STKA DAY #5: Bahas Masa Depan Historiografi Arsitektur Indonesia

Oleh Muhammad Nabiel Hafiz - Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, 2022

Editor Muhammad Efriza Pandia

STKA DAY #5 di Ruang Galeri, Gedung Labtek XIB Arsitektur ITB Kampus Ganesha, Jumat (11/09/2026). (ITB/Muhammad Nabiel Hafiz)

BANDUNG, itb.ac.id — Kelompok Keahlian Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur (KK-STKA), Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), menyelenggarakan STKA DAY #5, Jumat (11/9/2026).

Mengangkat tema “Historiografi Arsitektur Indonesia – Untuk Esok”, kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi, mahasiswa, serta pemerhati sejarah, teori, dan kritik arsitektur untuk mendiskusikan kembali cara memahami dan menuliskan sejarah arsitektur Indonesia di tengah berkembangnya perspektif dan pengetahuan baru.

Meninjau Kembali Cara Sejarah Arsitektur Ditulis
Kegiatan dibuka oleh Ketua KK-STKA SAPPK ITB, Dr. Indah Widiastuti, S.T., M.T. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya meninjau kembali bagaimana sejarah arsitektur Indonesia selama ini ditulis, termasuk mempertanyakan siapa yang tercatat, siapa yang terlupakan, serta pengetahuan apa yang memperoleh tempat dalam narasi sejarah.

Ketua KK-STKA SAPPK ITB, Dr. Indah Widiastuti, S.T., M.T., menyampaikan sambutan pada STKA DAY #5 di Ruang Galeri, Gedung Labtek XIB Arsitektur ITB Kampus Ganesha, Jumat (11/9/2026). (ITB/Muhammad Nabiel Hafiz)

“Yang paling penting adalah munculnya kesadaran bersama mengenai gentingnya kebutuhan untuk mencari format penulisan sejarah arsitektur Indonesia yang dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Menurut Indah, historiografi bukan hanya berkaitan dengan pencatatan peristiwa masa lalu, tetapi juga proses memilih, menyusun, dan membentuk pengetahuan mengenai masa lalu. Karena itu, diperlukan keberanian untuk terus mempertanyakan siapa yang dicatat dalam sejarah serta pengetahuan apa yang mendapat ruang dalam narasi arsitektur Indonesia.

Sambutan dilanjutkan oleh Wakil Dekan Sumber Daya SAPPK ITB, Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T. Ia mengapresiasi kembali terselenggaranya STKA DAY dan menilai tema yang diangkat relevan bagi pengembangan pengetahuan arsitektur.


Wakil Dekan Sumber Daya SAPPK ITB, Dr. Allis Nurdini, S.T., M.T., menyampaikan sambutan pada STKA DAY #5 di Ruang Galeri, Gedung Labtek XIB Arsitektur ITB Kampus Ganesha, Jumat (11/9/2026). (ITB/Muhammad Nabiel Hafiz)

“Sejarah arsitektur bukan sekadar catatan mengenai masa lalu, tetapi juga sebagai landasan untuk memahami masa kini dan membayangkan masa depan arsitektur,” tuturnya.

Membaca Sejarah melalui Arsip, Tradisi, dan Perubahan Zaman
Memasuki sesi utama, diskusi dipandu oleh Dr. Eng. Arif Sarwo Wibowo, S.T., M.T. dalam format meja bundar. Tiga pemrasaran hadir dengan sudut pandang berbeda, yakni Setiadi Sopandi, S.T., M.A.; I Nyoman Gede Mahaputra, S.T., M.Sc., Ph.D.; dan Prof. Ir. Iwan Sudradjat, M.S.A., Ph.D.


Dr. Eng. Arif Sarwo Wibowo, S.T., M.T., memandu diskusi STKA DAY #5 di Ruang Galeri, Gedung Labtek XIB Arsitektur ITB Kampus Ganesha, Jumat (11/9/2026). (ITB/Muhammad Nabiel Hafiz)
Setiadi Sopandi membuka rangkaian paparan melalui materi berjudul “Tulislah Petualangan Sejarah Arsitekturmu Sendiri”. Ia membahas bagaimana sejarah arsitektur dapat dibaca melalui perspektif dan sumber yang terus berkembang. Kemunculan arsip-arsip baru, misalnya, memungkinkan munculnya informasi yang dapat memperkaya narasi sejarah yang sebelumnya belum banyak terungkap.


Setiadi Sopandi, S.T., M.A., menyampaikan paparan pada STKA DAY #5 di Ruang Galeri, Gedung Labtek XIB Arsitektur ITB Kampus Ganesha, Jumat (11/9/2026). (ITB/Muhammad Nabiel Hafiz)
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih tematik dan reflektif dalam membaca sejarah arsitektur. Dengan pendekatan tersebut, sejarah tidak semata-mata dipahami melalui narasi yang telah mapan, tetapi dapat terus ditinjau kembali seiring munculnya pertanyaan, sumber, dan kebutuhan baru.

Paparan berikutnya disampaikan oleh I Nyoman Gede Mahaputra melalui materi “Negosiasi Modernisme dan Tradisi: Paradoks Perkembangan Arsitektur Bali, 1900-an–1990-an”.

Ia membahas perkembangan arsitektur Bali melalui hubungan antara tradisi, modernisme, serta berbagai kepentingan yang hadir dalam konteks kolonial, pascakolonial, hingga perkembangan pariwisata.


I Nyoman Gede Mahaputra, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan paparan pada STKA DAY #5 di Ruang Galeri, Gedung Labtek XIB Arsitektur ITB Kampus Ganesha, Jumat (11/9/2026). (ITB/Muhammad Nabiel Hafiz)

Nyoman menekankan bahwa berbagai aktor memiliki peran dalam proses perubahan tersebut. Perkembangan arsitektur Bali tidak berlangsung secara linear dari tradisi menuju modernitas, melainkan melalui proses seleksi, adaptasi, dan negosiasi yang terus berlangsung.

“Jadi, kalau kita melihat arsitektur yang ada di Bali hari ini, ini adalah praktik negosiasi yang terus hidup,” ujarnya.

Menuju Historiografi Arsitektur yang Lebih Kritis
Sementara itu, Prof. Ir. Iwan Sudradjat, M.S.A., Ph.D. menyampaikan paparan berjudul “Menuju Historiografi Kritis Arsitektur Indonesia Masa Depan: Sebuah Proyek Tafsiran”.

Ia mengawali pembahasan dengan mengkritisi operative history, yakni kecenderungan menggunakan sejarah untuk mendukung agenda tertentu dalam praktik arsitektur. Menurutnya, sejarah perlu dibebaskan dari penggunaan yang terlalu instrumental dan dibaca secara lebih kritis.

Iwan mengajak peserta untuk melihat arsitektur tidak hanya melalui bentuk dan gaya, tetapi juga sebagai produk dari konteks sosial, politik, ekonomi, serta relasi kekuasaan yang melingkupinya.

“Kita harus melihat bahwa arsitektur adalah produk dari konteks yang bergantung pada situasinya. Dan situasinya juga berubah,” katanya.

Ketiga paparan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi diskusi terbuka yang melibatkan para pemrasaran dan peserta. Melalui format meja bundar, STKA DAY #5 mempertemukan beragam pandangan mengenai cara membaca, menafsirkan, dan menuliskan sejarah arsitektur Indonesia.


Diskusi tidak diarahkan untuk menghasilkan satu rumusan tunggal. Sebaliknya, forum tersebut membuka ruang bagi pertanyaan dan pembacaan yang lebih beragam terhadap historiografi arsitektur Indonesia, termasuk kemungkinan hadirnya sumber, perspektif, dan tafsiran baru di masa mendatang.

STKA DAY #5 diselenggarakan oleh KK-STKA SAPPK ITB bekerja sama dengan Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI) dan Museum Arsitektur Indonesia, serta didukung oleh Leica. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga ruang dialog mengenai sejarah, teori, dan kritik arsitektur agar terus berkembang seiring munculnya perspektif, sumber pengetahuan, dan pertanyaan baru.

#sappk itb #arsitektur itb #sdg4 #quality education #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg17 #partnerships for the goals