PRIMA dan CEO Summit 2025 Bahas Peran Teknologi Mendalam untuk Industri Hijau

Oleh Azarine Faustina Aurellia - Teknik dan Manajemen Industri, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.


BANDUNG, itb.ac.id – Peran deep tech untuk industri dan manufaktur hijau menjadi topik dalam diskusi panel Pameran Hasil Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (PRIMA) dan CEO Summit 2025 pada Selasa (16/12/2025), yang berlangsung di Aula Timur, ITB Kampus Ganesha.

Direktur Utama PT Pindad, Dr. Ir. Sigit P. Santosa, MSME., IPU memaparkan materi terkait Dual Use Technology untuk Sektor Pertahanan dan Energi: Pengembangan Electric Vehicle (EV) dan Hybrid Electric Vehicle (HEV).

“Tantangan industri nasional saat ini adalah keterbatasan modal kerja, keterbatasan kapasitas produksi, keterbatasan kapabilitas hulu dan hilir, dan keterbatasan kapabilitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, di PT Pindad saat ini tidak hanya mendorong transfer of technology, tetapi juga transfer of manufacturing,” tutur Dr. Sigit.

Dr. Sigit juga menekankan pentingnya keselarasan antara sektor pertahanan, energi, dan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa saat ini pengembangan sistem baterai lithium ion masih berada pada tahap peningkatan performance threshold. Selain itu, pengembangan solid state technology diharapkan mampu menghadirkan solusi untuk mengeliminasi kendala operasional serta diiringi dengan kemampuan membangun supply chain management yang andal.

Di samping itu, Dimas Ruliandi, M.S.E., Vice President Project Management and Acceleration Pertamina New & Renewable Energy, turut membahas berbagai tantangan yang dihadapi Pertamina, di antaranya proses industri yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, tingginya biaya dan risiko investasi, keterbatasan sistem energi, kesiapan teknologi, dan permintaan pasar.

“Saat ini terdapat dua pendekatan yang dilakukan oleh PT Pertamina. Pertama, strengthening legacy business, dengan fokus pada peningkatan efisiensi, penghematan energi, serta perbaikan kinerja operasional. Kedua, building low carbon business, melalui pengembangan bisnis rendah karbon seperti geotermal, tenaga surya, gas alam, dan biogas,” ujarnya.

Dari sisi akademisi, Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, M.Eng, Ph.D, IPM, membahas mengenai inovasi berdampak dan tantangan dalam komersialisasi teknologi.

“Mungkin kita sudah lama berbicara tentang inovasi, namun sejauh mana komersialisasi atau dampaknya dapat diambil? Inovasi adalah invensi dikalikan komersialisasi. Namun, menurut saya, inovasi bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua tahun, melainkan sebuah proses panjang dari knowledge menjadi nilai yang dapat dimanfaatkan, sehingga memberikan dampak bagi kita semua," tutur Prof. Tirto.

#itb berdampak #kampus berdampak #itb4impact #diktisaintek berdampak