Tingkatkan Keselamatan Perkeretaapian, Tim Peneliti FTI ITB Kembangkan Teknologi Pendeteksi Kelelahan Masinis
Oleh M. Naufal Hafizh, S.S.
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id — Faktor kelelahan (fatigue) dan rasa kantuk pada masinis menjadi salah satu penyebab utama risiko kecelakaan lalu lintas kereta api di Indonesia. Kondisi ruang kabin lokomotif yang bising, panas, berdebu, serta desain kursi yang kurang ergonomis kerap memicu terjadinya microsleep—kondisi tertutupnya mata seseorang secara tidak sengaja selama lebih dari satu detik saat bertugas.
Merespons tantangan keselamatan tersebut, tim peneliti dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB yang dipimpin oleh Prof. Ir. Hardianto Iridiastadi, MSIE., Ph.D., CPE. mengembangkan inovasi Teknologi Deteksi Kelelahan (TDK) berbasis indikator okular dan ekspresi wajah menggunakan kamera video. Pengembangan tersebut dilakukan di Laboratorium Rekayasa Sistem Kerja dan Ergonomi, Gedung Matthias Aroef (Teknik Industri), ITB Kampus Ganesha.
Solusi Mandiri yang Lebih Terjangkau dan Kontekstual

Prof. Hardianto menjelaskan bahwa selama ini teknologi pendeteksi kelelahan buatan luar negeri yang ditawarkan di pasaran memiliki harga yang sangat tinggi—mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Selain masalah biaya tinggi dan perawatan yang tidak mudah, sistem impor tersebut umumnya menetapkan kepemilikan data (data ownership) pada pihak vendor serta sering kurang fleksibel terhadap konteks operasional spesifik masinis di Indonesia.
"Banyak sekali teknologi yang kita punya di Indonesia diimpor dari luar negeri dengan harga sangat mahal. Padahal, dosen dan peneliti kita hebat-hebat, mampu membuat alat yang jauh lebih terjangkau, tervalidasi, dan efektif. Riset ini merupakan upaya kita mendorong hilirisasi produk teknologi lokal," ujar Prof. Hardianto, dikutip dari YouTube DRI ITB, Kamis (13/8/2026).
Cara Kerja Inovasi: Algoritma Deteksi Wajah hingga Uji Reaksi Kognitif

Teknologi yang dikembangkan tim FTI ITB ini bekerja dengan mengekstraksi data dari rekaman wajah masinis secara real-time melalui kamera video yang dipasang di dalam kabin lokomotif.
• Analisis Ekstraksi Wajah & Okular: Algoritma mandiri yang dirancang oleh tim ITB mampu mengidentifikasi sekitar 60 titik di wajah untuk mengukur eye aspect ratio, durasi mata terbuka dan tertutup, hingga frekuensi kedipan secara presisi dalam satuan milidetik (milliseconds). Perubahan mikro pada raut muka yang tidak kasatmata dapat terdeteksi sebagai indikator awal kelelahan.
• Perangkat Psychomotor Vigilance Task (PVT): Selain sistem pemantauan kamera, tim juga mengembangkan perangkat penguji waktu respons kognitif (reaction time). Melalui stimulus visual papan catur pada layar, operator diminta merespons secepat mungkin. Makin lambat waktu reaksi seseorang, makin tinggi tingkat kelelahan atau kantuk yang dialaminya.
• Pengujian Simulator Kereta Api: Berbekal pengalaman kerja sama selama lebih dari satu dekade bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero), tim memanfaatkan Low-Fidelity Train Simulator di laboratorium untuk menguji performa dan tingkat kelelahan masinis dalam berbagai skenario perjalanan—baik rute pendek (Commuter Line) maupun rute jarak jauh.

Meskipun dalam proses hilirisasi tim menghadapi tantangan seperti integrasi software antarmuka serta fragmentasi pendanaan, proses iterasi dan penyempurnaan sistem terus berjalan.
Ke depannya, teknologi ini ditargetkan berevolusi menjadi satu paket prototipe utuh yang mencakup kamera real-time, komputer mini, dan warning system (sistem peringatan dini). Sistem ini nantinya dapat mentransmisikan data kondisi masinis ke pusat kontrol operasional, memungkinkan pemetaan profil kelelahan harian hingga tahunan demi mencegah terjadinya kecelakaan fatal.
Selain itu, Prof. Hardianto menegaskan pentingnya kolaborasi Triple Helix antara akademisi, industri, dan pemerintah.
"Penelitian adalah fondasi kemajuan. Satu kecelakaan kerja ber dampak sangat besar, baik korban jiwa maupun kerugian materiil. Harapan saya, kita dapat terus berkolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah untuk menghasilkan produk teknologi buatan dalam negeri yang aplikatif dan bermanfaat luas—tidak hanya di sektor perkeretaapian, tetapi juga untuk pengemudi bus, truk, hingga sektor migas dan pertambangan," ujarnya.

.jpeg)



.jpg)
.jpg)