Kolaborasi Mahasiswa ITB dan UGM, Raih Prestasi Internasional Singapore Youth Public Policy Competition 2026
Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Tim mahasiswa MBA lintas kampus berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi kebijakan publik tingkat ASEAN. Yusuf Noer Arifin dan Tefanissa Jihan Salsabila, dua mahasiswa Master of Business Administration (MBA) Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB Kampus Jakarta, berkolaborasi dengan Maliki Febriantono Saputra dari MBA Universitas Gadjah Mada (UGM), meraih Juara 3 pada Singapore Youth Public Policy Competition (SYPC) 2026 yang diselenggarakan oleh National University of Singapore (NUS) pada 20–21 Juni 2026.
SYPC 2026 merupakan kompetisi yang menantang peserta merumuskan proposal kebijakan publik guna menjawab permasalahan sosio-ekonomi nyata di Singapura, yang kemudian dipresentasikan langsung di hadapan dewan juri yang merupakan para pemimpin instansi pemerintahan Singapura.
Kompetisi ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas ternama di kawasan ASEAN, di antaranya NUS, Nanyang Technological University (NTU), Singapore Institute of Management (SIM), Universitas Brawijaya (UB), UGM, dan ITB.
Tim yang beranggotakan tiga orang ini merupakan satu-satunya representasi dari kolaborasi dua kampus berbeda di Indonesia, ITB dan UGM, yang berhasil menembus babak final dan pulang membawa gelar juara.
Berawal dari Mimpi yang Tertunda Sejak Masa Kuliah S1
Keikutsertaan Yusuf dalam kompetisi internasional ini berakar dari cita-cita lama yang sempat kandas. Saat menempuh pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Teknologi Pangan, Yusuf dan timnya sempat lolos ke babak grand final sebuah kompetisi pangan internasional di Selandia Baru. Sayangnya, pandemi Covid-19 membuat keberangkatan tersebut batal, dan impian untuk berkompetisi di kancah internasional tertunda hingga ia menyelesaikan kuliah dan bekerja penuh waktu selama empat tahun.
Ketertarikannya kembali muncul ketika ia menempuh program MBA Business Leadership Executive di ITB Kampus Jakarta. Bagi Yusuf, ajang ini istimewa karena diselenggarakan oleh NUS, salah satu universitas terbaik di Singapura sekaligus dunia, dan berskala internasional.
Yusuf pun mengajak Tefanissa (Tefa), teman semasa S1 di IPB yang kini juga menempuh MBA di ITB Jakarta dengan konsentrasi Strategic Marketing. Ia pun mengajak Maliki Febriantono Saputra, rekan S1-nya lainnya, yang kini menempuh MBA di UGM dan memiliki latar belakang di bidang konsultan politik—sebuah irisan keahlian yang dinilai relevan meski tidak sepenuhnya identik dengan kajian kebijakan publik.
Tema besar yang diusung SYPC 2026 adalah "Sustainable Job Security in Singapore". Dari tema tersebut, tim Yusuf melakukan analisis mendalam dan menemukan bahwa meskipun tingkat pengangguran di Singapura tergolong sangat rendah, negara tersebut menghadapi persoalan skill mismatch—ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki tenaga kerja dengan kebutuhan pemberi kerja.
Berdasarkan temuan, tim mengusulkan agar sebagian anggaran subsidi dialokasikan ulang, bukan menambah anggaran baru, untuk memberikan dua bentuk insentif sekaligus:
• Bagi pemilik UMKM, berupa pengurangan pajak (tax reduction) sebagai kompensasi agar mereka bersedia mengizinkan karyawannya mengikuti pelatihan.
• Bagi pekerja UMKM, berupa insentif finansial untuk menutupi kehilangan upah harian akibat mengikuti program SkillsFuture.
Salah satu nilai jual utama proposal tim ini adalah analisis cost-benefit yang mendalam, sesuatu yang menurut Yusuf jarang dilakukan oleh tim lain yang mayoritas berlatar belakang studi kebijakan publik murni. Berbekal latar belakang bisnis dari program MBA, tim mampu menunjukkan bahwa manfaat dari program yang diusulkan lebih besar dibandingkan biayanya, sehingga kebijakan tersebut layak untuk langsung dieksekusi.
Batik sebagai Identitas: Pesan dari Panggung Internasional
Salah satu momen berkesan yang terekam dalam dokumentasi kompetisi adalah saat ketiga anggota tim mengenakan batik lengan panjang pada hari kedua kompetisi saat menerima sertifikat. Menurut Yusuf, pilihan ini bukan tanpa alasan. Batik lengan panjang dinilai memiliki kesetaraan formalitas dengan jas, sekaligus menjadi simbol identitas nasional Indonesia.
"Kita sebagai mahasiswa Indonesia, kita juga bisa untuk berkompetisi dan berkontribusi di panggung internasional dengan mahasiswa-mahasiswa top global lainnya," ujar Yusuf, menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia tidak hanya mampu bersaing di lingkup domestik, tetapi juga mampu memberi kontribusi nyata di kancah internasional.
Yusuf mengenang momen kecil namun berkesan di bandara, ketika salah satu petugas memuji batik yang ia kenakan—sebuah bukti kecil bahwa warisan budaya Indonesia turut mendapat apresiasi di mata dunia.
Membuktikan Kualitas Kampus Dalam Negeri di Kancah Internasional
Bagi Yusuf, pembelajaran paling berharga dari kompetisi ini adalah terbuktinya kemampuan mahasiswa kampus-kampus terbaik Indonesia—ITB, UGM, dan IPB—untuk bersaing setara di level internasional. Pencapaian ini, menurutnya, turut mematahkan anggapan bahwa kampus dalam negeri kalah bersaing dari segi kualitas dibandingkan kampus luar negeri.
Melalui pencapaian ini, tim berharap prestasi mereka dapat menjadi kontribusi positif bagi ITB, sekaligus memotivasi mahasiswa lain baik dari ITB maupun kampus-kampus lain di Indonesia untuk berani mengambil langkah serupa: melangkah keluar dari zona nyaman, berkolaborasi lintas disiplin dan lintas kampus, serta terus mengasah kemampuan untuk bersaing di panggung nasional maupun internasional.

.jpg)





.jpg)