Gelaran Rutin Bioskop Kampus LFM ITB: Ruang Pemutaran Alternatif Film Mahasiswa

Oleh Gita Nur Ajizah - Astronomi, 2023

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Pengunjung Bioskop KampusxKintalk di Ruang 9009, ITB Kampus Ganesha, Minggu (12/4/2026). (Dok. Arvinoxa Rabbanibrata Furqon)

BANDUNG, itb.ac.id — Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB kembali menggelar Bioskop Kampus, program pemutaran film alternatif yang rutin diselenggarakan setiap dua hingga tiga bulan sekali. Pada edisi kali ini, LFM ITB berkolaborasi dengan Kintalk melalui "Bioskop Kampus x Kintalk" yang berlangsung di Ruang 9009, ITB Kampus Ganesha, Minggu (12/4/2026). Kegiatan ini memutarkan lima film pendek karya mahasiswa Bandung, disertai sesi talkshow dan diskusi bersama para sutradara.

Mengusung tema “Ngajieun”, acara ini menyoroti proses kreatif di balik pembuatan film pendek. Tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, Bioskop Kampus juga menjadi wadah bagi penonton untuk memahami bagaimana sebuah film dibangun, mulai dari gagasan, pendekatan visual, hingga pesan yang ingin disampaikan pembuatnya.

Pada penyelenggaraan kali ini, lima film pendek yang diputar, antara lain:

1. Whisper of The Horizon (2025)

2. Mahabbah (2025)

3. In Silence (2025)

4. Bertuhan/Bertahan (2024)

5. Warisan dalam Gerakan (2025)

Kelima film tersebut memiliki tema yang beragam. Hal itu memberikan pengalaman menonton yang kaya bagi penonton, mulai dari refleksi tentang akhir hidup dalam bentuk animasi, isu sosial yang dikemas lewat komedi anak-anak, hingga dokumenter mengenai warisan budaya.

Salah seorang pengunjung, Wawa, menilai pemutaran ini menarik karena memperlihatkan kekayaan perspektif dari para mahasiswa Bandung. Menurutnya, setiap film menghadirkan perbedaan yang terasa dari sisi alur, sinematografi, jenis film, hingga cara penyampaian emosi.

“Kalau menurut aku, jujur unik banget karena ini khusus dari mahasiswa Bandung kan, bukan khusus dari mahasiswa ITB. Jadi dari cerita-ceritanya juga banyak banget perbedaan plotnya, sinematografinya, tipe filmnya, hingga bagaimana penyampaian emosi dengan tone filmnya. Dan itu menarik banget,” ujarnya.

Sesi diskusi bersama para sutradara film-film pendek yang diputar pada Bioskop KampusxKintalk di Ruang 9009, ITB Kampus Ganesha, Minggu (12/4/2026). (Dok. Arvinoxa Rabbanibrata Furqon)
Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sesi talkshow dan diskusi bersama para sutradara. Sesi ini menjadi ruang berbagi mengenai proses pembuatan karya, tantangan produksi, dan cara para sineas muda mengolah keresahan atau gagasan menjadi medium film. Sesuai dengan tema “Ngajieun”, diskusi ini menekankan bahwa proses membuat film juga merupakan proses belajar yang aktif dan kolaboratif.

Ruang Pemutaran Alternatif yang Digelar Berkala

Bagi LFM ITB, Bioskop Kampus bukan sekadar acara pemutaran film satu kali, melainkan program rutin yang telah menjadi bagian dari ekosistem apresiasi film di kampus. Program ini diselenggarakan setiap dua hingga tiga bulan sekali sebagai ruang pemutaran alternatif bagi karya-karya terpilih, baik dari hasil open submission maupun arsip film yang telah masuk dalam kegiatan LFM ITB sebelumnya.

Film-film yang diputar dalam Bioskop Kampus tidak diunggah ke media lain karena berkaitan dengan aspek legalitas dan kesepakatan dengan pemilik karya. Karena itu, kegiatan ini menjadi ruang khusus yang memberi pengalaman menonton secara langsung dan eksklusif bagi penonton.

Manajer Bioskop Kampus LFM ITB 2025/2026, Vincentius Bhagaskara, menjelaskan bahwa isu yang diangkat dalam Bioskop Kampus dapat berbeda-beda pada setiap penyelenggaraan. Di ITB Jatinangor, misalnya, Bioskop Kampus pernah mengangkat tema untuk menyambut mahasiswa baru yang merantau ke kampus tersebut. Sementara itu, ada juga edisi yang membahas isu sosial-politik melalui kolaborasi dengan Kementerian Koordinator Sosial Politik Kabinet Mahasiswa (KM) ITB. Tahun ini, Bioskop Kampus juga sempat menayangkan film klasik "Lewat Djam Malam", karya bertema sosial-politik yang diproduksi pada 1954.

Bagian dari Ekosistem Berkarya LFM ITB

Keberlangsungan Bioskop Kampus juga tidak lepas dari produktivitas LFM ITB. Sepanjang 2025, LFM ITB memproduksi sekitar dua hingga empat film melalui kru-kru internalnya. Selain itu, terdapat pula produksi film tahunan hasil kolaborasi dengan Aku Masuk ITB (AMI). Sejumlah karya LFM ITB juga telah tampil di berbagai festival film, kompetisi, hingga penayangan internasional.

Bhagas menambahkan bahwa LFM ITB memiliki ruang pengembangan yang luas bagi para anggotanya. Hal itu didukung oleh beragam bidang di dalam organisasi serta banyaknya program kerja yang dapat diikuti sesuai minat anggota. Di luar program kerja resmi, terdapat pula proyek-proyek dari pihak luar yang memanfaatkan jasa kru LFM ITB untuk videografi dan editing.

“Pengembangan bakat kru LFM sebenarnya cukup baik karena memang kita punya banyak bidang, sehingga ada banyak program kerja. Untuk pengembangan bakat sangat amat luas karena memang minat setiap anggotanya ketika masuk LFM berbeda-beda. Ada yang lebih suka berorganisasi, atau berkomunitas, atau justru meresensi film,” kata Bhagas.

Melalui penyelenggaraan Bioskop Kampus yang rutin, LFM ITB menyediakan ruang apresiasi film bagi mahasiswa dan publik, juga memperkuat budaya menonton, berdiskusi, dan memahami film sebagai medium ekspresi serta pertukaran perspektif.

#itb #kampus berdampak #lfm itb #liga film mahasiswa #bioskop kampus #kintalk #film pendek #film mahasiswa #budaya #karya mahasiswa #sdg4 #quality education #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg17 #partnerships for the goals