Menuntut Ilmu, Menjaga Jiwa: Sarasehan KAMIL 2026 Siapkan Mahasiswa Menapaki Pascasarjana

Oleh Vito Egi Nandriansyah - Teknik Geofisika, 2021

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Foto bersama Kepala Subdirektorat Pengembangan Prestasi, Muhammad Yorga Permana, S.T., M.Sc., Ph.D., Ketua KAMIL Pascasarjana ITB 2026, Ir. Teuku Arriessa Sukhairi, S.T., M.Sc beserta seluruh peserta, Sabtu (22/8/2026). (Dok. Panitia)

BANDUNG, itb.ac.id — Perjalanan pendidikan pascasarjana tidak hanya menuntut kemampuan menjalankan riset, menghasilkan publikasi, serta menyelesaikan tesis atau disertasi. Mahasiswa juga perlu beradaptasi dengan tuntutan baru, menjaga integritas, dan membangun ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tekanan akademik.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam Sarasehan KAMIL Pascasarjana ITB 2026 yang diselenggarakan di Gedung TVST C, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (22/8/2026). Mengusung tema “Menuntut Ilmu, Menjaga Jiwa: Mempersiapkan Hati untuk Memulai Perjalanan Pascasarjana”, kegiatan ini menghadirkan Devi Ulumits Tiyas, S.T., M.T., dan Chandrania Estari, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Ketua Panitia PMB dan Sarasehan KAMIL Ganjil 2026 sekaligus Wakil Kepala Departemen Pengelolaan dan Pembinaan Anggota KAMIL Pascasarjana ITB 2026, Vionita, S.Si., mengatakan bahwa tema tersebut berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Di balik tuntutan menghasilkan karya dan kontribusi keilmuan, mahasiswa tetap memiliki keterbatasan, emosi, kebutuhan akan relasi, serta kebutuhan untuk beristirahat.

“Menuntut ilmu dan menjaga jiwa adalah dua hal yang saling beriringan, ibarat langkah dan arah. Ilmu membawa kita melangkah, sementara jiwa memastikan kita tahu ke mana harus menuju,” ujar Vionita.

Interaksi peserta dalam sesi tanya jawab di acara Sarasehan KAMIL Pascasarjana ITB 2026, Sabtu (22/8/2026). (Dok. Panitia)

Dalam sesi “Menapaki Jalan Ilmu: Adaptasi dan Integritas dalam Kehidupan Pascasarjana”, Devi mengajak mahasiswa memandang kesempatan menempuh pendidikan sebagai sebuah amanah. Waktu, kesehatan, kemampuan berpikir, dukungan keluarga, serta kepercayaan dari institusi dan masyarakat perlu dipertanggungjawabkan melalui kesungguhan belajar dan sikap berintegritas.

Mahasiswa juga perlu menempatkan penyelesaian studi sebagai prioritas tanpa menutup diri dari kesempatan mengikuti penelitian, konferensi, organisasi, pengabdian, dan pembangunan jejaring akademik. Menurut Vionita, keseimbangan penting agar berbagai aktivitas tidak membuat studi terbengkalai, tetapi mahasiswa juga tidak sekadar mengejar kelulusan dan melewatkan kesempatan untuk berkembang.

Sementara itu, melalui sesi “Merawat Jiwa: Resiliensi dan Keseimbangan di Perjalanan Pascasarjana”, Chandrania membahas pentingnya mengenali kondisi psikologis diri. Tekanan yang dialami mahasiswa tidak selalu bersumber dari persoalan akademik, tetapi dapat dipengaruhi pula oleh faktor individual, relasi interpersonal, lingkungan, dan kondisi institusi.

Resiliensi, lanjut Vionita, bukan berarti mahasiswa harus selalu kuat atau tidak pernah mengalami kegagalan. Resiliensi merupakan kemampuan untuk bangkit dari pengalaman sulit, mengambil pelajaran, dan kembali menemukan keseimbangan. Mahasiswa perlu mengenali kapan dirinya membutuhkan istirahat, dukungan sosial, perubahan strategi belajar, maupun bantuan profesional.

Keseruan peserta di acara Sarasehan KAMIL Pascasarjana ITB 2026, Sabtu (22/8/2026). (Dok. Panitia)

Peserta juga diajak membangun kemampuan regulasi emosi dengan mengenali dan menerima emosi, menenangkan diri, mengevaluasi keadaan, memilih respons, lalu bertindak. Di samping itu, tidur yang cukup, makanan sehat, dan aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan tubuh ketika menghadapi stres akademik.

Melalui sarasehan ini, KAMIL Pascasarjana ITB berharap mahasiswa mengubah cara pandang dari sekadar menyelesaikan kuliah menjadi menjalani proses untuk bertumbuh dan memberikan manfaat. Sebab, ketika masa studi berakhir, bukan hanya gelar yang tersisa, tetapi juga ilmu, pengalaman, jejaring, dan karakter yang dibangun selama perjalanan tersebut.

“Mahasiswa diharapkan tidak hanya berhasil menyelesaikan studi, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, resilien, berintegritas, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” tutur Vionita.

#itb #kamil itb #pascasarjana itb #sarasehan kamil #kesehatan mental mahasiswa #integritas akademik #resiliensi mahasiswa #sdg 3 #good health and wellbeing #sdg 4 #quality education