itu, pada sektor sistem air dan pangan, ia menekankan perlunya pendekatan berbasis data dan pemodelan sistem untuk menjawab tantangan distribusi dan produktivitas di negara kepulauan seperti Indonesia. Upaya peningkatan efisiensi di sektor pangan dan pengelolaan limbah juga berkontribusi dalam menekan emisi dari sektor pertanian dan limbah yang secara kumulatif mencapai hampir seperlima dari total emisi nasional.

Mahasiswa sebagai Pembangun Masa Depan Bangsa

Melalui Studium Generale ini, mahasiswa diajak untuk melihat transformasi teknologi sebagai ruang tanggung jawab sekaligus peluang kontribusi nyata bagi bangsa. Nadia Habibie menekankan bahwa arah masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan generasi muda dalam menguasai dan mengembangkan teknologi fundamental.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat perspektif mahasiswa ITB sebagai calon insinyur dan pemimpin masa depan yang tidak hanya berorientasi pada capaian individu, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kemandirian dan daya saing bangsa di tingkat global.

#itb berdampak #kampus berdampak #itb4impact #diktisaintek berdampak #studium generale #sdg4 #quality education #sdg7 #affordable and clean energy #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg13 #climate action #sdg17 #partnerships for the goals