Menapaki Dunia Teknologi dan Bisnis, Begini Kisah Alumni ITB Muhamad Fajrin Rasyid

Oleh Ibnu Arif -

Editor Anggun Nindita

BANDUNG, itb.ac.id — Perjalanan karier Muhamad Fajrin Rasyid di dunia teknologi bermula dari ketertarikannya pada kode program dan aplikasi saat menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Belasan tahun kemudian, pengalaman tersebut membawanya menjadi salah satu profesional di bidang digital, teknologi, dan pengembangan bisnis di Indonesia.

Kisah perjalanan tersebut dibagikan Fajrin dalam Studium Generale (KU4078) ITB bertema “Membangun Talenta Digital”, Rabu (30/9/2026). Kegiatan diselenggarakan serentak di Aula Barat ITB Kampus Ganesha, Ruang Kelas 9706 Gedung B ITB Kampus Cirebon, dan Ruang U301 ITB Kampus Jatinangor, serta disiarkan secara daring.

Kuliah umum tersebut menghadirkan Fajrin yang merupakan Co-Founder Bukalapak dan mantan Direktur Digital Business Telkom Indonesia. Ia merupakan alumni Program Studi Sarjana Informatika ITB angkatan 2004 dan kemudian kembali ke ITB untuk menempuh studi magister pada program Master of Business Administration (MBA) angkatan 2021.

Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di berbagai perusahaan dan startup, perjalanan Fajrin memperlihatkan bagaimana latar belakang teknologi dapat berkembang dan dipadukan dengan pemahaman bisnis. Salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut adalah ketika ia bersama dua rekannya, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono, merintis Bukalapak.

Ketiganya merupakan alumni Informatika ITB angkatan 2004. Berawal dari kegemaran membuat kode program dan aplikasi, mereka kemudian mengembangkan sebuah gagasan yang tumbuh menjadi salah satu perusahaan teknologi di Indonesia.

“Bukalapak itu didirikan oleh tiga orang alumni ITB Informatika 2004 semuanya. Kami bertiga itu memang dulu semua geek begitu ya. Ya, kerjanya coding, bikin aplikasi yang itu kemudian menjadi awal, sehingga lahirlah Bukalapak di garasi atau kos-kosan di tahun 2009,” ujar Fajrin.

Perjalanan Bukalapak pun tidak terlepas dari kegemaran ketiganya melakukan jual beli sepeda dan barang bekas. Dari aktivitas tersebut, mereka melihat peluang untuk menghadirkan sebuah marketplace yang dapat mempertemukan penjual dan pembeli dalam satu platform.

Pada 2011, gagasan tersebut semakin diarahkan untuk menjadikan Bukalapak sebagai wadah bagi masyarakat luas untuk melakukan transaksi jual beli secara daring. Saat itu, mereka membawa visi untuk menjadikan Bukalapak sebagai bazar online terbesar di Indonesia.

“Karena kita dulu suka jual beli sepeda, barang-barang bekas, barang-barang second. Jadi kita jadikan ini sebagai marketplace di mana semua orang bisa jualan jual beli di situ,” tutur Fajrin.

Ia melanjutkan, “Visi kami apa? Wah, kami ingin menjadi bazar online terbesar di Indonesia. Jadi, target kami memang seperti itu.”

Dari sebuah gagasan yang tumbuh di lingkungan pertemanan dan kegemaran membuat aplikasi, perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi pengalaman profesional yang membentuk karier Fajrin di bidang teknologi dan bisnis.

Terus Belajar, Supaya Bisa Ikut Serta Menciptakan Teknologi

Perjalanan Fajrin di dunia teknologi juga membawanya pada satu hal yang menurutnya penting untuk terus dijaga, yaitu kemauan untuk belajar.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat seseorang perlu terus mengasah kemampuan dan menjaga rasa ingin tahu. Bukan hanya agar dapat mengikuti perkembangan teknologi saat ini, tetapi juga agar mampu beradaptasi ketika muncul teknologi dan pengetahuan baru di masa mendatang.

Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang saat ini banyak dibicarakan. Bagi Fajrin, kemampuan untuk terus belajar justru menjadi bekal penting agar seseorang dapat tetap relevan di tengah perubahan teknologi.

“Kalau menurut saya skill yang paling penting, justru adalah skill untuk mau terus belajar. Jadi, bagaimana caranya supaya kita tetap stay relevan. Saat ini, barangkali orang semua membicarakan soal AI. Tapi ke depan sangat mungkin ternyata ada teknologi baru, ada ilmu baru sehingga bagaimana kita tetap mau memiliki growth mindset itu adalah hal yang justru menurut saya paling penting,” jelasnya.

Pesan tersebut juga tercermin dalam perjalanan Fajrin sendiri. Setelah menempuh pendidikan di bidang Informatika, ia tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi terus memperluas pengalaman ke bidang bisnis, manajemen, dan pengembangan perusahaan. Ia bahkan kembali ke ITB untuk melanjutkan pendidikan magister di bidang manajemen bisnis.

Bagi mahasiswa dan generasi muda yang ingin berkarier di bidang teknologi, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan untuk beradaptasi dan terus belajar menjadi bagian penting dalam membangun perjalanan profesional.

Tips Sukses Bagi Perusahaan Start Up
Pengalaman membangun Bukalapak dari tahap awal turut memberikan Fajrin perspektif mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh perusahaan rintisan, terutama ketika ingin mendapatkan kepercayaan investor.

Menurutnya, salah satu fondasi penting adalah memiliki visi yang jelas. Namun, visi saja tidak cukup. Sebuah startup juga perlu memiliki strategi yang dapat dijalankan serta bukti nyata bahwa gagasan tersebut memang dapat diwujudkan.

Bukti tersebut, antara lain, dapat terlihat dari produk yang telah dikembangkan dan adanya pengguna yang benar-benar memanfaatkan produk tersebut.

“Jadi, yang pertama, kamu harus memiliki visi yang jelas, tetapi kamu juga harus memiliki strategi dan bukti bahwa apa yang kamu sampaikan itu ada buktinya, sudah dibuat dan juga sudah memiliki user yang menggunakan produk itu,” ungkapnya.

Bagi Fajrin, perjalanan membangun sebuah perusahaan pada akhirnya bukan hanya tentang menemukan sebuah ide, tetapi juga tentang bagaimana ide tersebut terus dikembangkan, diuji, dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Dari pengalaman sebagai mahasiswa Informatika ITB hingga menjadi bagian dari perjalanan Bukalapak dan kemudian berkiprah di bidang digital business, Fajrin menunjukkan bahwa perjalanan karier dapat tumbuh dari rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.

Melalui Studium Generale “Membangun Talenta Digital”, pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bagi mahasiswa ITB mengenai bagaimana kompetensi teknologi dapat terus dikembangkan dan dipadukan dengan kemampuan bisnis untuk menghadapi perubahan dunia digital.

#studium generale #sg #alumni #teknologi #bisnis #sdg4 #quality education #sdg8 #decent work and economic growth #sdg9 #industry innovation and infrastructure