Orasi Ilmiah Prof. Mustika Sufiati Purwanegara: Transformasi Pengetahuan menjadi Kapabilitas UMKM Melalui Knowledge Orchestration

Oleh Ahza Asadel Hananda Putra - Mahasiswa Teknik Pangan, 2021

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id — Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Sidang Orasi Ilmiah secara bauran di Aula Barat ITB pada Sabtu (12/9/2026). Salah satu guru besar yang menyampaikan orasinya adalah Prof. Dr. Ir. Mustika Sufiati Purwanegara, M.Si., dari Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, dengan judul "Societal Marketing untuk Indonesia: Transformasi Pengetahuan Menjadi Kapabilitas dan Kesejahteraan Melalui Knowledge Orchestration".

Paradoks Digitalisasi dan Tantangan UMKM

Dalam orasinya, Prof. Mustika menyoroti sebuah paradoks di Indonesia: mengapa negara dengan kekayaan alam yang melimpah belum sepenuhnya mampu mengubah kelimpahan tersebut menjadi keunggulan bersaing dan kemakmuran yang merata. Beliau menekankan bahwa akar masalahnya bukan sekadar keterbatasan modal para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), melainkan pada persoalan struktural, akses, dan kesenjangan kapabilitas.

“Akses teknologi harus bertemu dengan kapabilitas. Saat ini, digitalisasi memang menurunkan hambatan masuk bagi UMKM, tetapi tidak otomatis meningkatkan kapabilitas mereka. Teknologi baru akan menciptakan nilai ketika kapabilitas itu ada,” ujarnya.

Beliau memaparkan bahwa digitalisasi saat ini sering kali hanya menambah "pengendali baru" melalui algoritma dan platform e-commerce. Hal ini membebani pelaku usaha mikro dengan biaya tambahan seperti optimasi mesin pencari dan periklanan. Akibatnya, posisi tawar UMKM—yang mendominasi 99% struktur ekonomi Indonesia—tetap lemah di tengah keterbukaan pasar.

Societal Marketing untuk Produsen Akar Rumput

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Prof. Mustika menawarkan pendekatan Societal Marketing (Pemasaran Sosial) yang diperluas. Jika ilmu pemasaran konvensional lebih berfokus pada memuaskan konsumen, pendekatan ini berupaya memastikan kesejahteraan juga dirasakan oleh pihak produsen di akar rumput, seperti petani, nelayan, dan pengrajin.

Kunci utama dari transformasi kesejahteraan ini adalah konsep Knowledge Orchestration (Orkestrasi Pengetahuan).

"Kita tidak kekurangan pengetahuan. Perguruan tinggi berlimpah dengan hasil riset dan inovasi. Namun, pengetahuan tersebut tersebar dan sering tidak tersalurkan untuk mengatasi masalah nyata di masyarakat. Di sinilah kita membutuhkan orkestrasi pengetahuan," ujarnya.

Ecobis.id sebagai Living Laboratory

Sebagai wujud nyata dari konsep ini, Prof. Mustika bersama tim di Neurobusiness Laboratory SBM ITB mengembangkan platform digital inklusif bernama Ecobis.id.

Platform ini berfungsi sebagai living laboratory atau ekosistem yang menghubungkan akar masalah yang dihadapi UMKM dengan solusi dari para pakar, perguruan tinggi, pemerintah, serta industri. Melalui proses co-creation dan inovasi bersama, sistem ini memfasilitasi transformasi pengetahuan menjadi kapabilitas riil yang mampu meningkatkan nilai tambah produk-produk lokal.

Prof. Mustika, yang telah mengabdi puluhan tahun dalam pendampingan Koperasi dan UMKM di Jawa Barat, menutup orasinya dengan sebuah refleksi mendalam mengenai peran akademisi.

"Tidak seorang pun, tidak satu disiplin ilmu pun, dan tidak satu institusi pun yang memiliki seluruh jawabannya. Karena pengetahuan itu tersebar, tugas kitalah untuk menghubungkannya, menggerakkannya, dan mentransformasikannya menjadi kapabilitas serta kesejahteraan bagi bangsa," ujarnya.

Prof. Mustika Sufiati Purwanegara meraih gelar sarjana dari Teknik Industri ITB angkatan 1979, serta gelar Master dan Doktor dari Ghent University, Belgia. Beliau resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Consumer Behavior, Neuromarketing, dan Inclusive Business terhitung sejak 1 Juli 2025.

#itb #forum guru besar #orasi ilmiah #mustika sufiati purwanegara #sbm itb #umkm #knowledge orchestration #societal marketing #ecobis #digitalisasi umkm #kewirausahaan #inovasi bisnis #inclusive business #pemberdayaan umkm #ekonomi digital #neurobusiness #koperasi #transformasi pengetahuan #kesejahteraan masyarakat #sdg 8 #decent work and economic growth #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 10 #reduced inequalities #sdg 17 #partnerships for the goals