Tim SATRIA SITH ITB Kembangkan Terapi Kanker Payudara Berbasis Nanovesikel Tomat melalui PKM RE-2026

Oleh Dina Avanza Mardiana - Mahasiswa Mikrobiologi, 2022

Editor Anggun Nindita

Caption: Tim PKM-RE SATRIA bersama dosen pembimbing (Dokumen Tim SATRIA)

BANDUNG, itb.ac.id — Mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim SATRIA mengembangkan sistem penghantaran senyawa antikanker berbasis nanovesikel tomat untuk mengenkapsulasi andrografolida dari sambiloto. Inovasi tersebut memperoleh pendanaan nasional melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026.

Tim SATRIA diketuai Faris Muda Budiman (Mikrobiologi 2024), dengan anggota Muhammad Wishaf Wirazaqi (Mikrobiologi 2024), Miftahur Rizki (Mikrobiologi 2024), Azzira Umaina (Biologi 2024), dan Abil Muhara (Biologi 2025). Mereka dibimbing dosen SITH ITB, Karlia Meitha, S.Si., M.Si., Ph.D.

Penelitian tersebut berjudul “Isolasi dan Karakterisasi Nanovesikel Turunan Tomat Varietas Permata untuk Enkapsulasi Andrografolida dari Sambiloto Guna Aplikasi Antikanker Payudara”.

Inovasi Pengobatan Kanker dari Kekayaan Alam Indonesia
Riset ini berangkat dari potensi andrografolida, senyawa yang terdapat pada sambiloto, sebagai antikanker. Namun, sifatnya yang sangat hidrofobik dan memiliki bioavailabilitas rendah menjadi tantangan dalam pemanfaatannya.

“Dari situ muncul gagasan untuk memanfaatkan nanovesikel alami dari tomat varietas Permata sebagai sistem penghantaran yang lebih biokompatibel,” ujar Wishaf.

Penelitian tersebut memadukan pendekatan mikrobiologi, bioteknologi, dan teknologi nanovesikel tumbuhan. Formulasi yang dikembangkan kemudian diuji secara in vitro menggunakan sel kanker payudara MCF-7.

Menurut Wishaf, pendanaan PKM menjadi kesempatan bagi tim untuk memvalidasi gagasan tersebut melalui pengujian di laboratorium. Tim mengembangkan penelitian dengan menggabungkan kebaruan gagasan, pemanfaatan biodiversitas lokal, serta rancangan eksperimen yang terukur.

Saat ini, tim berfokus pada pengumpulan dan pematangan data terkait efisiensi enkapsulasi andrografolida serta stabilitas partikel nanovesikel tomat.

Tahapan Riset dan Kolaborasi Lintas Institusi
PKM-RE merupakan program nasional yang mewadahi mahasiswa dalam melakukan penelitian menggunakan metode ilmiah di bidang sains dan teknologi. Dalam risetnya, Tim SATRIA menjalani sejumlah tahapan, mulai dari isolasi nanovesikel, karakterisasi partikel, hingga enkapsulasi andrografolida.


Gambar: Konsultasi metodologi bersama Prof. dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono, Sp.M.K., Ph.D. di FKUI (Dokumen Tim SATRIA)

Untuk mendukung pengujian yang membutuhkan fasilitas khusus, Tim SATRIA menjalin kolaborasi teknis dengan Laboratorium Mikrobiologi Klinis FKUI serta DDRC IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Tim memperoleh masukan dari Prof. dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono, Sp.M.K., Ph.D. dan Dr. Ibnu Agus Ariyanto, serta dukungan dalam pematangan kultur sel dan penggunaan Biosafety Cabinet (BSC) di fasilitas FKUI Salemba.

“Kolaborasi SITH ITB-FKUI menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan fasilitas bukan berarti penelitian harus berhenti; yang dibutuhkan adalah komunikasi dan jejaring,” kata Wishaf.

Menurutnya, penelitian nanomedisin membutuhkan pendekatan lintas disiplin dan kolaborasi karena kompetensi maupun fasilitas yang diperlukan tidak selalu tersedia dalam satu laboratorium.

Tantangan Laboratorium dan Adaptasi Metode

Gambar: Pelaksanaan pengujian di fasilitas BSC FKUI Salemba sebagai bagian dari kolaborasi teknis riset (kiri); pengamatan mikroskopik sel kanker payudara MCF-7 dengan konfluensi 90% (kanan) (Dokumen Tim SATRIA)

Pelaksanaan penelitian dalam waktu sekitar empat bulan dengan sumber daya terbatas menjadi salah satu tantangan Tim SATRIA. Sejumlah tahapan membutuhkan fasilitas dan biaya yang relatif tinggi, di antaranya untuk lini sel, media kultur, ultrasentrifugasi, dan karakterisasi nanopartikel.

“Beberapa komponen memiliki kebutuhan biaya maupun fasilitas yang tinggi, sehingga kami harus banyak menyesuaikan protokol saat memperoleh masukan dari pakar,” ujar Wishaf.

Salah satu penyesuaian yang dilakukan adalah menggunakan andrografolida murni agar interpretasi hasil uji sitotoksisitas (IC50) pada sel MCF-7 dapat dilakukan secara lebih terukur.

Pengalaman tersebut juga memberikan pembelajaran kepada tim mengenai pentingnya kemampuan beradaptasi selama penelitian. “Pelajaran terbesarnya adalah riset tidak berjalan lurus sesuai proposal, sehingga kita harus bersedia melakukan troubleshooting dan meminta pendapat ahli,” katanya.

Bukti Konsep Awal dan Langkah Menuju PIMNAS 2026
Penelitian Tim SATRIA saat ini masih berada pada tahap pembuktian konsep awal (proof-of-concept) secara in vitro. Karena itu, hasil penelitian belum dapat diterapkan langsung sebagai terapi bagi pasien. Pengembangan lebih lanjut masih membutuhkan pengujian selektivitas, penelitian in vivo, serta tahapan studi lanjutan sebelum dapat diarahkan menuju aplikasi klinis.

Tim SATRIA merupakan satu dari sembilan tim ITB yang memperoleh pendanaan PKM 2026 dan menjadi bagian dari 1.121 tim penerima pendanaan secara nasional. Pada pertengahan September 2026, tim telah menyelesaikan Penilaian Kemajuan Pelaksanaan PKM (PKP2).

Selanjutnya, mereka berfokus menyelesaikan luaran ilmiah dan laporan akhir penelitian sembari menantikan pengumuman finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 pada Oktober 2026.

Wishaf berharap pengalaman Tim SATRIA dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani memulai penelitian dari persoalan yang menarik perhatian mereka.

“Mulailah dari masalah yang benar-benar membuat penasaran, konsistenlah menerima masukan dalam menjalankan eksperimen, karena data hasil akhirnya jauh lebih menentukan daripada sekadar proposal yang baik,” tuturnya.

#sith itb #riset #inovasi #kanker payudara #sdg3 #good health and well being #sdg4 #quality education #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg17 #partnerships for the goals