Orasi Ilmiah Prof. Ahmad Faizal: Dari Luka Menjadi Aroma, Mengungkap Bahasa Kimia Tumbuhan
Oleh Jekky - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Orasi Ilmiah Guru Besar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Sabtu (12/9/2026). Pada acara tersebut, Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB menyampaikan orasi berjudul "Dari Luka Menjadi Aroma: Mengungkap Bahasa Kimia Tumbuhan".
Prof. Ahmad membuka orasinya dengan memperkenalkan gaharu sebagai tumbuhan yang kerap diasosiasikan dengan nuansa mistis, tetapi di Paris, Mekah, dan London justru menjadi salah satu bahan parfum paling mewah di dunia dengan nama oud.
"Bahan yang di satu tempat kita bakar, di tempat lain dimasukkan dalam botol kecil, dan setelah masuk dalam botol kecil biasanya harganya berubah cukup drastis," ujarnya.
Yang menghubungkan dua dunia itu, menurutnya, adalah kimia.
Paradoks Pohon Sehat
Indonesia memiliki lebih dari 10 spesies tumbuhan penghasil gaharu, terutama dari genus Aquilaria dan Girinops. Namun, di balik nilai ekonominya yang tinggi, tersimpan sebuah paradoks biologis yang menjadi inti riset Prof. Ahmad selama bertahun-tahun. Pohon gaharu yang sehat justru tidak menghasilkan resin gaharu. Resin baru terbentuk ketika pohon mengalami luka atau tekanan lingkungan.
"Ternyata bukan hanya manusia yang kadang lebih produktif ketika berada di bawah tekanan," ungkapnya.
Secara biologis, yang terjadi adalah mekanisme pertahanan diri pohon ketika luka menjadi sinyal, sinyal mengaktifkan gen, gen mengubah metabolisme, dan metabolisme menghasilkan aroma.
Luka Saja Tidak Cukup
Namun, temuan paling penting dari risetnya justru menunjukkan bahwa luka semata tidak cukup. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Symbiosis (2020), Prof. Ahmad dan timnya membandingkan pohon yang tidak diberi perlakuan, hanya dilukai, dan diinokulasi menggunakan jamur Fusarium solani. Hasilnya menunjukkan bahwa inokulasi jamur menghasilkan perubahan jaringan yang jauh lebih nyata dan peningkatan akumulasi resin yang signifikan dibanding pelukaan saja.
"Untuk menghasilkan gaharu dengan respons yang lebih kuat, pohon ini juga membutuhkan partner. Dan dalam kasus penelitian kami, partner tersebut adalah Fusarium solani," ujarnya.
Lebih jauh, pengujian dengan berbagai cekaman biotik dan abiotik menunjukkan bahwa tumbuhan tidak hanya merespons stres, tetapi juga selektif terhadap siapa yang memberikan stres tersebut.
"Pohon pun cukup selektif memilih siapa yang boleh membuat hidupnya lebih rumit," ujarnya.
Karena itu, beliau lebih suka menyebut pembentukan gaharu bukan sekadar respons pasca-pelukaan, melainkan sebagai dialog molekuler antara pohon, mikroorganisme, dan lingkungannya. Mikroba memberikan sinyal, pohon membaca dan mengaktifkan pertahanannya, perubahan kimia yang dihasilkan pohon kembali mempengaruhi mikroba sehingga terjadi interaksi dua arah yang berujung pada akumulasi resin.
Dari Membaca ke Mengendalikan
Untuk membaca dialog molekuler yang tak kasat mata ini, tim riset memanfaatkan teknologi omics dengan mekanisme transkriptomik untuk melihat gen yang aktif, proteomik untuk melacak perubahan protein, dan metabolomik untuk mengidentifikasi senyawa yang terbentuk. Tantangannya, ribuan gen dapat berubah sekaligus, sehingga tugas peneliti adalah menyaring mana yang benar-benar penting dari ribuan "suara" tersebut.
Ke depan, Prof. Ahmad mengarahkan risetnya menuju konsep plant biofactory yang tidak hanya sekadar mengandalkan alam, melainkan bergerak menuju kultur sel, bioreaktor, rekayasa metabolisme, hingga pendekatan biologi sintetik. Tumbuhan dipandang bukan hanya sebagai sumber bahan baku, tetapi sebagai sistem biologis yang dapat direkayasa untuk menghasilkan molekul bernilai tinggi seperti seskuiterpen dan kromon yang dikenal sebagai senyawa khas gaharu yang membentuk aroma dan nilai ekonominya.
Ilmu untuk Petani, Bukan Hanya Jurnal
Prof. Ahmad menegaskan bahwa perjalanan riset tidak boleh berhenti di laboratorium dan publikasi ilmiah. Hasilnya harus kembali kepada masyarakat dalam bentuk pengembangan bibit, teknologi inokulasi, dan inovasi lainnya yang dapat dirasakan langsung oleh petani gaharu. Tiga harapan utama yang diusung adalah peningkatan produktivitas, peningkatan nilai ekonomi, dan konservasi spesies gaharu Indonesia.
Menutup orasinya, beliau merefleksikan perjalanan akademiknya dengan kalimat yang sederhana tetapi kuat maknanya: "Guru Besar bukanlah garis finis, melainkan kilometer berikutnya dalam perjalanan untuk terus belajar dan memberi manfaat."
Profil Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si
Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si., lahir di Nipa, Sulawesi Selatan, pada 2 Juli 1981. Beliau merupakan Guru Besar pada Kelompok Keahlian Sains dan Bioteknologi Tumbuhan, Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) ITB dengan bidang kepakaran Bioteknologi Tumbuhan. Saat ini, beliau menjabat sebagai Ketua Program Studi Doktor Biologi sekaligus Ketua Pembina Tim Olimpiade Biologi Indonesia.
Perjalanan akademiknya sepenuhnya berakar di dunia sains tumbuhan. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di ITB sebelum melanjutkan studi doktoral di Ghent University, Belgia. Selain aktif meneliti, ia juga konsisten berkontribusi dalam pengembangan talenta muda melalui olimpiade biologi di tingkat nasional maupun internasional.
Produktivitasnya di bidang riset tercermin dari rekam jejak lima tahun terakhir yang menghasilkan 12 kegiatan penelitian dan 29 publikasi ilmiah. Kemudian, bersama rekannya, beliau juga menghasilkan satu buku monograf, lima buku referensi, dan satu paten. Atas dedikasinya, Prof. Ahmad mendapat pengakuan sebagai dosen berprestasi di bidang penelitian dari ITB pada 2017, serta penghargaan Satyalencana Karya Satya 10 Tahun pada 2023.
.jpg)

.jpeg)



