Ekspedisi Pulau Genting: Hadirkan Program Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kolaborasi Himpunan Mahasiswa KMIL ITB dan IMG ITB

Oleh Indah Marcelinawati - Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Kolaborasi himpunan mahasiswa KMIL ITB dan IMG ITB melaksanakan program pengabdian masyarakat di Pulau Genting, Karimunjawa, Jawa Tengah dengan tiga fokus utama, yaitu lingkungan, pendidikan, dan ekonomi, Selasa (5/11/2025). (Dok. Tim Panitia Ekspedisi Pulau Genting)

BANDUNG, itb.ac.id – Himpunan mahasiswa KMIL ITB dan IMG ITB berkolaborasi melaksanakan program pengabdian masyarakat di Pulau Genting, Karimunjawa, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi wujud sinergi mahasiswa lintas himpunan dalam menghadirkan program berbasis masyarakat dengan tiga fokus utama, yaitu lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Program dilaksanakan selama tujuh hari, pada 3-11 November 2025.

Salah satu fokus utama kegiatan berada pada aspek lingkungan, khususnya persoalan sampah yang selama ini menjadi keresahan warga. Berangkat dari hasil diskusi dan wawancara bersama warga, tim merancang sistem pengelolaan sampah sederhana yang dapat diterapkan langsung masyarakat. Program tersebut dimulai dari pemilahan sampah di sumbernya. Tim menyediakan fasilitas pewadahan sampah organik dan anorganik secara terpisah agar proses pengolahan menjadi lebih mudah dilakukan.

Untuk sampah organik, tim memperkenalkan konsep “Biopori Ecosystem”, sebuah sistem pengolahan sederhana berbasis dekomposisi alami. Sampah dapur dan sisa makanan dimasukkan ke dalam tabung biopori yang ditanam di tanah. Dengan sistem ini, sampah organik dapat terurai secara alami sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Biopori tersebut ditempatkan di beberapa titik strategis yang menjangkau rumah-rumah warga. Karena Pulau Genting hanya memiliki satu jalan utama dengan pola permukiman memanjang di sekitarnya, satu titik biopori dirancang untuk digunakan bersama oleh tiga hingga empat rumah.

Sementara itu, sampah anorganik ditempatkan pada wadah terpisah. Dalam kondisi darurat akibat penumpukan sampah, tim juga membantu membuat sistem pembakaran yang lebih terkontrol. Meski bukan solusi ideal dalam jangka panjang, pendekatan ini dipilih sebagai langkah paling memungkinkan untuk mengurangi volume sampah dengan cepat dan menekan polusi udara seminimal mungkin. Setelah implementasi dilakukan, pembakaran menghasilkan asap putih yang jauh lebih tipis dibanding sebelumnya, sehingga dampak pencemaran udara dapat ditekan.

Pada bidang pendidikan, tim mahasiswa membangun pojok baca di sekolah yang ada di Pulau Genting. Mahasiswa menghadirkan rak buku, dekorasi ruangan, serta berbagai bacaan seperti buku sains, cerita anak, hingga novel ringan untuk menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak. Selain itu, mereka juga mengadakan kegiatan “Sekolah Alam”, berupa workshop sederhana tentang penyaringan air bersih. Anak-anak diajak memahami bagaimana sistem filter air bekerja dan bagaimana cara menghadapi kondisi air yang berubah di lingkungan pulau mereka.

Di bidang ekonomi, tim melihat bahwa sebagian besar aktivitas masyarakat masih bergantung pada hasil laut. Pilihan pekerjaan bagi warga yang tidak melaut, terutama ibu rumah tangga, relatif terbatas. Karena itu, program ekonomi difokuskan pada pengembangan produk lokal agar masyarakat memiliki pilihan sumber penghasilan selain dari hasil laut.

Salah satu potensi yang dikembangkan adalah olahan singkong, bahan pangan yang cukup banyak ditemukan di pulau tersebut. Mahasiswa bersama warga mencoba mengembangkan berbagai kemungkinan produk berbasis singkong sebagai langkah awal pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di balik seluruh program yang dijalankan, pengalaman paling berkesan justru datang dari interaksi bersama warga Pulau Genting sendiri. Selama tinggal di sana, mahasiswa merasakan bagaimana masyarakat pulau memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat kuat. Kehidupan di pulau kecil membuat hubungan antarwarga terasa seperti satu keluarga besar tanpa sekat.

“Warga tidak hanya membantu pembangunan fasilitas program, tetapi juga membuka rumah mereka untuk tempat tinggal mahasiswa. Mereka ikut bergotong royong, aktif berdiskusi, hingga menyampaikan keresahan dan harapan mereka terhadap kondisi pulau,” ucap Dennika Tenri Ghaisani, salah seorang mahasiswa yang mengikuti program tersebut. Kehangatan itu terasa dari hal-hal sederhana, yaitu mengajak makan bersama, membantu kebutuhan sehari-hari, hingga menemani proses pembangunan program dari awal sampai akhir.

Bagi tim Ekspedisi Pulau Genting, ini menjadi pelajaran bahwa persoalan sosial tidak pernah berdiri sendiri. Permasalahan sampah, pendidikan, ekonomi, hingga keterbatasan infrastruktur saling berkaitan satu sama lain. Hidup di pulau terpencil juga memperlihatkan bagaimana masyarakat harus bertahan dengan sumber daya yang terbatas, mulai dari akses transportasi, fasilitas pendidikan, hingga kebutuhan sehari-hari yang sering kali harus diperoleh dengan menyeberang laut.