Inovasi Tim Mahasiswa ITB: Sistem Hidrogen Hijau dari Emisi Karbon dan Limbah Panas Geothermal, Raih Prestasi Internasional
Oleh Azka Zahara Firdausa - Mahasiswa Rekayasa Hayati, 2022
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id — Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) lintas program studi, Tim Jawa-ra-santuy, yang terdiri dari Hanif Yusran Makarim (Rekayasa Pertanian), Muhammad Daffa Anrizky (Teknik Bioenergi dan Kemurgi), dan Bondan Attoriq (Teknik Metalurgi) berhasil menorehkan prestasi Juara 1 International Paper and Poster Competition Oil Week pada Minggu (02/11/2025). Kompetisi ini diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers Universitas Indonesia dan British Petroleum (BP), mengusung tema “Paving Pathways toward Net-Zero: Advancing Sustainable Practices in the Oil and Gas Industries”.
Dalam kompetisi ini, mereka mengusung karya yang berjudul “Smart Integration of Geothermal Brine and Carbon Emission in Microalgae-based Biogas Steam Reforming for Machine Learning-optimized Green Hydrogen Production.”
Karya ini berfokus pada pengembangan sistem produksi hidrogen dari emisi karbon yang dihasilkan kilang Plaju (Sumatera) melalui mikroalga sebagai bagian dari Carbon Capture and Utilization. Sistem ini memanfaatkan limbah panas buangan dari pembangkit geothermal (brine) sebagai sumber energi, agar proses produksi tidak hanya hijau secara mandiri (hidrogen saja), tetapi juga mengoptimalkan proses produksi geothermal eksisting supaya lebih ramah lingkungan.
Persiapan kompetisi ini tidak luput dari kendala, terutama kendala waktu. Berasal dari 3 program studi yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan jadwal akademik sehingga dapat menghambat pengerjaan paper, poster, dan pitch deck. Meski begitu, Hanif menjelaskan bahwa kendala ini dapat diselesaikan dengan komunikasi dan saling toleransi antar anggota.
“Bahkan di hari-H pengumpulan, aku dan Daffa ada uts hingga jam 5, untungnya masih kekejar. Cara menanggulanginya sebenernya sederhana, cukup dengan komunikasi terkait jadwal atau kendala, serta saling toleransi aja sih,” ungkap Hanif.
Tim Jawa-ra-santuy berharap karya ini dapat memberikan dampak nyata bagi kemajuan transisi energi dan ekonomi Indonesia. Penulisan karya ini dimulai ketika mereka mengambil salah satu mata kuliah Program Studi Teknik Biokemurgi (TB4014 – Daur Ulang dan Pemanfaatan Karbon Dioksida). Mereka menyadari bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara lain dalam pemanfaatan karbon, meskipun potensinya besar untuk memajukan berbagai sektor.
Hal yang sama juga berlaku untuk produksi hidrogen, yang sebenarnya sudah mulai diwacanakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) oleh PLN. Meski targetnya ditetapkan pasca-2040 agar Indonesia bisa bersaing secara global dalam bidang hidrogen dan karbon, saat ini masih sebatas wacana tanpa arah pengembangan yang jelas.
“Karya ini diharapkan dapat menjadi awal langkah konkret agar pengembangan hidrogen di Indonesia tidak hanya berhenti pada target, tetapi juga menjadi pijakan nyata untuk mengejar ketertinggalan di sektor energi, terutama dengan ketersediaan potensi bahan baku yang sangat besar di dalam negeri.” tutur Hanif.




.jpg)


