Pakar ITB Soroti Peluang Besar Industri Mobil Listrik di Indonesia
Oleh Anggun Nindita
Editor Anggun Nindita
Dok. Freepik
BANDUNG, itb.ac.id — Perkembangan mobil listrik di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan menjadi sinyal kuat bahwa transformasi menuju transportasi berkelanjutan sedang berlangsung.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, pakar dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus dosen dari Kelompok Keahlian (KK) Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr. Ir. Agus Purwadi, M.T., menyatakan pentingnya menjaga keseimbangan antara percepatan adopsi teknologi dan penguatan industri dalam negeri.
Beliau mengungkapkan bahwa saat ini sebagian besar mobil listrik yang beredar di Indonesia masih berasal dari impor. Bahkan, sekitar 60 persen kendaraan listrik di pasar nasional didominasi produk dari China.
Menurutnya, kondisi ini merupakan hal yang wajar pada tahap awal pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Namun, ke depan perlu strategi yang lebih terarah agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam industri ini.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun basis produksi lokal yang kuat, seperti yang telah dilakukan negara lain,” ujarnya.

Dok. STEI ITB
Agus menambahkan, pertumbuhan pasar mobil listrik yang pesat perlu diimbangi dengan penguatan sektor manufaktur domestik, termasuk peningkatan kandungan lokal (TKDN), investasi riset dan pengembangan (R&D), serta transfer teknologi.
Data menunjukkan bahwa sepanjang 2025, penjualan mobil listrik di Indonesia hampir mencapai 100 ribu unit. Dari jumlah tersebut, sekitar 61 persen merupakan kendaraan impor dalam bentuk utuh (CBU), sementara sisanya dirakit di dalam negeri.

Dok. Freepik
Meski demikian, upaya menuju kemandirian industri sebenarnya sudah mulai terlihat. Sejumlah produsen otomotif global telah berinvestasi dalam pembangunan fasilitas perakitan di Indonesia, yang menjadi langkah awal menuju ekosistem yang lebih terintegrasi.
Dr. Agus menilai bahwa kebijakan impor mobil listrik saat ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik. Namun, implementasinya perlu konsisten dengan target pengembangan industri nasional.
“Impor bisa menjadi pintu masuk untuk menarik investasi. Tapi pada tahap berikutnya, produksi lokal harus menjadi fokus utama agar manfaat ekonominya bisa dirasakan lebih luas,” jelasnya.
Lebih jauh, Indonesia dinilai memiliki keunggulan strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik global, terutama melalui sumber daya nikel yang melimpah sebagai bahan baku baterai. Potensi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen utama dalam industri kendaraan listrik dunia.
Dengan kebijakan yang adaptif dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta akademisi, pengembangan mobil listrik di Indonesia diyakini dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi nasional.
Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang membangun masa depan industri yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
.jpeg)




