Menko Muhaimin Hadiri Studium Generale ITB Bahas Indonesia Naik Kelas
Oleh Devi Berliana Pratiwi - Profesi Apoteker, 2025
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Studium Generale Tahun Akademik 2025/2026 dengan tema “Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas” di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Rabu (11/2/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Wakil Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, Dany Amrul Ichdan, serta dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Dr. (H.C.) H. Muhaimin Iskandar, M.Si.
Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Indonesia Naik Kelas
Dalam sambutannya, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh lebih cepat, terlebih dengan bonus demografi dan posisi strategis dalam geopolitik global.
Ia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mencetak lulusan yang berani mengambil risiko dan siap berkeringat demi kemajuan bangsa.
“ITB itu utama mencetak lulusan, kita mau menjadikan adik-adik ini penggerak kemajuan bangsa, yang mau mengambil risiko, berkeringat, lelah untuk kemajuan bersama, sehingga para akademisi perlu bergaul dengan praktisi di industri, pemerintah, dan juga masyarakat,” katanya.
Menko Muhaimin: Ekonomi Hijau Peluang Besar Pemberdayaan
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi untuk melahirkan gagasan strategis yang berdampak nyata.
Ia mengingatkan bahwa transformasi ekonomi harus inklusif dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan membuka peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
“Kolaborasi sangat penting sebagai lahirnya karya intelektual yang langka, inspiratif, tajam dan analitis, berani mengambil gagasan-gagasan baru dan membumi bagi kepentingan bangsa kita,” ujarnya.
Muhaimin menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terjebak pada posisi medioker. Upaya bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri harus diarahkan pada peningkatan produktivitas dan penciptaan nilai tambah berbasis inovasi.
Strategi 8-8 Menuju Pertumbuhan 8 Persen
Dalam kuliah umumnya, Dany Amrul Ichdan memaparkan gagasan tentang strategi mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen melalui penguatan delapan sektor prioritas, mulai dari pertahanan, ekonomi kreatif, farmasi, digital dan elektronik, maritim, ketahanan pangan, energi terbarukan, hingga mineral kritis.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar. Namun, potensi tersebut harus diorkestrasi secara strategis agar menghasilkan nilai tambah.
Ia menjelaskan konsep “8 akselerator” sebagai mesin pendorong pertumbuhan, antara lain investasi berkualitas, kawasan industri cerdas, logistik terintegrasi, APBN sebagai motor industri, kebijakan fiskal pro-daya saing, ekspor bernilai tinggi, penguatan pasar domestik, serta kepemimpinan orkestratif.
“Negara tidak akan naik kelas hanya dengan mimpi atau slogan besar. Ia membutuhkan eksekusi yang berani, disiplin yang tak goyah, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan pemerintah, industri, dan rakyat dalam satu irama perjuangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang dibutuhkan bukan hanya mampu merumuskan visi, tetapi juga mengorkestrasi kebijakan agar sinkron di lapangan dan terukur hasilnya.
Dany juga menekankan bahwa kedaulatan ekonomi harus berjalan beriringan dengan kedaulatan intelektual. Pengelolaan sumber daya tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan alam, tetapi harus ditopang oleh kecerdasan, inovasi, serta keberanian mengambil keputusan strategis.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, gagasan “Indonesia Naik Kelas” diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi gerakan bersama menuju pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdampak luas bagi masyarakat.
Adapun Studium Generale pertemuan pertama pada tahun akademik 2025/2026 ini dihadiri lebih dari 1000 mahasiswa dari ITB Kampus Ganesha, Jatinangor dan Cirebon. Sesi diskusi dipandu oleh moderator Jagat Pirayani, Ph.D., Dosen dari Kelompok Keahlian Bisnis dan Keuangan, Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB.








