Mahasiswa ITB Ubah Ampas Tebu dan Sabut Kelapa Jadi Kertas Multifungsi Bernilai Jual
Oleh Muhammad Hanif Darmawan - Teknik Pertambangan, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Sekelompok mahasiswa dari program studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan inovasi kertas ramah lingkungan yang disebut "BioKertas". Di bawah koordinasi Muhammad Labib Widianto, mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi, mereka sukses mengolah limbah ampas tebu dan sabut kelapa yang kerap tidak terpakai menjadi lembaran kertas multifungsi yang memiliki nilai ekonomis.
Inovasi BioKertas ini berbeda dari kertas daur ulang pada umumnya, terutama dari segi bahan baku utama, tekstur yang dihasilkan, serta nilai ekonomisnya. "Inovasi BioKertas ini adalah pembuatannya berbahan dasar dari penggabungan dua limbah organik yaitu ampas tebu dan sabut kelapa yang masih banyak tidak terpakai," jelas Labib.
Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahap. Pertama, ampas tebu dan sabut kelapa dikeringkan di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, lalu dipotong kecil-kecil. Bahan tersebut kemudian direbus selama 30 menit, dan ditambahkan larutan NaOH 3% serta Alkohol 70% sebelum direbus kembali hingga mendidih. Setelah ditiriskan, bahan dihaluskan hingga menjadi bubur kertas (pulp). Pulp ini kemudian dicampur dengan larutan pengental dari tapioka dan kaolin sebelum dicetak menjadi lembaran kertas.

Hasilnya, BioKertas ini memiliki keunggulan dapat digunakan sebagai bahan tulis normal menggunakan pulpen. Selain itu, produk ini juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai kemasan makanan ramah lingkungan. Inovasi ini dipamerkan dalam pameran karya bertajuk "ALICE: Abyanara's Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment". Acara yang diinisiasi oleh mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa limbah dapat diubah menjadi "keajaiban" bernilai tinggi.
Labib mengakui ada beberapa tantangan dalam proses pembuatannya, terutama pada proses pemasakan yang volume airnya harus presisi dan proses pengeringan yang masih bergantung pada cuaca karena menggunakan sinar matahari.

Meski memiliki nilai jual yang potensial dengan target pasar industri kertas, proyek ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut. "Belum dilakukan uji tarik dan tahan terhadap BioKertas. Untuk kemasan pangan juga harus dikembangakan lebih lanjut agar bahannya aman," tutur Labib mengenai rencana mereka kedepan.




.jpg)


