Ubah Limbah Baterai EV Jadi Sumber Energi Portabel, Mahasiswa ITB Raih Juara 1 Kompetisi Nasional
Oleh Rasya Ihza Ramadhan - Mahasiswa Teknik Fisika, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
JAKARTA, itb.ac.id - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan portable power station berbasis second-life EV battery. Inovasi yang bernama SparkGo ini mengantarkan mereka meraih juara 1 kategori Sustainable Business Innovation Competition pada ajang GREENOVATE 2026 yang diselenggarakan oleh TBS Foundation.
Ketiga mahasiswa tersebut tergabung dalam tim “The Triple A”, yang terdiri atas Bryan Maulana A. dari Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika angkatan 2024, Tazkia Zahra Aulia dari Program Studi Manajemen angkatan 2024, serta Muhammad Farrel A. dari Program Studi Teknik Geologi angkatan 2025
GREENOVATE merupakan kompetisi business plan yang menantang peserta mengembangkan ide inovatif menjadi model bisnis berkelanjutan yang aplikatif.
Menghubungkan Dua Persoalan dalam Satu Solusi
Gagasan SparkGo berangkat dari dua persoalan yang dinilai semakin relevan seiring berkembangnya kendaraan listrik di Indonesia. Di satu sisi, meningkatnya penggunaan kendaraan listrik akan menghasilkan lebih banyak baterai yang memasuki akhir masa pakainya. Di sisi lain, kebutuhan terhadap sumber listrik portabel di berbagai sektor masih banyak mengandalkan genset diesel yang memiliki biaya operasional tinggi, menghasilkan emisi, dan menimbulkan polusi suara.
Tim melihat bahwa baterai EV yang sudah tidak digunakan pada kendaraan belum sepenuhnya kehilangan nilai. Baterai dengan State of Health sekitar 70-80% masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain. Berdasarkan persoalan tersebut, SparkGo dirancang untuk memberikan kehidupan kedua pada baterai kendaraan listrik sekaligus menjadi alternatif sumber energi portabel.
"Keunggulan SparkGo bukan hanya di produknya, tapi di kelengkapan solusi yang kami tawarkan. Kami menggabungkan aspek lingkungan, teknologi, dan model bisnis dalam satu hal yang saling mendukung, dan sudah kami validasi bersama pelaku industri dan akademisi," kata Tazkia.
Pemilihan topik tersebut juga didorong oleh dua tren yang diamati, yakni pertumbuhan kendaraan listrik dan meningkatnya kebutuhan energi portabel. Tim melihat perkembangan kedua tren tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan bisnis yang menggabungkan prinsip ekonomi sirkular dengan model yang tetap layak secara komersial. Tim juga mengidentifikasi potensi pasar genset di Indonesia yang menurut riset mereka dapat mencapai nilai 1,138 juta dolar AS pada 2030.
.jpg)
Menggabungkan Teknologi dan Model Bisnis
SparkGo tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga dirancang sebagai sebuah sistem yang menggabungkan teknologi, aspek lingkungan, dan model bisnis. Dari sisi teknis, solusi tersebut memanfaatkan second-life EV battery yang dilengkapi Smart Battery Management System (BMS) untuk menjaga keamanan baterai melalui fitur thermal protection, cell balancing, dan auto cut-off.
Setiap unit juga terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT) sehingga kondisi baterai, konsumsi daya, dan lokasi unit dapat dipantau secara real-time. Sementara itu, dari sisi bisnis, tim menerapkan model Energy-as-a-Service melalui sistem penyewaan agar layanan dapat diakses dengan biaya yang lebih terjangkau oleh pengguna.
Permasalahan yang diangkat juga dinilai memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan industri. Pertumbuhan kendaraan listrik berpotensi meningkatkan jumlah limbah baterai EV, sedangkan kebutuhan listrik portabel terus muncul pada sektor konstruksi, pertambangan, kegiatan event, hingga UMKM yang masih bergantung pada genset diesel.

Riset, Validasi, dan Revisi Berkali-kali
Pengembangan SparkGo tidak dilakukan hanya melalui penyusunan konsep. Tim melakukan riset secara mandiri dari sisi teknis dan bisnis, kemudian memvalidasinya melalui wawancara dengan dosen, simulasi teknis, serta penyusunan proyeksi keuangan. Proses tersebut kemudian diperkuat melalui sesi mentoring bersama mentor dari TBS Foundation sebelum seluruh temuan dirangkum ke dalam pitch deck.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah aspek teknis produk. Tidak ada anggota tim yang berasal dari jurusan elektro, sementara SparkGo memiliki komponen kelistrikan yang cukup kompleks, terutama terkait baterai EV dan Portable Power Station.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim memperbanyak proses belajar dan menggali referensi dari berbagai paper yang membahas topik serupa. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa gagasan yang mereka bawa tidak hanya menarik dari sisi bisnis, tetapi juga memiliki dasar teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Ide Kompetisi Menuju Pengembangan Lebih Lanjut
Bagi tim, kemenangan di GREENOVATE 2026 ini bukan menjadi akhir dari perjalanan SparkGo.
“Kami berharap SparkGo tidak hanya berhenti sebagai ide di kompetisi ini, tetapi dapat berkembang menjadi solusi nyata yang mendukung transisi energi di Indonesia bagi masyarakat dan pelaku usaha, SparkGo menyediakan akses terhadap energi portabel yang lebih hemat, bersih, dan praktis. Sementara bagi industri dan lingkungan, kami ingin membantu memperpanjang siklus hidup baterai EV sehingga mengurangi limbah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular di Indonesia,” ujar Tazkia.
Ke depan, tim berencana mengembangkan SparkGo melalui pilot project bersama mitra industri, memperkuat aspek teknis dan keamanan produk, serta memperluas kerja sama dengan penyedia baterai kendaraan listrik. Langkah tersebut diharapkan dapat membawa SparkGo dari tahap kompetisi menuju implementasi secara komersial.

Selama mengikuti kompetisi, pengalaman yang paling berkesan bagi tim adalah proses persiapan menuju malam pitching. Latihan dilakukan berulang kali hingga membangun kepercayaan diri mereka saat tampil di hadapan juri.
Bagi tim, kompetisi juga menjadi ruang untuk membangun jejaring. Mereka bertemu peserta dari berbagai daerah dan latar belakang, bertukar pandangan, serta saling mendukung selama rangkaian kegiatan berlangsung.


.png)





