Studium Generale ITB: Ignasius Jonan Bagikan Pengalaman Pemimpin yang Memberi Contoh dan Kebermanfaatan
Oleh Vito Egi Nandriansyah - Teknik Geofisika, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (2016–2019), Ignasius Jonan menjadi pembicara pada Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (22/4/2026). Ia menyampaikan materi berjudul “Kepemimpinan Publik yang Membangun Kepercayaan”. Acara ini diikuti sekitar 1.000 mahasiswa ITB secara luring dan daring dari Kampus Jatinangor dan Cirebon.
Studium Generale ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Pengembangan (WRURK) ITB, Prof. Ir. Agus Jatnika Effendi, Ph.D. dan dihadiri pimpinan Majelis Wali Amanat ITB, Senat Akademik ITB, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi (WRRI) Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., sejumlah Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi, beserta pimpinan lainnya.
Dalam paparannya, Ignasius Jonan yang juga sebagai Wakil Ketua Majelis Wali Amanat ITB, menekankan bahwa esensi kepemimpinan terletak pada kebermanfaatannya bagi orang lain. Ia menegaskan bahwa ukuran utama kepemimpinan adalah sejauh mana dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, fondasi pertama kepemimpinan adalah keaslian diri. “Pemimpin harus menjadi dirinya sendiri, bukan orang lain,” ujar ujar Menteri Perhubungan (2014–2016) tersebut. Ia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki keunikan yang justru menjadi ciri khas dalam gaya kepemimpinan. Dengan menjadi autentik, seseorang dapat membangun kepercayaan yang lebih kuat dari orang-orang yang dipimpinnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya keteladanan. Contohnya kebijakan larangan merokok di kereta saat menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (2009–2014). Hal itu sebagai bentuk keberpihakan pada kenyamanan publik. “Pemimpin harus punya niat baik dan hati nurani yang baik dalam membuat kebijakan,” ujarnya. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar instruksi, tetapi tindakan nyata yang dapat dicontoh.
Kemampuan beradaptasi juga menjadi aspek krusial dalam kepemimpinan publik. Mengutip teori evolusi dari Charles Darwin, bukan yang paling kuat atau paling cerdas yang bertahan, tetapi yang paling responsif terhadap perubahan. Hal itu karena dinamika zaman menuntut pemimpin untuk terus menyesuaikan diri agar tetap relevan.
Jonan pun menyoroti perbedaan antara pemimpin yang hanya merancang strategi dan yang mampu mengeksekusinya. “Banyak pemimpin bisa membuat strategi, tapi tidak semua bisa mengeksekusi,” katanya. Eksekusi, menurutnya, adalah indikator nyata dari efektivitas kepemimpinan.
Ia juga menekankan bahwa kehadiran pemimpin seharusnya meningkatkan kualitas orang lain. Kepemimpinan yang baik tidak hanya terasa saat menjabat, tetapi juga meninggalkan dampak jangka panjang.
Dalam konteks pelayanan publik, mengutip Jeff Bezos, Jonan menggarisbawahi pentingnya orientasi pada masyarakat. “Kalau kita fokus pada kompetitor, kita hanya bereaksi. Tapi kalau fokus pada konsumen, kita bisa menjadi pelopor,” ujarnya. Oleh karena itu, penting untuk terbuka atas kritik sebagai sarana evaluasi diri selama tidak melanggar standar yang berlaku.
Topik transformasi digital turut menjadi perhatian. Ia menilai bahwa digitalisasi bukan semata persoalan teknologi, melainkan perubahan pola pikir organisasi. Ia mencontohkan PT KAI yang membutuhkan waktu dua tahun untuk keluar dari pola tradisional menuju sistem yang lebih modern. “Yang diubah pertama adalah mindset, bukan teknologinya,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa pemimpin tidak perlu terjebak pada kegagalan masa lalu. Kepemimpinan pun harus inklusif dan tidak meninggalkan siapa pun.
Di luar itu, ia menyampaikan bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna. Namun, pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu memberikan kontribusi terbaik sesuai gaya kepemimpinannya dan menghadirkan manfaat nyata bagi organisasi serta masyarakat luas.
.jpeg)





