Mengenang Pak Raden dan Jejak Suyadi sebagai Pendidik Sekaligus Pelopor Animasi Indonesia
Oleh Anggun Nindita -
Editor Muhammad Efriza Pandia
Pementasan mengenai Pak Raden dalam Pembukaan Museum Mini Suyadi.
BANDUNG, itb.ac.id — Bagi banyak orang Indonesia, Suyadi identik dengan Pak Raden, sosok berkumis tebal dengan suara khas dalam serial Si Unyil. Namun, jauh sebelum karakter itu dikenal luas, Suyadi telah menempuh perjalanan panjang sebagai ilustrator, animator, pendongeng, pendidik, sekaligus alumnus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sisi lain perjalanan Suyadi tersebut kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui Museum Mini Suyadi: Pameran Ilustrasi, Boneka, dan Warisan Budaya, yang berlangsung di Hotel Butik Sawunggaling, Bandung, 21–30 Agustus 2026.
Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB sekaligus dosen Kelas Ilustrasi Buku Anak (KIBA) ITB, Dr. Riama Maslan Sihombing, M.Sn., mengatakan, pameran tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan Suyadi secara lebih utuh, khususnya kepada generasi muda yang mungkin tidak tumbuh bersama Si Unyil.
“Kami senang sekali jika generasi muda yang belum mengenal Pak Suyadi bisa mengenal kembali sosok beliau, bukan hanya sebagai Pak Raden, tetapi juga sebagai pendongeng dan budayawan. Beliau sebenarnya multitalenta sekali,” ujarnya.
Suyadi merupakan mahasiswa Seni Rupa ITB angkatan 1952. Menurut Dr. Riama, kemampuan ilustrasinya telah menonjol sejak masa pendidikan. Ia memiliki penguasaan anatomi, ekspresi gerak, karakterisasi, latar, hingga pemilihan adegan yang kuat.

“Ilustrasinya bagus sekali, anatominya kuat. Karena beliau juga menyukai animasi, gerakan dalam gambarnya sangat ekspresif. Emosi, pemilihan latar belakang, karakterisasi, sampai bagaimana memilih adegan juga sangat kuat,” katanya.
Kemampuan tersebut kemudian berkembang semakin jauh ketika Suyadi memperdalam film dan animasi di Prancis pada awal 1960-an. Setelah kembali ke Indonesia, ia ikut membagikan pengetahuannya melalui pendidikan seni. Ketika Studio Desain Grafis–Seni Rupa ITB sekitar tahun 70-an, Suyadi menjadi dosen pertama yang mengajarkan animasi di studio tersebut.
Bagi Dr. Riama, perjalanan itu memperlihatkan bahwa sosok Suyadi tidak dapat dipisahkan dari berbagai disiplin yang saling melengkapi. Ia menggambar, membuat animasi, mendalang, mendongeng, serta membangun karakter dan cerita.
Beragam kemampuan tersebut kelak bertemu dalam dunia Si Unyil, yang membuat sosok Pak Raden begitu kuat dalam ingatan masyarakat.
Peran Penting Suyadi dalam Perkembangan Seni dan Animasi di Indonesia
Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ITB, Banung Grahita, S.Ds., M.Ds., Ph.D., menilai Suyadi memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan seni dan animasi Indonesia.

Menurutnya, masyarakat selama ini lebih banyak mengenal Suyadi melalui Pak Raden. Padahal, di balik karakter tersebut terdapat seorang kreator yang juga berperan sebagai pendidik dan turut membawa pengetahuan mengenai ilustrasi dan animasi kepada generasi berikutnya.
“Kalau sekarang kita melihat animasi Indonesia semakin berkembang dan semakin banyak kreator yang semakin canggih dalam bercerita, kalau ditarik ke belakang, salah satu orang yang memang mengawali ini semuanya adalah Pak Raden atau Pak Suyadi,” ujarnya.
Banung mengatakan, salah satu kekuatan utama Suyadi justru terletak pada kemampuannya untuk tidak berhenti pada satu disiplin.
Selain memiliki kemampuan menggambar dan ilustrasi yang baik, Suyadi juga piawai mendalang dan membangun cerita. Ia mampu mengolah suara, artikulasi, karakter, hingga narasi menjadi sebuah pertunjukan yang hidup.
“Beliau multitalenta. Selain pintar menggambar dan membuat ilustrasi yang baik, kekuatan beliau juga ada pada berceritanya. Bagaimana artikulasi beliau saat tampil, kemudian bagaimana mengembangkan cerita yang menarik,” katanya.

Menurut Banung, kemampuan tersebut masih sangat relevan bagi generasi kreator saat ini. Mahasiswa seni, misalnya, tidak cukup hanya memiliki keterampilan visual, tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan dalam membangun narasi.
“Sekarang secara kurikulum kami juga ingin mengembangkan lebih ke wilayah storytelling. Karena itu, tokoh-tokoh seperti Pak Raden benar-benar ingin kami dokumentasikan, bagaimana pendekatan beliau dalam berkarya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi referensi bersama,” tuturnya.
Ia berharap perjalanan maestro seperti Suyadi dapat menjadi sarana transfer pengetahuan kepada generasi kreator saat ini, bukan untuk sekadar meniru karya yang telah ada, melainkan untuk memahami semangat, ketekunan, dan cara seorang kreator mengembangkan gagasannya.
Menggambar Sejak Kecil hingga Belajar Animasi di Prancis
Perjalanan panjang tersebut ternyata telah bermula sejak Suyadi masih kecil.
Perwakilan keluarga Suyadi, Ilona Juwita, menceritakan bahwa kegemaran Suyadi terhadap menggambar sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Ia bahkan kerap menggambar di tembok hingga lantai rumah.

Alih-alih melarang, sang ayah justru mendukung bakat tersebut dengan menyediakan kertas dan pensil warna.
Dukungan itu berlanjut hingga Suyadi menempuh pendidikan seni di ITB. Semasa kuliah, ia tidak hanya tekun mengembangkan keterampilan seni rupa, tetapi juga giat mempelajari bahasa Prancis hingga menguasainya secara lisan maupun tulisan.
Kemampuan berbahasa tersebut kemudian membuka kesempatan baginya mendapatkan beasiswa dari Kedutaan Prancis untuk belajar animasi di Paris selama tiga tahun.
Namun, studi animasi yang ditempuhnya membutuhkan waktu empat tahun. Ketika masa beasiswa selesai, Suyadi memilih tetap bertahan di Prancis. Dengan kondisi serba terbatas, ia bekerja keras untuk membiayai tahun terakhir pendidikannya hingga berhasil menyelesaikan studi.
Sekembalinya ke Indonesia, pengetahuan tersebut tidak berhenti pada dirinya sendiri. Suyadi membagikannya kepada generasi berikutnya, salah satunya melalui perannya sebagai pengajar di ITB.
Keluarga juga mengenang Suyadi sebagai pribadi yang bijaksana dan dermawan. Ilona menceritakan salah satu kisah ketika rumah Suyadi pernah kemalingan. Alih-alih larut dalam kemarahan, ia justru memaklumi kejadian tersebut dengan beranggapan bahwa orang yang mengambil barangnya mungkin lebih membutuhkan.
Warisan bagi Generasi Muda

Perjalanan Suyadi memperlihatkan bahwa sosok di balik Pak Raden jauh lebih luas daripada karakter yang dikenang jutaan pemirsa televisi.
Ia adalah anak yang gemar menggambar, mahasiswa Seni Rupa ITB, pembelajar yang berjuang menyelesaikan pendidikan animasi di Prancis, pendidik yang membagikan pengetahuan, sekaligus kreator yang menyatukan ilustrasi, animasi, pertunjukan, suara, dan cerita.
Museum Mini Suyadi pun menjadi kesempatan untuk membaca kembali perjalanan tersebut, bukan semata sebagai nostalgia.
Bagi generasi yang pernah tumbuh bersama Si Unyil, Pak Raden mungkin menghadirkan kenangan masa kecil. Namun, bagi generasi kreator hari ini, Suyadi meninggalkan pelajaran lain: bahwa karya yang mampu bertahan melampaui zaman lahir dari keterampilan yang terus diasah, keberanian belajar lintas bidang, serta kemampuan menghadirkan cerita yang dekat dengan manusia.

.jpeg)






