PRIMA ITB dan CEO Summit 2025 Dorong Hilirisasi dan Sinergi Riset Teknologi Mendalam dengan Industri

Oleh Aura Salsabila Alviona - Bioteknologi, 2025

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Pameran Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (PRIMA) 2025. Penyelenggaraan tahun ini dilaksanakan bersamaan dengan ITB CEO Summit 2025 pada Selasa (16/12/2025) di Aula Barat dan Aula Timur, ITB Kampus Ganesha. Mengusung tema "Bersinergi, Menebar Inspirasi, dan Berdampak", kegiatan ini bertujuan mengintegrasikan hasil riset akademik dengan kebutuhan sektor industri.

Visi Transformasi Inovasi ITB

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyampaikan bahwa integrasi PRIMA dan CEO Summit merupakan langkah strategis institusi untuk mempertemukan para peneliti, pemimpin industri, dan perusahaan rintisan (startup) dalam satu forum. Hal ini ditujukan untuk mempercepat proses hilirisasi teknologi dan membuka peluang kemitraan strategis.

Prof. Tata memaparkan visi ITB periode 2025-2030 yang berfokus pada penguatan ekosistem deep-tech nasional. Beliau menekankan bahwa produktivitas riset ITB tetap kompetitif di tingkat internasional meski dihadapkan pada tantangan efisiensi anggaran.

"Pada tahun 2025, sebanyak 16 dosen ITB berhasil masuk dalam daftar Top 2% Scientist in the World. Selain itu, ITB telah membina 296 startup, beberapa di antaranya telah memberikan kontribusi finansial kembali ke institusi melalui pembayaran royalti lisensi paten," ujar Prof. Tata.

Dorong Riset Berorientasi Pasar

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., memberikan arahan, menekankan pentingnya riset yang berorientasi pada permintaan pasar (demand-driven). Menurutnya, keberadaan off-taker atau mitra industri sebagai penyerap hasil inovasi perguruan tinggi menjadi syarat mutlak agar riset kampus tidak berhenti di laboratorium dan dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

Menteri juga mendorong pemanfaatan skema dana pendamping (matching fund) untuk menjembatani kesenjangan antara riset di laboratorium dan kebutuhan industri. Skema ini mewajibkan adanya kerja sama nyata antara peneliti dan mitra industri sejak awal, sehingga hasil inovasi tidak berhenti di tahap pengembangan, melainkan terjamin keberlanjutannya hingga siap diproduksi secara massal.

Apresiasi bagi Inovator: PRIMA Award 2025

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi sivitas akademika, rangkaian acara ditutup dengan sesi penganugerahan PRIMA Award. Penghargaan ini diberikan kepada dosen, peneliti, dan unit kerja yang menunjukkan kinerja unggul dalam bidang riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Berikut daftar penerima penghargaan PRIMA Award 2025 berdasarkan kategori direktorat:

Kategori Direktorat Riset dan Inovasi (DRI):

Peneliti Berprestasi: Dr. Ir. Khoiruddin, S.T., M.T.
Inovasi Unggul Berdampak: Prof. Ir. Hardianto Iridiastadi, MSIE., Ph.D., CPE.
Kinerja Pusat/Pusat Penelitian Terbaik: Pusat Sains dan Teknologi Instrumentasi dan Otomasi (PSTIA).

Kategori Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST):

Riset dengan Pencapaian Komersial Terbesar: Dr. Eng. Muhammad Iqbal, S.T., M.T.
Inovasi dengan Dampak Terunggul: Dr. Carolus Borromeus Rasrendra, S.T., M.T.
Inovasi Unggul Berpotensi Besar: Dr.rer.nat. Mardiyati, S.Si., M.T.

Kategori Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK):
Penghargaan Pengabdian untuk Negeri: Dr. Ira Adriati, S.Sn., M.Sn.

#prima itb #ceo summit 2025 #riset dan inovasi #hilirisasi riset #inovasi berdampak #kolaborasi riset dan industri #ekosistem inovasi #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg8 #decent work and economic growth #sdg4 #quality education #sdg17 #partnerships for the goals