Menko Airlangga Soroti Peran AI dan Ekonomi Digital untuk Mendorong Produktivitas Masyarakat

Oleh Andre Otniel Panggabean - Mahaasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022

Editor Muhammad Efriza Pandia


BANDUNG, itb.ac.id – Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi digital semakin membuka peluang baru bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, serta kualitas kehidupan masyarakat. Untuk membahas berbagai peluang dan tantangan tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan 13th International Conference on ICT for Smart Society (ICISS) 2026, dengan tema “Exploring the Future Digital Twin: Revolutionizing Decision-Making through AI for Improving Society”, yang dibuka pada Rabu (26/8/2026) di Aula Timur, ITB Kampus Ganesha.

Dalam konferensi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto hadir sebagai keynote speaker dan memaparkan perkembangan ekonomi digital Indonesia, pemanfaatan AI, penguatan infrastruktur digital, pengembangan talenta, hingga peluang investasi di bidang teknologi.

Mengawali paparannya, Menko Airlangga mengapresiasi penyelenggaraan konferensi yang mempertemukan akademisi, pimpinan perguruan tinggi, pelaku bisnis, mitra internasional, serta berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan teknologi digital.

Ia mengatakan, ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan perkembangan. Pertumbuhan tersebut didukung oleh besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia serta semakin terintegrasinya berbagai teknologi, mulai dari data, sensor, AI, hingga jaringan digital.

"Perkembangan ekonomi digital menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung ambisi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus meningkatkan produktivitas masyarakat," ujarnya.

AI Membuka Peluang di Berbagai Sektor

Menko Airlangga juga menyoroti semakin luasnya penggunaan AI di Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 80 persen pengguna internet telah berinteraksi dengan AI setiap hari. Sementara itu, pendapatan yang berkaitan dengan aplikasi berbasis AI tercatat tumbuh 127 persen secara tahunan pada paruh pertama 2025.

"Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI mulai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Di sisi lain, pemanfaatan AI juga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta daya saing berbagai sektor," paparnya.

Transformasi tersebut, lanjutnya, mulai terlihat di berbagai bidang. Dalam sektor pertanian, misalnya, teknologi dimanfaatkan melalui pengembangan smart farming dan kawasan pertanian berbasis teknologi. Di bidang kesehatan, teknologi digital mulai diterapkan melalui perangkat diagnostik dan berbagai layanan kesehatan.

Sementara itu, pada sektor perdagangan dan ritel, teknologi berbasis AI dan komputasi awan dimanfaatkan untuk melakukan pemantauan secara waktu nyata.

"Pengembangan teknologi digital juga dinilai penting untuk memperkuat keterhubungan antara aktivitas ekonomi digital dan ekonomi fisik, termasuk melalui pengembangan teknologi tinggi dan konsep kota cerdas," katanya.

Infrastruktur, Talenta, dan Investasi Jadi Fondasi AI
Menurut Menko Airlangga, pengembangan AI di Indonesia membutuhkan tiga pilar utama, yaitu infrastruktur, talenta, dan investasi.

“Pengembangan AI membutuhkan tiga pilar, yaitu infrastruktur, talenta, dan investasi,” ucapnya.

Dari sisi infrastruktur, beliau menekankan pentingnya ketersediaan energi, khususnya energi terbarukan, sebagai salah satu fondasi bagi pertumbuhan teknologi digital. Ia juga menyinggung peluncuran proyek berkapasitas 100 gigawatt yang dilakukan Presiden pada hari sebelumnya sebagai bagian dari upaya memperluas ketersediaan infrastruktur hijau dalam beberapa tahun ke depan.

Selain energi, infrastruktur digital seperti jaringan serat optik, satelit, dan pusat data juga menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan AI. Dalam paparannya, Menko Airlangga menyebut sekitar 1,17 gigawatt kapasitas pusat data berada dalam tahap pengembangan, dengan 714 megawatt masih dalam tahap perencanaan dan 156 megawatt telah beroperasi atau berada dalam tahap konstruksi.

Ketersediaan infrastruktur tersebut diperlukan untuk memperkuat kemampuan komputasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem digital dan AI di Indonesia.

Tidak kalah penting, pengembangan talenta digital menjadi bagian dari upaya memastikan Indonesia mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara optimal. Menko Airlangga menyampaikan adanya kemitraan untuk melatih 15.000 insinyur Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun.

Menurutnya, kesempatan tersebut perlu dimanfaatkan oleh perguruan tinggi dan para insinyur muda untuk meningkatkan kompetensi sekaligus mengambil peran dalam pengembangan teknologi di Indonesia.

“Program pelatihan tersebut telah didukung pendanaannya oleh Danantara. Karena itu, perguruan tinggi dan para insinyur muda perlu memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” tuturnya.

Teknologi Harus Bermuara pada Manfaat bagi Masyarakat
Di sisi lain, beliau juga menekankan bahwa besarnya peluang perkembangan teknologi tidak dengan sendirinya menentukan masa depan masyarakat. Hal yang lebih penting adalah bagaimana AI, keterampilan digital, dan teknologi dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang nyata.

Pemanfaatan teknologi, menurutnya, perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, memperbaiki kualitas pelayanan publik, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Konferensi ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengeksplorasi apa yang dapat dilakukan teknologi, tetapi juga untuk melihat apa yang dapat kita lakukan dengan teknologi dalam membangun masyarakat yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

#itb #kecerdasan buatan #ai #sdg4 #quality education #sdg8 #decent work and economic growth #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg17 #partnerships for the goals