Mahasiswa TPSDA ITB Raih Gold Award di Ajang Internasional WYIE 2026 Malaysia Lewat Inovasi Pertanian Otonom
Oleh Qoulan Tsaqila - Teknik Sipil 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Mahasiswa Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA), Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB), yang tergabung dalam Tim Amreta Amretaan, mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Mereka berhasil meraih Gold Award pada World Young Inventors Exhibition (WYIE) dalam rangkaian International Invention, Innovation, Technology Competition & Exhibition (ITEX) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, yang digelar 17-21 Mei 2026.
Ajang ini dikenal sebagai salah satu pameran dan kompetisi inovasi internasional paling bergengsi yang berfokus mendorong lahirnya solusi inovatif dan mampu menjawab tantangan global.
Tim yang dibimbing oleh Dr. Ir. Ana Nurganah Chaidar, S.T., M.T. ini beranggotakan Fatha Akbar Berlian, Niko Albertvito, Muhammad Farhan Darmawan, Alniro Fahrezel Wibowo, Ario Winoto, Muhammad Izzat Hikmatiar, dan Muhammad Iqra Rabbaanee.
Tim ini membawa inovasi sistem pertanian otonom yang diberi nama M.I.S.T.E.R. K.U.C.U.R (Machine-learning Intelligent System for Terrestrial & Environmental Rainwater-fog Utility Cloud-to-Runoff).
Inovasi ini lahir dari kegelisahan tim saat melakukan survei kepada petani di kawasan Jatinangor. Mereka menemukan bahwa daerah dataran tinggi sering mengalami krisis air. Penggunaan pompa dari dataran rendah tidak efisien secara energi sekaligus berisiko menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence) karena eksploitasi air tanah terus-menerus.
Terinspirasi dari kemampuan kaktus dalam menangkap uap air, tim mengadaptasi konsep fog harvesting (pemanenan kabut) untuk iklim tropis Indonesia yang memiliki kelembapan tinggi. M.I.S.T.E.R. K.U.C.U.R mengintegrasikan teknologi ini dengan machine learning untuk mengoptimalkan nutrisi tanaman secara otomatis.

Keberhasilan meraih Gold Award bukanlah perjalanan yang mulus. Tantangan muncul dari sektor finansial karena rencana anggaran biaya yang cukup besar. Namun, tim tidak putus asa dan terus maju hingga berangkat ke Malaysia.
“Kami hampir menyerah karena butuh dana cukup besar, tapi kami percaya diri untuk melanjutkan hingga akhir,” ujar Alniro, salah seorang anggota.
Selain itu, tantangan fisik dan mental terus menguji mereka selama di Malaysia. Mereka harus bertahan dengan waktu tidur hanya 2-3 jam per hari demi menyempurnakan maket dan berlatih pitching hingga dini hari. Kendala bahasa pun sempat menjadi tembok, terutama saat menjelaskan inovasi pertanian yang kompleks kepada pengunjung internasional. Namun, semua kelelahan itu terbayar lunas saat nama ITB menggema sebagai peraih emas.
Pengalaman berdiskusi dengan water resource engineer dari berbagai negara membuka wawasan sekaligus relasi baru bagi mereka. Inovasi yang diusung tim ini juga berkesempatan diimplementasikan lewat kerja sama dari mitra strategis.
Bagi Tim Amreta Amretaan, kompetisi ini memberikan pelajaran yang luar biasa. Tantangan terbesar dalam berinovasi ternyata adalah merealisasikan ide. Keberhasilan sebuah tim juga sangat bergantung pada keselaran tujuan anggotanya. Selain itu, tim ini mendorong rekan-rekan mahasiswa untuk lebih percaya diri menunjukkan karya di kancah internasional dan tidak terpaku di zona nyaman.






.jpg)
.jpg)