Raih Juara 1 Nasional: Mahasiswa Arsitektur ITB Kembangkan DeepBIM, Inovasi AI dalam Permodelan Bangunan
Oleh Indah Marcelinawati - Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id – Tiga mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih Juara 1 dalam ajang Wiratman BIM Competition (WBBC) 2026 melalui inovasi DeepBIM, sebuah kerangka quality assurance dalam Building Information Modeling (BIM) yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan proses BIM yang lebih terukur dan terintegrasi, khususnya dalam mengaudit kepatuhan informasi model serta menghubungkan model bangunan dengan data biaya.
Tim BIMaxxing yang beranggotakan Ignacio Kevin Alberiann, Hilmi Nufal Azizi, dan Asybel Bintang mengembangkan DeepBIM dalam proyek Lattice Hotel Summarecon Gedebage. Dalam proses koordinasi model, tim menyelesaikan clash atau konflik antarelemen model hingga 84,22 persen, dari ribuan titik konflik menjadi hanya ratusan.
Pendekatan tersebut menunjukkan potensi AI untuk membantu arsitek, perencana, dan pelaku industri konstruksi mengembangkan proses kerja yang lebih efisien, akurat, dan adaptif. Pengembangan teknologi semacam ini penting karena kualitas perencanaan dan koordinasi bangunan berpengaruh terhadap efisiensi proses konstruksi secara keseluruhan.
Pada DeepBIM terdiri atas dua lapisan. Lapisan pertama berfungsi sebagai auditor kepatuhan informasi model, sedangkan lapisan kedua berupa AI agent yang dapat menghubungkan model Revit dengan data biaya secara langsung melalui bahasa alami.
Bagi tim, kompetisi ini menjadi ruang untuk membuktikan bahwa mahasiswa arsitektur juga dapat berbicara secara serius mengenai BIM, bahkan mengembangkan penerapannya lebih jauh melalui teknologi AI.
“Kami ingin menguji apakah gagasan yang kami kembangkan, yaitu mengintegrasikan alur kerja BIM dengan lapisan kecerdasan buatan, bisa bertahan di forum kompetitif nasional, bukan hanya di ruang studio,” ujar Ignacio.
Pembagian peran dilakukan berdasarkan kekuatan dan keahlian masing-masing anggota. Ignacio sebagai Ketua Tim berfokus pada penalaran struktur dan Mechanical, Electrical, and Plumbing (MEP), Hilmi pada desain serta lanskap, sementara Asybel mengembangkan aspek BIM dan teknologi. Dengan jumlah anggota yang terbatas, setiap anggota juga harus mampu memegang lebih dari satu peran.
Tim menekankan bahwa DeepBIM bukan sekadar penggunaan fitur AI yang telah tersedia, melainkan sistem yang mereka bangun sendiri melalui kombinasi auditor kepatuhan model dan AI agent yang dapat bekerja lintas sumber data.
Dalam proses persiapan kompetisi, tim juga mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing, Ir. Fauzan Alfi Agirachman, S.T., M.T., Ph.D., yang memiliki keahlian di bidang BIM.
Peran dosen pembimbing dirasakan terutama dalam memberikan arahan konseptual serta membantu tim mempertajam cara memosisikan dan mempertahankan gagasan yang dibawa agar tetap kredibel dan logis di hadapan juri. Ketika tim terlalu larut dalam persoalan teknis, arahan pembimbing membantu mereka melihat kembali gambaran besar kompetisi. Pendampingan tersebut dilakukan baik dalam proses asistensi maupun ketika tim mempersiapkan diri menghadapi tahap final.
Tim mengajak mahasiswa untuk tidak menunggu sampai merasa benar-benar siap sebelum mencoba mengikuti kompetisi. Menurut mereka, keberanian menguji gagasan dan kemauan untuk membuktikannya dengan data jauh lebih penting daripada menunggu memiliki pengalaman atau perangkat yang sempurna.
“Jangan menunggu merasa ‘cukup siap’ untuk ikut. Kalau kalian punya ide yang terasa terlalu ambisius, kejar dan siapkan bukti yang selaras untuk menopangnya. Keunikan sudut pandang kalian sering kali justru menjadi senjata terkuat, bukan kelemahan,” ujar Ignacio.
Selain itu, tim menekankan pentingnya mempersiapkan BIM Execution Plan (BEP) secara matang. Pembagian kerja, workflow, dan hasil yang ditargetkan perlu ditentukan sejak awal karena BEP menjadi panduan utama selama proses pengerjaan.
.jpg)

.jpg)
.jpg)



