Sarasehan Energi: ITB serta DEN Soroti Upaya Indonesia Menuju Kemandirian Energi Nasional

Oleh Azka Zahara Firdausa - Mahasiswa Rekayasa Hayati, 2022

Editor Anggun Nindita


BANDUNG, itb.ac.id – Dewan Energi Nasional bersama Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB menggelar Sarasehan Energi di Auditorium Lantai 8 Gedung PAU, Kampus Ganesha ITB, Selasa (12/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri dalam membahas arah transisi energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Pada kesempatan tersebut, anggota Dewan Energi Nasional periode 2026–2030, Dr. Ir. Satya Widya Yudha, M.Sc., Ph.D., memaparkan arah kebijakan energi nasional yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 sebagai landasan menuju ketahanan dan kemandirian energi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa subsektor minyak dan gas (migas) nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan cadangan energi, penurunan produksi minyak dan kapasitas kilang, tingginya ketergantungan terhadap impor migas, hingga disparitas harga energi yang berdampak pada peningkatan subsidi dan perekonomian nasional.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi guna memperkuat ketahanan dan mewujudkan kemandirian energi nasional. Salah satu fokus utama adalah peningkatan kapasitas dan keandalan infrastruktur energi melalui efisiensi produksi kilang dengan teknologi modern dan ramah lingkungan.

Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan substitusi LPG melalui pembangunan jaringan gas rumah tangga (jargas), transformasi kebijakan subsidi berbasis penerima manfaat melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), serta diversifikasi energi melalui pemanfaatan kompor listrik dan pengembangan dimethyl ether (DME) sebagai alternatif LPG.


Upaya penguatan ketahanan energi juga dilakukan melalui penurunan disparitas harga energi secara bertahap, penguatan cadangan energi nasional, serta pengembangan energi baru terbarukan (EBT) melalui penguatan regulasi, koordinasi lintas sektor, dan peningkatan investasi, termasuk untuk mendukung program B50 dan pembangunan pembangkit EBT. Strategi tersebut diharapkan dapat mendorong Indonesia menuju swasembada energi.

Dr. Satya turut menjelaskan bahwa Indonesia telah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas energi nasional. Strategi tersebut meliputi pembatasan konsumsi energi, penghematan energi, pembatasan ekspor, hingga deklarasi kondisi darurat energi apabila diperlukan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, Dekan FTI ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa sekitar 50% kebutuhan energi Indonesia masih bergantung pada impor, baik dalam bentuk energi mentah maupun energi siap pakai. Meski demikian, Indonesia telah mengembangkan biofuel, khususnya biodiesel berbasis sawit, serta memanfaatkan cadangan batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.

“Indonesia terkena dampak seperti harga BBM naik, tetapi saya yakin dampaknya tidak akan semasif negara lain yang pasokan energinya sepenuhnya bergantung pada impor energi,” ujar Prof. Tirto.

Ia juga menegaskan komitmen ITB untuk terus berkontribusi dalam pengembangan transisi dan diversifikasi energi, khususnya melalui berbagai riset dan inovasi di lingkungan FTI ITB. Teknik Kimia ITB, misalnya, mengembangkan teknologi pengolahan bahan baku terbarukan seperti sawit menjadi biodiesel. Selain itu, Teknik Kimia ITB juga terlibat dalam pengembangan Katalis Merah Putih, berupa katalis hydrotreating dan katalis oleochemical untuk kebutuhan Pertamina dan industri oleokimia di Indonesia.

Kontribusi pengembangan energi terbarukan juga dilakukan oleh program studi lain di ITB, seperti Teknik Fisika melalui pengembangan solar photovoltaic (PV) serta Teknik Industri melalui optimasi nilai keekonomian pada skala industri.

“Sumber daya manusia sudah memadai dan siap untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia. Namun, tantangannya terdapat pada aspek penerapan, terutama terkait harga energi di pasaran,” jelas Prof. Tirto.

Meski dinamika geopolitik global turut memengaruhi sektor energi nasional, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mewujudkan ketahanan energi. Potensi sumber daya energi terbarukan yang melimpah serta dukungan sumber daya manusia yang kompeten diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri dalam mendukung implementasi regulasi serta inovasi menuju ketahanan energi nasional.

Reporter: Azka Zahara Firdausa (Rekayasa Hayati 2022)

#fti #fti itb #energi #sdg7 #affordable and clean energy #sdg12 #responsible consumption and production #sdg13 #climate action #sdg17 #partnerships for the goals