Rektor ITB di AVPN Global Conference 2026: Konvergensi Ilmu Kunci Masa Depan Kesehatan

Oleh -

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

NEW DELHI, itb.ac.id — Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., hadir sebagai salah seorang pembicara dalam AVPN Global Conference 2026, konferensi tahunan Asian Venture Philanthropy Network (AVPN) yang mempertemukan investor sosial, filantropis, pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang pembangunan dan dampak sosial di Asia, pada 25 Agustus 2026.

Mengusung tema "A Blueprint for Action in Asia", AVPN Global Conference 2026 berlangsung pada 25–27 Agustus 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India. Partisipasi dalam forum AVPN Global Conference membuka peluang untuk memperluas jejaring internasional, membangun kemitraan strategis, serta mengidentifikasi sumber pembiayaan baru bagi berbagai program inovasi dan pembangunan berkelanjutan.

Prof. Tata berpartisipasi dalam sesi "The Next Frontier in Global Health: Convergence, Prevention, and Innovation". Sesi ini mengangkat salah satu tantangan penting dalam pembangunan kesehatan masa depan: bagaimana menghadirkan inovasi kesehatan yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Prof. Tata berdiskusi bersama sejumlah tokoh dari berbagai sektor, yaitu Chetna Gala Sinha, Pendiri dan Ketua Mann Deshi Bank & Mann Deshi Foundation, India; Jesper Moller, Deputy Representative for Programmes, UNICEF India; serta Usha Viswanathen, Head of Health and Well-being, Temasek Foundation. Diskusi dimoderatori oleh Prof. Sankalp Chaturvedi, Co-Director Gandhi Centre for Inclusive Innovation dan Associate Dean for People and Culture, Imperial College Business School.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Tata menyampaikan bahwa tantangan Indonesia dalam pembangunan kesehatan tidak semata-mata terletak pada keterbatasan gagasan atau inovasi, melainkan pada kemampuan untuk membawa solusi yang telah terbukti berhasil menuju skala penerapan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Vent-I.

Sejumlah inovasi yang dikembangkan ITB menjadi contoh bagaimana hasil riset dan pengembangan teknologi dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di antaranya adalah Vaksin Merah Putih, yang dikembangkan melalui konsorsium enam institusi pada masa pandemi; Vent-I, ventilator yang telah digunakan di sekitar seribu titik layanan rumah sakit; serta NIVA dan heartGO, yang dikembangkan untuk mendukung deteksi risiko kardiovaskular tanpa mengharuskan masyarakat melakukan kunjungan langsung ke rumah sakit.

kaki prostetik yang dipajang di Museum ITB.

Prof. Tata juga menjelaskan contoh dampak sosial yang sangat nyata dari inovasi ITB, yaitu kaki prostetik (prosthetic leg) berbiaya rendah yang dirancang agar penggunanya tetap dapat melaksanakan salat dalam posisi bersila, sebagai salah satu alternatif bagi korban kecelakaan yang harus menjalani amputasi.

Menurutnya, meskipun produk ini dikembangkan dengan orientasi komersial guna mempertahankan biaya produksi yang rendah, dampak sosial yang dihasilkan sangat besar bagi para penggunanya.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam bidang kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti kebutuhan gizi dasar dan prevalensi stunting. Menurutnya, kekuatan perguruan tinggi terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai disiplin tersebut. Teknologi digital, kecerdasan buatan, analitik data, biosains, farmasi, teknik, hingga ilmu sosial, ekonomi, dan bisnis dapat dikolaborasikan untuk menghasilkan solusi kesehatan yang lebih komprehensif.

Prof. Tatacipta juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan inovasi perguruan tinggi bukan hanya publikasi atau kecanggihan teknologi.

"Ukuran keberhasilan inovasi bukan hanya publikasi atau kecanggihan teknologi, tetapi seberapa jauh pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi solusi dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Hal ini membutuhkan ekosistem yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, investor, lembaga filantropi, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan sejak pengembangan teknologi hingga pembiayaan, implementasi, dan perluasan skala inovasi.

Partisipasi ITB dalam AVPN Global Conference 2026 sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai penghubung antara knowledge, innovation, dan impact. Melalui konvergensi ilmu dan kolaborasi global, ITB berpeluang memperkuat kontribusinya dalam membangun inovasi kesehatan yang tidak hanya berkelas dunia, tetapi juga relevan dan memberikan manfaat nyata bagi Indonesia dan Asia.

#itb #rektor itb #avpn global conference 2026 #avpn #global health #inovasi kesehatan #teknologi kesehatan #riset dan inovasi #konvergensi ilmu #kecerdasan buatan #dampak sosial #itb berdampak #kolaborasi global #kemitraan strategis #pembangunan berkelanjutan #vent i #vaksin merah putih #niva #heartgo #new delhi #india #kaki palsu lokal #kaki prostetik #sdg 3 #good health and well being #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 17 #partnerships for the goals